Saat Kedai Kopi Jadi Oase bagi Penyintas Bencana di Aceh

Sejumlah kedai kopi di Banda Aceh tetap beroperasi demi melayani kebutuhan warga untuk tetap produktif di tengah situasi serba krisis.

19 Des 2025 14:46 WIB · Lingkungan

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Oleh Adrian Fajriansyah, Irma Tambunan

Di saat gelap gulita melanda kota akibat krisis listrik pascabencana, kedai kopi menjadi oase bagi masyarakat di Aceh. Sejumlah kedai tetap buka demi melayani para penyintas. Mereka memanfaatkan genset untuk penerangan dan kayu bakar untuk memasak.

Pengajar dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Izarul Machdar, menceritakan selama tiga pekan aktivitas di kampus tak berjalan dengan baik. Masa ujian akhir semester di kampus terganggu akibat krisis listrik dan jaringan internet. Para dosen pun kesulitan membuat laporan.

”Hampir sepanjang hari listrik padam, kami sampai kesusahan mengerjakan tugas hingga berkomunikasi,” ujarnya, Kamis (18/12/2025).

Memang, bencana tidak langsung melanda Kota Banda Aceh. Namun, dampak masifnya turut menerjang hingga kota itu. Masyarakat ikut menjadi korban karena krisis listrik melanda, jaringan internet mati, serta pasokan elpiji dan air bersih langka.

Di rumahnya, bahan makanan yang masih tersisa tidak bisa dimasak karena elpiji habis. Stok elpiji pun tidak ada di mana-mana di kota itu.

Untuk mengisi perut dan menyelesaikan pekerjaan kampus, ia pun mendatangi kedai kopi dekat rumahnya. Di sana tersedia listrik dan Wi-Fi karena pihak kedai menyalakan genset. ”Untung saja beberapa kedai kopi tetap buka. Saya jadi bisa ngecas ponsel, laptop, dan mengisi baterai lampu senter,” katanya.

Warga memenuhi warung kopi untuk mencari listrik saat listrik padam di Takengon, Aceh Tengah, Aceh, Senin (15/12/2025) malam. Akses menuju Takengon yang masih terputus membuat wilayah ini kekurangan logistik. Saat ini, satu karung beras seberat 15 kilogram dijual dengan harga Rp 400.000 dan harga bensin berada di kisaran Rp 30.000 per liter.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
15-12-2025

Mahasiswa semester lima Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Ahyar (20), juga terpaksa mencari kedai kopi untuk mengecas peralatan elektronik dan mendapatkan jaringan internet Wi-Fi. Dalam sehari, kedai menyalakan genset delapan jam. Saat-saat itulah ia manfaatkan untuk produktif di belakang layar laptop.

Dengan listrik dan internet yang tersedia tersebut, Ahyar bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen. Salah satunya tugas membuat laporan praktikum ilmu ukur tanah. ”Tugas buat laporan itu harus dilakukan di laptop, untuk mengetik laporan ataupun memasukkan data dalam software khusus. Saya juga harus mencari bahan referensi dari jurnal yang diakses dengan internet,” ujarnya.

Selama terjadi gangguan listrik, kata Ahyar, dirinya hanya pulang sebentar untuk tidur di tempat kosnya di Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar. Sebagian besar waktunya dihabiskan di kedai untuk mengerjakan tugas-tugas.

Quote

Untung saja beberapa kedai kopi tetap buka. Saya jadi bisa ngecas ponsel, laptop, dan mengisi baterai lampu senter.

Memang, harga kopi menjadi sedikit lebih mahal selama pascabencana ini. Secangkir kopi hitam menjadi Rp 6.000-Rp 7.000 dari sebelumnya Rp 5.000. Begitu pula seporsi nasi dan lauk naik menjadi Rp 15.000 dari sebelumnya Rp 10.000.

Pengeluaran Ahyar pun bertambah dari biasanya hanya Rp 20.000 sehari untuk nongkrong sekitar 3 jam di warung kopi menjadi Rp 50.000-Rp 100.000 per hari untuk berada di warung kopi hampir seharian. Namun, baginya, hal itu dapat dimaklumi, yang penting tetap bisa produktif di tengah situasi tak pasti.

Suasana warga bekerja dengan memanfaatkan listrik dan jaringan internet Wi-Fi yang disediakan dengan mesin genset di Warung Kopi Sirnagalih di kawasan Batoh, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh, Rabu (17/12/2025).
Suasana warga bekerja dengan memanfaatkan listrik dan jaringan internet Wi-Fi yang disediakan dengan mesin genset di Warung Kopi Sirnagalih di kawasan Batoh, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh, Rabu (17/12/2025).
Suasana warga bekerja dengan memanfaatkan listrik dan jaringan internet Wi-Fi yang disediakan dengan mesin genset di Warung Kopi Sirnagalih di kawasan Batoh, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh, Rabu (17/12/2025).

Kenaikan harga pun terpaksa dilakukan para pemilik kedai kopi demi tetap bertahan. Mereka perlu menutupi tambahan biaya operasional membeli bahan bakar minyak (BBM) guna menyalakan genset.

Bukan hanya untuk dosen, mahasiswa, dan pelajar, warung kopi yang dilengkapi genset pun menjadi oasis para pekerja kantoran selama krisis listrik berlangsung. Salah satunya dilakukan oleh pekerja media asal Baiturrahman, Banda Aceh, Hendra (43).

Selepas liputan, ia tak lantas ke kantor untuk menulis berita dan mengedit video. Hendra memilih berada di warung kopi yang memiliki genset. Yang penting baginya dapat memanfaatkan listrik guna mengecas laptop, ponsel, dan kamera, serta memanfaatkan internet Wi-Fi untuk mengirim laporan setiap hari.

Kondisi itu mengharuskan Hendra mengeluarkan uang ekstra untuk membeli kopi lebih banyak karena berada di kedai itu lebih lama. ”Kalau hanya pesan satu cangkir kopi, saya tidak enak karena berada di warung lebih lama,” katanya.

Suasana padam listrik total di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu (14/12/2025).

Dilema warung kopi

Dalam situasi pascabencana, pengelola kedai kopi di Banda Aceh dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, mereka harus mengeluarkan biaya operasional ekstra untuk tetap menyalakan listrik agar pengunjung tidak sepi. Di sisi lainnya, mereka tidak bisa menaikkan harga tinggi karena khawatir memberatkan pelanggan.

Pengelola Warung Kopi Sirnagalih di kawasan Batoh, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Reza (39), mengatakan, dirinya pontang-panting mengelola usahanya selama listrik terganggu. Dirinya harus menyalakan genset demi tetap menyediakan listrik di tempat usahanya tersebut.

”Kalau listrik tidak nyala, operasionalisasi terganggu, sebab listrik dibutuhkan untuk menyalakan colokan listrik, lampu, dan Wi-Fi. Kalau semua itu tidak nyala, pengunjung sepi karena banyak konsumen nongkrong sambil kerja,” tuturnya.

Pemilik warung kopi masak air menggunakan kayu bakar akibat kelangkaan gas LPG ekses bencana ekologis yang melanda Aceh beberapa waktu lalu di kawasan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Aceh, Selasa (16/12/2025).

Secara detail, Reza harus mengeluarkan biaya operasional dua kali lipat daripada biasanya. Biaya tersebut dipakai untuk membeli BBM jenis Pertamax mencapai 16 liter senilai Rp 200.000 guna menyalakan genset dalam sehari. Bebannya bertambah karena harus membeli alternatif elpiji yang langka, meliputi kayu bakar sekitar Rp 60.000 untuk dua hari atau minyak tanah 3 liter senilai Rp 60.000 per hari.

Quote

Ini sangat mengkhawatirkan dunia usaha kopi yang sebenarnya ikon wisata dan perekonomian Aceh.

Hal itu membuat omzet warung kopi yang dikelola Reza merosot hingga 50 persen. Pasalnya, dia memutuskan tidak menaikkan harga kopi atau minuman yang dijual. ”Kalau harga dinaikkan, itu akan memberatkan pelanggan yang berujung pelanggan sepi. Lagi pula, pelanggan juga sedang mengalami kesulitan,” ujarnya.

Kendati demikian, tidak semua warung kopi atau UMKM lainnya bisa bertahan selama listrik terganggu. Banyak pula warung kopi dan rumah makan yang memilih tutup. Itu karena ada pengusaha yang tidak memiliki genset, tidak dapat elpiji, hingga kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku.

Reza menerangkan, bahan baku kopi mulai naik juga berkisar 20-30 persen, sementara stok kopi di tempatnya semakin menipis, khususnya jenis Arabika. Hal itu disebabkan tersendatnya pasokan kopi dari daerah penghasil utama yang berada di wilayah tengah atau pegunungan Aceh, meliputi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Pasokan tersendat dipicu akses darat masih lumpuh.

Ke depan, bukan tidak mungkin terjadi kelangkaan kopi Arabika karena banyak kebun yang rusak di tiga kabupaten/kota penghasil utama tersebut. ”Ini sangat mengkhawatirkan dunia usaha kopi yang sebenarnya ikon wisata dan perekonomian Aceh,” katanya.

Kebun kopi di Bukit Sama, Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh, Kamis (18/12/2025). Industri kopi gayo di Aceh Tengah turut terdampak bencana karena sebagian kebun kopi terkena longsor. Selain itu, para pengusaha kopi juga terhambat dalam mengirimkan biji kopi keluar wilayah Aceh Tengah karena akses darat masih terputus.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
18-12-2025

Data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh menyebutkan per Kamis pukul 21.00 WIB, sedikitnya ada 12.000 hektar kebun kopi di wilayah tengah Aceh yang hancur karena diterjang longsor. Jumlah kebun kopi yang rusak sekitar 50 persen dari total 23.721 hektar kebun yang hancur akibat bencana kali ini.

Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh Murthalamuddin menuturkan, dampak bencana sangat memukul perekonomian Aceh, terlebih di sektor UMKM. Padahal, selama ini, UMKM menjadi penggerak atau tulang punggung utama ekonomi Aceh.

Selama tiga pekan pascabencana, para pakar memperkirakan, perekonomian Aceh merosot hingga 50 persen. Nilai kerugiannya disinyalir triliunan rupiah.

”Tapi, data persisnya masih dihitung karena dampaknya sangat besar dan tersebar di banyak tempat. Lagi pula, tim di lapangan masih disibukkan pendataan jumlah korban jiwa, korban hilang, dan luka-luka, serta penanganan tanggap darurat berupa pendistribusian bantuan,” tuturnya.

Murthalamuddin mengutarakan, penyebab terpukulnya perekonomian Aceh ialah efek domino terputusnya sejumlah akses jalan darat. Hingga Kamis pukul 21.00 WIB tercatat ada 521 titik jalan dan 425 jembatan yang putus, termasuk di jalan nasional Banda Aceh-Medan dan sejumlah jalan penghubung antarkabupaten/kota di Aceh.

Dampak itu sangat mengganggu pasokan beras, sayur-mayur, dan buah-buahan, seperti kopi, yang disuplai dari wilayah pesisir timur ataupun wilayah tengah Aceh. Situasi diperburuk dengan banyak sekali lahan penghasil komoditas pokok yang rusak.

Hingga Kamis malam, terdata ada 89.337 hektar sawah, 23.721 hektar kebun, dan 39.426 hektar tambak yang rusak hingga tidak bisa dimanfaatkan lagi. Ada pula 253.280 ekor ternak warga yang mati.

Belum lagi, ada ratusan hingga ribuan kendaraan pribadi dan niaga yang rusak ataupun hilang. Mayoritas dari kendaraan itu, baik sepeda motor maupun mobil, turut diterjang banjir bandang ataupun longsor.

Karena itu, Murthalamuddin memperkirakan, Aceh akan mengalami bencana atau krisis ekonomi kalau tidak segera ada penanganan atau pemulihan dampak bencana yang komprehensif. ”Kalau tidak ditangani dengan cepat dan tepat, perekonomian Aceh akan mengalami kemunduran. Itu akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari,” ujarnya.

Pesan untuk Presiden Prabowo Subianto di permukiman yang hancur diterjang banjir dan tanah longsor di Kampung Jongok Meluem, Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh, Rabu (17/12/2025). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 18 Desember 2025, banjir dan tanah longsor di Aceh Tengah menyebabkan 4.133 rumah rusak, sekitar 12.200 jiwa harus mengungsi, 24 jiwa meninggal dunia, dan 4 jiwa masih hilang.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
18-12-2025

Aktivis lingkungan dari Sumatera Enviromental Initiative Aditia Miladul Mubarrak menyampaikan, penanganan dampak bencana yang lambat dan jauh dari kata ideal telah memukul setiap sendi kehidupan masyarakat Aceh. Fenomena itu membuat dampak bencana tidak hanya dirasakan oleh warga di wilayah terdampak, tetapi oleh semua warga yang berada di lokasi yang tidak terdampak, seperti Banda Aceh.

Tak heran, perekonomian lumpuh karena aktivitas sehari-hari terganggu. ”Dalam waktu panjang, permasalahan itu akan menimbulkan bencana lanjutan, mulai dari krisis ekonomi, masalah sosial, hingga tak tertutup kemungkinan konflik sosial,” katanya.

Warung kopi yang menjelma sebagai tempat kerja sejatinya bukti nyata bahwa dampak bencana sangat signifikan terhadap masyarakat. Kalau terus berkepanjangan, bukan tidak mungkin dampaknya akan semakin melebar


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah, Irma Tambunan
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji