Saat Trump ke Timur Tengah, Serangan Israel di Gaza Tetap Membabi Buta

Ada harapan kunjungan Trump di kawasan dapat mengurangi kekerasan, mendorong kesepakatan gencatan senjata lanjutan, atau memperpanjang bantuan kemanusiaan ke Gaza.

15 Mei 2025 14:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

GAZA, KAMIS — Saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkunjung ke Timur Tengah, Israel terus melancarkan serangan membabi buta. Otoritas sipil dan kesehatan Gaza, Kamis (15/5/2025), mengatakan, lebih dari 54 warga sipil tewas akibat serangan udara Israel. Serangan itu menghantam Khan Younis.

Dalam serangan sebelumnya, lebih dari 70 warga sipil, sebagian di antaranya anak-anak, tewas dalam serangan di Gaza utara dan selatan. Di Jabaliya, Gaza utara, petugas penyelamat menghancurkan lempengan beton yang runtuh menggunakan peralatan tangan dengan cahaya ponsel sebagai penerangan untuk mengeluarkan jasad anak-anak.

”Serangan yang terus berlanjut mengindikasikan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ingin meningkatkan agresi dan pembantaian terhadap warga sipil untuk melemahkan upaya (gencatan senjata) tersebut,” kata Hamas, Rabu lalu.

Israel menolak berkomentar mengenai serangan itu. Selama ini, Israel balik menyalahkan Hamas atas perang yang terus berlanjut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sebelum berpose untuk foto keluarga dengan para pemimpin Teluk selama pertemuan enam negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (14/5/2025). Trump sedang melawat ke Timur Tengah, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, selama 13-16 Mei 2025.

Serangan itu terjadi ketika Trump sedang melawat ke Timur Tengah, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, selama 13-16 Mei 2025. Trump tidak berkunjung ke Israel.

Ada harapan kunjungan Trump di kawasan itu dapat mengurangi kekerasan, mendorong kesepakatan gencatan senjata lanjutan, atau memperpanjang bantuan kemanusiaan ke Gaza. Blokade Israel terhadap Gaza telah berlangsung selama tiga bulan.

Hamas juga telah merilis sandera Israel-Amerika bernama Edan Alexander, Senin (12/5/2025). Alexander adalah sandera Amerika terakhir yang diketahui masih hidup. Pembebasannya dapat menjadi dasar kelanjutan gencatan senjata yang telah terhenti beserta pembebasan sandera lain.

Serangan itu juga terjadi menjelang peringatan Nakba yang ke-77 tahun. Peringatan Nakba, berarti malapetaka dalam bahasa Arab, biasanya terjadi pada 15 Mei. Nakba adalah pengusiran massal warga Palestina dalam perang Arab-Israel tahun 1948. Warga Palestina masih mengalami trauma atas peristiwa ini.

Serangan lanjutan

Dalam pernyataan kantor PM Netanyahu, Selasa (13/5/2025), Netanyahu mengatakan, pasukan Israel tinggal menghitung hari sebelum eskalasi kekuatan. Israel akan memasuki Gaza ”dengan kekuatan besar untuk menyelesaikan misi. Itu berarti menghancurkan Hamas”.

Serangan pada hari Rabu itu melanjutkan serangan mematikan lain yang dilakukan Israel sehari sebelumnya. Selasa lalu, Times of Israel melaporkan, militer Israel menyerang kawasan seputar dua rumah sakit, yakni Rumah Sakit Eropa dan Rumah Sakit Nasser, untuk mengincar salah seorang tokoh Hamas, Muhammad Sinwar.

Sinwar adalah adik dari mendiang pemimpin Hamas, Yahya Sinwa. Dia diyakini sebagai pemimpin militer tertinggi Hamas di Gaza. Israel telah mencoba membunuhnya beberapa kali selama beberapa dekade terakhir.

Warga Palestina memeriksa lokasi serangan Israel di Jabaliya, Jalur Gaza utara, Rabu (14/5/2025). Badan Pertahanan Sipil Gaza mengatakan, sedikitnya 29 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan Israel di wilayah Palestina yang dilanda perang pada 14 Mei.

Pada Selasa malam, Jihad Islam, sekutu Hamas yang didukung Iran, menembakkan roket dari Gaza ke Israel. Sebelum Israel membalas, militernya mengeluarkan perintah evakuasi kepada penduduk di daerah Jabaliya dan Beit Lahiya yang menjadi sasaran pada serangan terbaru itu.

Media Israel, Rabu (14/5/2025), memberitakan, pejabat keamanan meyakini Sinwar dan pejabat senior Hamas lain telah tewas. Namun, tidak ada konfirmasi dari militer Israel atau Hamas.

Perang Hamas-Israel berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Gencatan senjata terjadi mulai 19 Januari 2025 sampai beberapa bulan. Menurut pejabat kesehatan Gaza, operasi militer Israel telah menewaskan lebih dari 52.900 warga Palestina. Gaza juga berada di ambang kelaparan.

Konflik Sudan

Di Sudan, Afrika Utara, perang sipil juga bereskalasi. Sejak April 2023, angkatan bersenjata yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan melawan pasukan dukungan cepat (rapid support forces/RSF) yang dipimpin mantan wakilnya, Mohamed Hamdan Daglo.

Konflik tersebut secara efektif telah membelah negara menjadi dua. Tentara menguasai wilayah utara, timur, dan tengah, sedangkan RSF mendominasi hampir seluruh Darfur dan bagian selatan. Alhasil, Sudan mengalami salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Pada Rabu (14/5/2025), perang tersebut mengancam keselamatan warga. ”Truk air yang didukung Unicef di kompleks rumah sakit Saudi, El-Fasher, dihancurkan oleh tembakan artileri sehingga mengganggu akses ke air bersih bagi sekitar 1.000 pasien yang sakit parah,” kata Unicef.

Orang-orang yang melarikan diri dari kamp pengungsi Zamzam, setelah kamp itu jatuh di bawah kendali Pasukan Dukungan Cepat (RSF), mengantre untuk mendapatkan jatah makanan di perkemahan darurat di lapangan terbuka dekat kota Tawila, Darfur barat, Sudan, pada 13 April 2025. Sejak April 2023, Sudan telah terkunci dalam perang saudara brutal antara tentara dan RSF. Kamp Zamzam pernah menjadi salah satu kamp pengungsian terbesar di Sudan.

Unicef meminta semua pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional. Semua serangan terhadap atau di dekat infrastruktur sipil yang kritis harus berhenti, tambahnya.

Pada April 2025, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) memperkirakan, 70-80 persen fasilitas kesehatan di daerah terdampak konflik di Sudan sehingga tidak berfungsi. Wilayah El-Fasher adalah contoh utamanya.

Perang sipil di Sudan telah menewaskan puluhan ribu orang. Sebanyak 13 juta orang mengungsi, termasuk 5,6 juta orang di Darfur. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti