Pemajuan kebudayaan Betawi dinilai belum optimal. Sejumlah upaya terkait kebudayaan Betawi dianggap masih sebatas kegiatan seremonial.
02 Jun 2025 15:44 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Jakarta lekat dengan Betawi. Begitu pun sebaliknya. Namun, pemajuan kebudayaan Betawi belum optimal sehingga muncul anggapan masih sebatas kegiatan seremonial.
Anggapan tersebut coba dikikis dari waktu ke waktu. Tujuannya agar kebudayaan Betawi menjadi bagian kota sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
Pekan lalu, misalnya, disepakati dan terjalin perjanjian kerja sama pelestarian kebudayaan Betawi antara Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta dan 10 hotel berbintang lima di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Hotel-hotel itu akan menampilkan ornamen, makanan khas, dan kesenian Betawi sebagai promosi kebudayaan.
Apa yang terjadi sejalan dengan program kerja peningkatan pariwisata melalui promosi budaya Betawi dalam 40 program hasil terbaik cepat (quick wins) 100 hari pertama Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, Pramono Anung-Rano Karno.
Sebelumnya, Pramono bahkan meminta agar ondel-ondel tidak dipakai untuk mengamen. Ia mengulang perkataan itu dalam acara ”Sarasehan III Kaukus Muda Betawi: Menyongsong 498 Tahun Kota Jakarta dan Lembaga Adat Masyarakat Betawi Tahun 2025” di Ancol, Senin (2/6/2025).
”Untuk ngamen janganlah. Supaya budaya Betawi ini kita naikkan. Kita buat menjadi sesuatu budaya yang sangat dihormati oleh siapa pun. Bukan kemudian budaya untuk mengamen, tetapi budaya Betawi kita buat naik kelas,” kata Pramono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/06/11f49041-4f92-40f1-b788-14602e5eb062_jpg.jpg)
Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta rakyat. Kesenian ini berbentuk boneka besar yang terbuat dari anyaman bambu (Balai Pelestarian Kebudayaan).
Bagian wajahnya berupa topeng atau kedok dihiasi rambut yang terbuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel lelaki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan wajah perempuan warna putih.
Selain ondel-ondel, politisi PDI Perjuangan itu juga mengkritik tradisi palang pintu dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Menurut dia, pantun yang dibacakan harus dikurasi atau maksimal dua saja.
”Jangan baca pantunnya sepuluh, yang main silat lima. Kelamaan. Palang pintu pantunnya dua, yang silat-silatan dua, tapi dibuat grande (spektakuler). Dibuat betul-betul orang merasa bahwa oke, palang pintu sekarang berbeda,” kata Pramono.
Palang pintu mempunyai arti sebagai tradisi untuk membuka penghalang yang diwakili seseorang atau lebih agar dapat masuk ke suatu daerah. Tradisi ini biasanya dipakai pada acara perkawinan atau acara umum untuk menyambut tamu khusus pada acara tersebut (Kompas, April 2018).
Mantan Sekretaris Kabinet ini juga meminta adanya kurasi untuk pakaian adat Betawi, seperti kebaya encim dan jas tutup ujung serong. Pakaian tersebut punya daya tarik warna yang mencolok, tetapi indah dipandang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/07/c9b69b90-5024-4496-8c0d-fc567e39cdc4_jpg.jpg)
”Bahkan, kalau teman-teman tahu, beberapa hari yang lalu saya meresmikan Blok M Hub. Di situ ada Lorong Betawi sehingga Blok M merupakan salah satu simbol kultur Betawi yang utama,” tutur Pramono.
Hal lain yang disorot ialah revisi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Revisi ini belum tuntas dibahas sehingga pemajuan kebudayaan tersendat.
Pramono meminta Ketua DPRD Daerah Khusus Jakarta Khoirudin untuk merampungkan revisi perda tersebut. Sebab, upaya ini menjadi bagian dari komitmen agar kebudayaan Betawi menjadi bagian kota sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
”Mumpung gubernur punya komitmen, wagubnya punya komitmen, ketua DPRD punya komitmen, teman-teman sekalian berkeinginan untuk itu,” ujar Pramono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/20/80953001-f825-4c07-bc8c-057d51e887a0_jpg.jpg)
Khoirudin menyebut, DPRD DK Jakarta masih menyiapkan draf. Selanjutnya, draf tersebut disampaikan ke eksekutif, termasuk Badan Musyawarah Betawi sebelum dibahas dalam rapat paripurna.
”Perda Pemajuan Kebudayaan Betawi menjadi prioritas (pembahasan) tahun ini,” ujar Khoirudin. Ia juga mendorong agar kebudayaan Betawi tak hanya hadir dalam acara seremonial, tetapi juga masuk dalam pelajaran di sekolah.
Pegiat kesenian Betawi dari Sanggar Si Pitung Rawa Belong di Jakarta Barat, Bachtiar, berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kesenian dan kebudayaan Betawi agar tidak menjadi pemanis di kampung sendiri.
Di Rawa Belong dan sekitarnya, misalnya, tidak ada gedung kesenian dan padepokan silat aliran Betawi. Padahal, ini penting untuk mendukung kemajuan budaya Betawi.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase