Indonesia meraih perunggu dari nomor beregu putri bulu tangkis Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Namun, atlet-atlet putri itu gagal dalam persaingan perseorangan.
26 Sep 2026 21:14 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
ICHINOMIYA, SABTU — Atlet bulu tangkis tunggal dan ganda putri Indonesia mengawali persaingan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan menjadi salah satu dari empat tim terbaik pada nomor beregu putri. Akan tetapi, ketika tiba saatnya tampil sendiri-sendiri dalam nomor perseorangan, mereka kalah bersaing dengan lawan.
Dari dua wakil tunggal dan dua ganda, tak ada satu pun yang lolos ke perempat final. Hasil ini bertolak belakang dengan hasil pada nomor beregu yang pertandingannya berlangsung 20-24 September.
Persaingan beregu putri menggunakan format yang sama seperti Piala Uber. Setiap tim harus menyiapkan tiga pemain tunggal dan dua ganda. Indonesia mengalahkan Mongolia 3-0 pada babak pertama, lalu menang atas Taiwan (3-1) di perempat final, dan kalah 0-3 dari China di semifinal. Saat tampil di beregu, setiap pemain mendapat dukungan langsung dari semua anggota tim yang duduk di belakang lapangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/26/be53e4e11d4956f93a04d0b041f90e2f-WhatsApp_Image_2026_09_26_at_16.31.37.jpeg)
Situasi tersebut berbeda dengan persaingan perseorangan, atlet hanya didampingi pelatih tanpa adanya dukungan teman satu tim di dekat mereka. Dalam persaingan dengan atmosfer seperti ini, Putri Kusuma Wardani dan kawan-kawan tersingkir dengan cepat.
Dari lima nomor yang diikuti, Indonesia pun kehabisan wakil pada nomor tunggal dan ganda putri sebelum fase perempat final.
Putri, yang diharapkan mendapat medali, kalah dari pemain India, Unnati Hooda, pada babak ketiga di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Ichinomiya, Aichi, Jepang, Sabtu (26/9/2026). Putri kalah dengan skor 19-21, 13-21 setelah menang mudah atas atlet Mahoor Shahzad (Pakistan) 21-5, 21-11 di babak kedua pada hari yang sama. Seperti pemain-pemain lain di sektor tunggal, Putri menjalani dua babak dalam satu hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/26/3313d17c8e0018e15bf903254158070a-WhatsApp_Image_2026_09_26_at_16.31.11.jpeg)
”Adiknya” di pelatnas, Thalita Ramadhani Wiryawan, tersingkir lebih cepat, yaitu pada babak kedua, ketika berhadapan dengan Nguyen Thuy Linh 15-21, 10-21.
”Saya kecewa hari ini tidak bisa menang dan tidak puas juga dengan mainnya. Unnati baru selesai tanding melawan Wong Ling Ching dengan rubber game ketat, harusnya saya lebih siap. Dibanding pertemuan sebelumnya (semifinal Hylo Terbuka 2025), dia mempercepat tempo permainan dan saya kebingungan untuk meladeni relinya,” kata Putri yang gagal mencapai targetnya lolos ke semifinal.
Putri, yang mencapai semifinal Jepang Terbuka Super 750 pada pertengahan Juli, tak bisa mengeluarkan performa terbaik sejak saat itu. Dia kalah pada perempat final China Terbuka dan babak ketiga Kejuaraan Dunia. Padahal, di panggung Kejuaraan Dunia yang berlangsung di New Delhi, India, 17-23 Agustus, Putri membawa harapan besar setelah mencapai semifinal ajang yang sama setahun sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/26/89068abc75a30d60c0eb48939602b48a-WhatsApp_Image_2026_09_26_at_18.46.19.jpeg)
Seusai tampil di India, tunggal putri ranking keenam dunia itu memiliki waktu sekitar tiga pekan guna bersiap untuk Asian Games. Bersama sebagian besar skuad pelatnas, Putri absen di China Masters, pada pekan pertama September, agar bisa tampil maksimal di Aichi-Nagoya 2026.
Persiapan serupa dilakukan ganda putri, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari dan Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum. Namun, mereka pun gagal melangkah ke perempat final. Febriana/Meilysa hanya bisa memaksa juara dunia, Lee So-hee/Baek Ha-na (Korea Selatan), bermain tiga gim dan kalah dengan skor 16-21, 21-15, 9-21 pada babak kedua, Sabtu. Sehari sebelumnya, Rachel/Febi disingkirkan Pearly Tan/Thinaah Muralitharan (Malaysia) pada babak pertama.
Tanpa wakil tersisa di tunggal dan ganda putri, Indonesia menyimpan harapan pada atlet tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran yang akan tampil di perempat final, Minggu. Mereka adalah Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin Alwi Farhan, dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Jonatan Christie, yang bermain pada babak ketiga pada Sabtu tengah malam, juga, memiliki peluang menyusul rekan-rekannya ke perempat final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/26/420d20bf53dd077390ea493530513050-WhatsApp_Image_2026_09_26_at_14.58.15.jpeg)
Pada babak kedua yang berlangsung Sabtu, Leo/Daniel mengalahkan Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul (Thailand) 21-8, 24-22. Lawan Leo/Daniel tersebut adalah pasangan yang sering mempersulit pasangan top dunia, bahkan mengalahkannya, meski hanya menempati ranking ke-36 dunia. Pada babak pertama, Sukphun/Teeraratsakul menyingkirkan ganda putra ranking kelima dunia yang merupakan peraih emas Asian Games Hangzhou 2022, Chirag Shetty/Satwiksairaj Rankireddy (India).
”Puji Tuhan, kami bersyukur bisa menang. Memang di gim kedua, setelah unggul 10-2, kami agak lengah dan teburu-buru, jadi malah panik sendiri. Harusnya itu tidak boleh terjadi. Setelah kemenangan ini, kami tidak boleh jemawa dulu karena besok harus lebih siap lagi,” komentar Daniel.
Di perempat final, Leo/Daniel akan berhadapan dengan Nguyen Dinh Hoang/Tran Dinh Manh (Vietnam). Kemenangan pada perempat final akan mengantarkan setiap pemain meraih medali karena bulu tangkis menyediakan dua perunggu untuk mereka yang sampai pada tahap semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/24/00ce0166e01d7b27efd2767cfd53878a-WhatsApp_Image_2026_09_24_at_18.45.20.jpeg)
Sementara itu, setelah mengalahkan Cheung Sai Shing/Deng Chi Fai (Hong Kong), Fajar/Fikri akan menghadapi lawan berat asal Korea Selatan, Kang Min-hyuk/Ki Dong-ju. Pada tiga pertemuan di tahun ini, dua laga berlangsung dalam tiga gim dan Fajar/Fikri unggul 2-1.
Di tunggal putra, Alwi akan berhadapan dengan pemain senior Taiwan, Chou Tien Chen, setelah menang atas Leong Jun Hao (Malaysia) 21-16, 21-11, pada babak ketiga.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul