Kecelakaan Kapal

Saat Virgo Terbalik Tanpa Tanda, Doa dan Teriakan Pecah di Laut Jawa

KMP Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa. Dalam gelap, penumpang berebut pelampung dan sekoci, sementara doa dan teriakan pecah di tengah kepanikan.

16 Sep 2026 10:18 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Oleh Defri Werdiono

Asbak jatuh dari meja, kursi-kursi ikut roboh, lalu terdengar bunyi keras dari lambung kapal. Dalam hitungan menit, KMP Virgo Transport 8 semakin miring. Lampu padam, teriakan pecah, dan doa-doa bersahutan di tengah gelap Laut Jawa. Para penumpang berhamburan mencari pelampung dan sekoci, berjuang menyelamatkan diri sebelum kapal benar-benar terbalik.

Detik-detik terbaliknya Kapal Motor Penumpang Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026), itu terekam jelas di benak sejumlah penumpang yang selamat. Bagaimana kepanikan, doa, dan teriakan minta tolong terjadi.

Ditemui di ruang tunggu Terminal Penumpang Bandarmasih di kawasan Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (15/9/2026) sore, Faisal (26) masih lancar menceritakan kronologi yang dia alami.

Pemuda itu tidak mengira perjalanannya dari kampung halaman di Bandung, Jawa Barat, untuk bisa bekerja di perkebunan sawit di Kalimantan Tengah pupus oleh insiden terbaliknya bahtera yang dia naiki. Lima dari 16 kawannya hingga kini belum diketahui nasibnya.

”Yang selamat 11 orang. Yang lima masih hilang, belum diketahui keberadaannya, termasuk yang sempat berusaha mengambil tas saat kapal sudah miring,” ujarnya.

Faisal menuturkan, dirinya dan rekan-rekannya berangkat dari Bandung, Rabu (9/9/2026), melalui Semarang, Jawa Tengah, lalu ke Surabaya. Jika sesuai jadwal, seharusnya kapal yang berlayar menuju Banjarmasin itu berangkat pukul 05.00 WIB. Namun, kapal berangkat sekitar pukul 10.00 WIB.

Awalnya, KMP Virgo Transport 8 berlayar biasa saja. Tak ada keanehan. ”Awalnya tidak terjadi sesuatu. Namun, ada teman yang sempat mendengar bunyi dug, seperti terbentur sesuatu waktu kapal hendak bertolak dari Tanjung Perak, Surabaya. Entah bunyi apa itu, saya sendiri tidak mendengar,” katanya.

Dalam perjalanannya kemudian, sekitar pukul 17.00, kapal mulai terasa tidak enak. Entah karena faktor cuaca atau faktor di kapal itu sendiri. Kondisinya bergoyang sehingga Faisal merasa pusing, mual, bahkan mimisan. Tak hanya dirinya, sebagian besar penumpang saat itu juga mengalami hal yang sama.

”Setelah muntah, sore saya makan, tapi malam sekitar pukul 20.00 saya muntah lagi karena goyangan kapal itu. Tidak kencang, tapi bergoyang,” ujarnya.

Sekitar pukul 23.30, Faisal memilih merokok di ruang rokok. Namun, tak berselang lama, asbak tempat abu rokok terjatuh dari atas meja. Disusul beberapa kursi ikut roboh. ”Namun, saya tetap berpikir positif karena tidak ada pemberitahuan, tidak menyangka bahwa kapal akan terbalik. Saya bereskan asbak yang jatuh, tetapi kursi-kursi kemudian roboh,” ujarnya.   

Dalam kondisi sadar, tidak sedang tidur, Faisal lalu mendengar suara gludak kencang di bagian bawah sisi kiri, lalu kapal miring. Faisal pun berlari mengambil pelampung sambil berteriak-teriak, ”Kapal miring-kapal miring!”

Semua pemupang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Teriakan dan doa-doa terucap dari mulut mereka. Ada yang melantunkan azan, takbir, dan lainnya. ”Saat itu sekitar pukul 00.15 WITA. Saya mencoba untuk tidak panik dan mencari plastik buat melindungi handphone. Barang-barang yang lain, pakaian, apa saja, saya abaikan,” ucapnya.

Keluarga penumpang KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Laut Jawa tengah melihat perkembangan data terbaru soal pencarian dan penyelamatan korban di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (16/9/2026) malam.

Sejumlah teman Faisal rupanya juga bangun dan mengetahui kondisi yang terjadi. Namun, beberapa di antara mereka mencoba mencari tas masing-masing. Faisal pun berusaha tetap bertahan di bagian kapal yang terangkat ke atas, tepatnya di buritan sisi samping.

Saat kemiringan kapal kian curam, terdengar bunyi terompet kapal toot… hanya satu kali, kemudian lampu padam. Gulita pun menyergap hingga suasana menjadi semakin mencekam.

”Banyak orang yang lari melompat ke laut dalam suasana gelap. Mereka berusaha meraih sekoci yang terpencar ke berbagai arah. Saya memilih bertahan sampai akhirnya kapal terbalik, saya berada di atas lunas. Saya tidak melompat ke air karena saya melihat ada hiu. Saya sempat melihat ada korban kakinya tercabik,” tutur Faisal yang menduga banyak penumpang masih terjebak di dalam kapal dan tidak bisa menyelamatkan diri, termasuk mereka yang berada di dalam kendaraan.

Saat itu, di sekitar kapal yang terbalik, Faisal menyaksikan terdapat belasan kapal lain, tetapi hanya satu, yakni kapal tunda penarik batubara yang kemudian mendekat dan menolong korban. Faisal merasa tak mendengar adanya sirine atau pemberitahuan sebelum kapal itu terbalik.

Akibat peristiwa ini pula, Faisal mengurungkan niat untuk bekerja di perkebunan sawit. ”Batal, pulang saja. Ayah saya sudah berulang kali telepon minta pulang,” tutur Faisal saat ditemui kembali di salah satu penginapan di Banjarmasin, Selasa malam.

Hal serupa dialami Ari (38), sopir truk yang selamat dalam musibah itu. Ari sempat tidur sebelum kapal yang ditumpanginya terbalik. Begitu terdengar teriakan kapal miring, Ari dan beberapa penumpang lainnya langsung lari ke sisi belakang kapal.

Keluarga penumpang KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Laut Jawa masih setia menunggu informasi mengenai pencarian dan penyelamatan korban di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (16/9/2026) malam.

”Saat itu saya tidur di kabin sopir truk. Begitu tahu kapal miring curam, saya bergegas naik ke atas. Kapal itu cepat sekali turunnya. Lalu saya melalui lambung kapal dan berusaha menjangkau sekoci dan melompat,” tuturnya.

Saat itu, lanjut Ari, banyak penumpang takut melompat ke sekoci karena kondisi ombak besar. Setelah berenang sesaat, baru Ari bisa naik ke atas sekoci. ”Yang pertama naik ke sekoci kemungkinan saya, baru penumpang lainnya. Satu sekoci berisi enam orang. Terus tidak tahu dibawa ke mana sama ombak sekocinya,” katanya seusai dievakuasi dari KRI Nala ke Pelabuhan Trisakti.

Peristiwa itu diperkirakan terjadi pukul 01.00 WITA dan kondisi sekitar gelap. Lampu yang tadinya masih terlihat di kapal langsung padam seiring terbaliknya badan kapal. Menurut Ari, dirinya tidak mendengar adanya alarm saat peristiwa terjadi.

Salah satu kru kapal, Akmal (26), bertahan di lautan selama 10 jam dengan berpegangan pada sebuah tabung elpiji warna pink ukuran 12 kilogram sebelum akhirnya ditolong kapal tunda batubara. Sambil mengenakan rompi pelampung, tabung itu menjadi pegangan Akmal bersama empat orang lainnya.

Ditemui di salah satu penginapan di Banjarmasin, Selasa malam, Akmal yang baru tiga bulan bekerja sebagai petugas kebersihan di KMP Virgo Transport 8 menuturkan, awalnya dirinya tidur dan terbangun saat kapal sudah miring. Akmal bekerja pukul 19.00-23.00.

”Saya langsung lari ambil pelampung. Masih banyak orang di situ, kawan-kawan saya juga. Terus saya langsung lompat ke laut,” ujar Akmal yang juga mengaku hanya mendengar satu kali terompet kapal saat kapal hendak terbalik, tidak ada pemberitahuan lain sebelumnya.

Korban selamat KMP Virgo Transport 8 yang baru tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (15/9/2026), langsung mendapat pemeriksaan kesehatan.

Menurut lelaki asal Garut, Jawa Barat, itu, kondisi kapal normal. Sejak awal tidak ada persoalan. Ombak pun memang sedang besar. KMP Virgo Transport 8 hanya melayani rute Surabaya-Banjarmasin.

Yang diketahui oleh Akmal bahwa kapal itu berumur 40 tahun. Selama bekerja, dia tidak pernah mendengar ada masalah terkait dengan kondisi kapal. Akmal juga tidak tahu apakah kapal itu sebelumnya pernah mengalami modifikasi tertentu. ”Kalau kondisi mesin seperti apa, saya tidak tahu, karena itu anak buah kapal yang tugas,” ucapnya.

Berdasarkan data di Posko Laka Laut di Pelabuhan Trisakti, KMP Virgo Transport 8 merupakan kapal jenis roll on roll off. Kapal dengan panjang LOA 119 meter dan lebar 21 meter itu dibuat tahun 1987 dengan kapasitas 4.277 MT. Kapal dengan IMO nomor 86251979 dengan callsign JVUY8 dan MMSI 525110543 itu milik PT Virgo Karya Shipping.

Adapun nakhoda kapal Arief Yunianto (40), warga Lamongan, Jawa Timur, selamat dalam peristiwa ini. Namun, hingga artikel ini dikirim, Kompas belum berhasil menghubungi Arief mengenai kondisi kapal yang ia nakhodai.  

Korban selamat KMP Virgo Transport 8 yang baru tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (15/9/2026), seusai mendapatkan pemeriksaan kesehatan.

Saat menjelaskan perkembangan upaya pencarian dan penyelamatan tiga hari terakhir, dalam keterangan pers di Pelabuhan Trisakti, Selasa malam, Wakil Menteri Perhubungan Suntana mengatakan, nakhoda KMP Virgo Transport 8 kini tengah menjalani pemeriksaan mengenai insiden tersebut.

Saat berlayar dari Surabaya, KMP Virgo Transport 8 mengangkut 243 orang, termasuk 30 awak kapal. Hingga Selasa malam, sebanyak 114 orang telah dievakuasi menuju Banjarmasin, yang enam di antaranya dalam kondisi meninggal. Saat ini tim Basarnas masih mencari 129 korban lain yang belum diketahui nasibnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji