Saat Kecepatan Memotret Bukan Masalah

Bagi pewarta foto, kecepatan dalam menangkap momen menjadi kunci saat bekerja di lapangan. Hadirnya kamera berkecepatan tinggi sangat membantu kerja fotografer.

18 Mar 2025 03:15 WIB · Foto

Oleh Iwan Setiyawan

Bagi pewarta foto, kecepatan dalam menangkap momen menjadi kunci saat bekerja di lapangan. Jika pada era kamera DSLR, kecepatan fokus  menjadi tantangan, di era kamera mirrorless dan hadirnya kamera dengan spesifikasi pemotretan cepat, maka kerja fotografer sangat amat terbantu.  

 Saat ini teknologi kamera digital sudah didominasi oleh kamera mirrorless yang menggantikan teknologi kamera DSLR. Banyak fotografer yang beralih ke kamera mirrorless karena dianggap lebih ringan, tetapi memiliki fitur-fitur yang makin lama makin canggih. Kalau di awal kemunculannya kamera mirrorless dianggap belum bisa menggantikan DSLR dalam hal kecepatan memotret, sekarang sudah berbalik. Teknologi mirrorless makin canggih dengan kecepatan merekam juga makin tinggi.

 Ada tiga nama besar pabrikan produsen kamera mirrorless yang kini terus mengembangkan teknologi pemotretan kecepatan tinggi, Canon, Nikon, dan Sony. Canon dan Nikon sudah sejak lama dikenal bersaing dalam menghadirkan kamera berkecepatan tinggi sesuai kebutuhan untuk jurnalis foto. Dari zaman analog hingga DSLR, kedua nama tersebut selalu bersaing ketat.

Fotografer olahraga biasa membawa 2 hingga 3 set kamera dengan berbagai lensa KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 13-01-2024

Namun, ketika era mirrorless datang, kedua nama di atas seakan terlena untuk mengembangkan produk mirrorless. Saat itulah muncul nama Sony yang cukup agresif di dunia mirrorless. Sony, yang juga punya sejarah panjang di dunia audio visual, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus mengembangkan teknologi mirrorless.

Sony kini juga mengincar pasar fotografer profesional yang membutuhkan kamera berkecepatan tinggi. Di tahun 2018, Sony meluncurkan kamera berkecepatan tinggi untuk jurnalis foto, Sony A9. Kamera ini diluncurkan menjelang pelaksanaan Asian Games 2018. Ajang olahraga terbesar di Asia itu sekaligus menjadi laboratorium percobaan bagi Sony untuk mengetes performa kameranya dengan mengajak sejumlah jurnalis foto untuk mencoba sekaligus mencari masukan.

Setahun berselang, Sony meluncurkan kamera A9 II yang merupakan penyempurnaan dari kamera A9 sebelumnya. Kamera ini diluncurkan sekaligus menyambut pelaksanaan Olimpiade Tokyo tahun 2020. Sony yang berasal dari Jepang memanfaatkan momentum Olimpiade untuk menandai keseriusan dalam memproduksi kamera berkecepatan tinggi.

 Setelah pada tahun 2021 merilis kamera A1 yang memiliki resolusi tinggi dan beberapa fitur cepat, Sony kembali menyempurnakan teknologi kecepatan tinggi dengan merilis kamera A9 III. Sony yang hingga tahun 2024 menguasai pangsa pasar kamera mirrorless global makin berani bersaing dalam menghadirkan kecepatan.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Kamera Sony A9 III yang rilis pada November 2023 juga memberi pilihan bagi fotografer yang membutuhkan kecepatan dalam menangkap momen. Dengan kemampuan merekam bingkai foto sebanyak 125 bingkai per detik, hampir mustahil momen yang bergerak cepat dan sesaat akan terlewatkan. Kompas pernah mencoba Sony A9 III untuk pemotretan Borobudur Marathon 2024. Kamera tersebut menunjukkan impresi yang kurang lebih sama: tinggal pencet terus tombol rananya dan ikuti obyeknya. Hasilnya: 99 persen fotonya tidak out of focus. Tentunya, pemotretan ini juga harus ditunjang oleh lensa yang juga cepat, seperti lensa 70-200 mm f/2, lensa 300 mm, dan 400 mm f/2.8, atau lensa sejenisnya.

Pada pemotretan di ajang lomba lari maraton, momen sigap yang perlu didapatkan dalam waktu sekejap adalah saat start dimulai. Posisi fotografer yang statis dan tidak bisa mengikuti laju pelari membuat pemotretan hanya dapat dilakukan dalam waktu beberapa detik saja sebelum para pelari melintas. Dengan menggunakan kamera Sony A9 III yang diatur dalam mode pemotretan 25 frame per detik (fps), diperoleh foto sebanyak 101 bingkai foto dalam rentang 4 detik pertama setelah start. Dengan jumlah foto sebanyak itu, foto start bisa dibilang sangat aman, tinggal dipilih mana bingkai yang terbaik.

Adegan di finis lomba lari maraton juga menjadi momen dramatis yang harus sesegera mungkin difoto. Para pelari umumnya menunjukkan ekspresi saat melintasi garis finish. Dalam kondisi ini, fotografer harus sigap melihat momen dan memberondongnya sesegera mungkin, karena momen ekspresi terbaik pelari hanya muncul sepersekian detik. Dengan teknologi fokus yang cepat, perpindahan jarak fokus dari obyek satu ke obyek yang lain didapat dengan reaksi yang cepat sehingga meminimalis foto yang out of focus.

Seorang pelari menyiramkan air ke badannya saat berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024).  Foto diambil dengan kamera Sony A9 III.
Ekspresi pelari saat finis di Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Foto diambil dengan kamera Sony A9 III.
Start Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Foto diambil dengan kamera Sony A9 III.
Pelari berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon, Minggu (1/12/2024). Foto diambil dengan kamera Sony A9 III.
Pelari melintasi kegelapan saat berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Foto diambil dengan kamera Sony A9 III.
Pelari mengambil minum saat berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon, Minggu (1/12/2024). Foto diambil dengan kamera Sony A9 III.
Pelari mengenakan konstum unik saat berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024).  Foto diambil dengan kamera Sony A9 III.

Sementara itu, Canon yang sebelumnya terkesan lambat dalam pengembangan kamera mirrorless juga tak mau ketinggalan. Sebagai jawaban atas kebutuhan fotografer akan kamera berkecepatan tinggi, Canon merilis kamera mirrorless EOS R1 di pertengahan tahun 2024. Peluncuran ini sekaligus menyambut pelaksanaan Olimpiade Paris 2024.

Hadirnya Canon EOS R1 ini merupakan kamera mirrorless yang dianggap sebagai penerus kamera DSLR andalan Canon, yaitu EOS-1DX Mark III yang dikenal tangguh dan cepat. EOS R1 diharapkan menjadi mirrorless pengganti bagi fotografer profesional dan jurnalis foto yang selama ini menjadi pengguna DSLR Canon.

Dengan desain yang ergonomis seperti seri DSLR, kamera R1 ini sangat nyaman dipegang. Apalagi bobot kamera mirrorless yang selalu lebih ringan dibandingkan DSLR, membuatnya lebih mudah dioperasikan. Selayaknya kamera seri professional, R1 dilengkapi dengan grip vertikal yang menyatu di badan kamera sehingga memudahkan fotografer yang akan mengubah format pemotretan dari horizontal ke vertikal tanpa harus memutar tangan.

Canon R1 memiliki sistem autofocus (AF) canggih yang disebut Dual Pixel Intelligent AF. Kamera ini merupakan kamera pertama di seri R Canon yang menggunakan titik AF tipe silang. Ini berarti kamera memiliki deteksi garis vertikal dan horizontal untuk fokus yang lebih cepat dan akurat. Teknologi ini memastikan kinerja AF pada kondisi kontras cahaya rendah sehingga lebih mudah mempertahankan fokus pada subjek yang bergerak cepat.

Salah satu fitur unggulan yang disediakan adalah pilihan prioritas aksi yang dapat diatur sesuai momen olahraga yang kita potret. Di awal ada tiga pilihan aksi, yaitu sepak bola, basket, dan bola voli. Namun, ke depannya tak menutup kemungkinan akan ada lebih banyak pilihan aksi olahraga, seperti balap sepeda, balam motor, bahkan balap mobil. Dengan fitur prioritas aksi ini, fokus kamera akan mencari aksi atlet yang paling signifikan dalam permainan dan fokus akan mengikuti atlet, bukan hanya bola.

Kamera CaNon EOS R1 KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 08-03-2025

Kompas mendapatkan kesempatan mencoba kamera ini untuk memotret pertandingan basket pada Indonesia Basketball League (IBL) antara Satria Muda Pertamina melawan Pelita Jaya Jakarta. Pertandingan digelar di Britama Arena di Mahaka Square, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025). Fitur prioritas aksi pada kamera R1 pun diatur pada pilihan basket.

Saat mencoba disertai lensa 28-70 mm f/2,8 dan lensa 70-200 mm f/2,8, untuk memotret pertandingan basket dalam ruangan arena tertutup. Kecanggihan fitur fokus otomatisnya sangat terasa. Dengan kondisi kontras cahaya di dalam arena yang tidak merata, semua teratasi dengan adanya teknologi titik AF tipe silang.

Momen pada pertandingan basket yang lebih banyak terjadi di sekitar ring, membutuhkan kejelian dan kecepatan dalam merekam. Apalagi pergerakan pemain dalam basket yang cenderung lebih sempit hanya di sekitar ring dan penumpukan beberapa pemain. Fitur prioritas aksi yang sudah diatur ke menu basket sangat membantu sekali. Dan, dengan adanya grip vertikal sangat memudahkan memotret format vertikal. Pada pertandingan basket, foto format vertikal akan lebih mendominasi karena pergerakan pemain yang cenderung berdekatan.

Kamera ini memiliki kecepatan berkelanjutan hingga 40 bingkai per detik tanpa adanya black out. Dengan kombinasi kecepatan fokus otomatis dan kecepatan mode berkelanjutan yang tinggi, maka kita bisa mendapatkan hampir semua foto terekam tajam dan beku. Tinggal menekan tombol rana, bisa dipastikan semua fotonya fokus dan tajam. 

Pemain Pelita Jaya Jakarta, Jaquori Mclaughlin (tengah), hilang keseimbangan saat melawan Satria Muda Pertamina pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.
Pemain Satria Muda Pertamina, Le'Bryan Nash (kiri), lepas dari hadanganan pemain Pelita Jaya Jakarta, Vincent Kosasih, pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.
Ekspresi Pelatih Satria Muda Pertamina Youbel Sondakh saat melawan Pelita Jaya Jakarta pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.
Pemain Satria Muda Pertamina, Le'Bryan Nash, menembakkan bola ke ring Pelita Jaya Jakarta pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.
Pemain Satria Muda Pertamina, Le'Bryan Nash (kanan), menembakkan bola ke ring Pelita Jaya Jakarta pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.
Pemain Satria Muda Pertamina, Randy Bell (kiri), menghadang pemain Pelita Jaya Jakart, Kevin Mc Daniels, pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.
Pelatih Satria Muda Pertamina, Youbel Sondakh, memprotes wasit setelah Avan Seputra dijatuhkan pemain Pelita Jaya Jakarta pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.
Pemain Satria Muda Pertamina, Le'Bryan Nash (tengah), mencoba memasukkan bola ke ring Pelita Jaya Jakarta pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.
Pemain Satria Muda Pertamina, Avan Seputra (kanan), menerobos penjagaan pemin Pelita Jaya Jakarta, Brandon Jawato, pada pertandingan IBL 2025 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (8/3/2025) malam. Foto diambil dengan kamera Canon EOS R1.

Teknologi mirrorless yang senyap karena tidak ada gerakan cermin pemantul, membuat fotografer tak akan merasakan sensasi suara  ”cekrek” saat memotret. Hasilnya adalah saat kita memencet tombol dengan pengaturan berkelanjutan, tanpa terduga sudah puluhan bingkai foto terekam. Dan, kita pun dibuat bingung harus memilih bingkai mana dari sekian puluh bingkai dengan kulitas foto sempurna.

Dua kamera mirrorless profesional Sony A9 III dan Canon EOS R1 menjadi pilihan terbaik bagi fotografer yang banyak mendokumentasikan olahraga. Tentuanya kinerja kedua kamera tersebut akan semakin sempurna jika didukung oleh lensa berkualitas tinggi.

Bagi jurnalis atau fotografer olahraga, menangkap momen-momen penting di lokasi yang berbeda dan dalam waktu yang cepat adalah sebuah kebutuhan utama. Apalagi momen olahraga yang semuanya serba cepat. Hadirnya kamera digital dengan sensor perekam dan kemampuan rana berkecepatan tinggi menjawab kebutuhan itu.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Setiyawan
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro