Maarten Paes mengoleksi rerata dua gol kemasukan per gim bersama timnas Indonesia. Dengan catatan statistik lebih baik di klub, Emil Audero perlu diberi kesempatan.
25 Mar 2025 13:09 WIB · Olahraga
Di bawah sorotan lampu Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pelatih kiper tim nasional Indonesia, Sjoerd Woudenberg, memulai sesi latihan resmi jelang laga kontra Bahrain, Senin (24/3/2025) malam, dengan menguji dua kiper terbaik, Maarten Paes dan Emil Audero.
Woudenberg, eks pelatih kiper Dewa United, dibantu dua kiper pelapis, Ernando Ari dan Nadeo Argawinata, melepaskan tembakan ke arah Maarten dan Emil yang menjaga dua gawang di sisi yang berbeda. Kedua kiper itu diuji mengantisipasi tembakan dari jarak dekat dan situasi satu lawan satu.
Tidak hanya harus sigap terbang untuk menghalau bola, Maarten dan Emil juga diminta keluar dari bawah mistar demi cepat menutup ruang tembak pemain lawan yang mendekati gawangnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/be982f97-ed56-4b20-b2ef-d17bf861f28a_jpg.jpg)
Dalam sesi latihan itu, Maarten dan Emil menciptakan penyelamatan-penyelamatan gemilang. Mereka menahan tembakan langsung dengan tangan, bahkan tak jarang menggunakan kaki untuk menjangkau bola yang di luar zona jangkauan tangan mereka.
Bola bawah bukan masalah bagi Maarten dan Paes. Situasi satu lawan satu juga bisa diantisipasi dengan baik oleh keduanya. Namun, dalam sesi latihan itu, Maarten kewalahan untuk mengantisipasi tembakan placing yang mengarah pojok gawang.
Ernando sempat tiga kali menggetarkan jala gawang yang dijaga kiper asal FC Dallas itu dengan gaya tembakan yang mengedepankan akurasi dibandingkan power. Wajah kesal ditunjukkan Maarten ketika gagal menghalau tembakan pemain Persebaya Surabaya tersebut.
Sesi latihan khusus kiper itu menunjukkan kualitas Maarten dan Emil yang merupakan kiper terbaik milik timnas Indonesia saat ini. Maarten sudah bermain untuk tujuh pertandingan di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Sedangkan, Emil masih menanti debut berseragam garuda.
Setelah Maarten kemasukan lima gol di Sydney, peluang Emil untuk menjalani laga pertama untuk timnas Indonesia terbuka pada gim menghadapi Bahrain, Selasa (25/3/2025) pukul 20.45 WIB. Namun, apakah kiper Palermo itu pantas menggantikan peran Maarten?
Maarten memulai kehadiran di timnas Indonesia dengan gemilang. Ia membantu Indonesia menahan dua raksasa Asia, Arab Saudi dan Australia, pada dua laga awal Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Hanya sekali kemasukan pada dua gim itu membuka asa skuad ”Garuda” untuk lolos ke panggung sepak bola terakbar.
Namun, setelah itu, Maarten kemasukan masing-masing dua gol menghadapi Bahrain dan China. Lalu, kebobolan empat gol dari Jepang. Sempat sekali lagi mencatatkan nirbobol kontra Saudi, Maarten tak berdaya kemasukan lima gol melawan Australia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/6b4d305e-dd89-4203-8226-9102804f742f_jpg.jpg)
Total, 14 gol sudah bersarang ke gawang Maarten. Jumlah kebobolan Indonesia itu hanya lebih baik dari China yang sudah kemasukan 17 gol.
Jika merujuk performa kedua kiper di klub, terutama setelah pergantian tahun, Emil jelas memiliki modal besar untuk mendapat kepercayaan sebagai kiper utama timnas Indonesia pada laga penentuan kontra Bahrain.
Memantau statistik kedua kiper itu sejak Januari 2025 menjadi relevan, sebab Maarten baru menjalani musim baru Liga Amerika Serikat. Adapun Emil memulai petualangan baru di Palermo setelah direkrut dari Como pada bursa transfer musim dingin lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/9c479d6c-9984-497c-bdb8-1bd5707bf79c_jpg.jpg)
Maarten dan Emil sama-sama sudah kemasukan delapan gol di klub mereka. Bedanya, Emil menjalani itu dalam enam pertandingan dan sempat mengoleksi dua gim tak kemasukan.
Emil, yang merupakan lulusan akademi Juventus, mengoleksi rerata 1,3 gol kebobolan per gim. Tingkat penyelamatannya pun cukup tinggi dengan 74 persen per laga.
Adapun Maarten yang selalu kemasukan pada empat laga awal Liga AS musim ini mengoleksi rerata dua gol kemasukan per gim. Persentase penyelamatan Maarten bersama Dallas adalah 60 persen per laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/91ab4464cb6252b486825e10f2a401e4-WhatsApp_Image_2025_03_25_at_10.50.03_3.jpeg)
Walaupun telah kemasukan delapan gol dari enam gim, Emil mampu menghindari gawangnya dari kemasukan lebih besar. Merujuk Footystats, Palermo mencatatkan 11,91 expected goals against (xGA) alias potensi kemasukan gol. Itu artinya Emil dapat menghindari timnya kemasukan nyaris empat gol lainnya.
Di sisi lain, Maarten kebobolan delapan gol dari 5,71 xGA. Hal itu menandakan performa Maarten seharusnya lebih baik agar tidak kemasukan dua gol lebih banyak.
Aksi-aksi Emil juga jauh lebih menonjol dibandingkan dengan Maarten. Dalam hal penyelamatan dengan menjatuhkan badan (diving save), Emil melakukan 11 kali bersama Palermo. Sementara Maarten hanya tujuh kali.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/144660434a8264aad9953cc17a7bc932-WhatsApp_Image_2025_03_25_at_10.50.03_4.jpeg)
Penyelamatan di dalam kotak penalti diciptakan Emil sebanyak 16 kesempatan. Maarten menghasilkan enam penyelamatan di dalam kotak penalti.
Kemudian, Emil juga mengoleksi aksi pemulihan penguasaan bola (recoveries) untuk timnya lebih banyak. Ia mencatatkan 61 kali recoveries. Sedangkan, Maarten hanya menciptakan 22 kali pemulihan bola.
Satu catatan statistik yang menarik adalah buruknya aksi high claim atau menangkap bola di udara yang dilakukan Maarten. Padahal, aksi memenangkan bola di udara amat penting untuk meredam peluang bola mati lawan, seperti sepak pojok atau tendangan bebas tidak langsung.
Maarten hanya satu kali melakukan tangkapan bola di udara bersama Dallas musim ini. Sementara itu, Maarten tidak menciptakan satu pun tangkapan bola di udara dalam tujuh gim bersama timnas Indonesia.
Tak heran, ia sudah kemasukan tiga gol dalam skema sepak pojok. Satu gol terjadi pada laga tandang di Bahrain, lalu dua gol terjadi saat melawan Australia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/50b0e903fefd7fa556c3c22efa658730-WhatsApp_Image_2025_03_25_at_10.50.03_6.jpeg)
Dengan kepiawaian Bahrain memanfaatkan bola mati, terutama sepak pojok, untuk memburu gol, Pelatih Indonesia Patrick Kluivert membutuhkan kiper yang bisa meminimalkan potensi lawan memenangkan duel udara.
Aksi high claim bukan perkara mudah. Kiper harus mampu menentukan momentum terbaik untuk menjemput bola di udara. Jika gagal, hal itu tentu menjadi bumerang bagi timnya. Emil sudah melakukan 15 kali tangkapan bola di udara bersama Palermo musim ini.
Terlepas aksi-aksi penyelamatan yang lebih inferior dibandingkan Emil, Maarten memiliki bekal baik dalam akurasi operan. Ia mengoleksi 74 persen operan akurat berbanding hanya 58 persen milik Emil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/52098a66-9625-4116-bf56-57d7c5c455d7_jpg.jpg)
Akurasi umpan jauh Maarten juga mencapai 65 persen. Ia hasilkan 11,3 operan jauh akurat per gim. Adapun Emil hanya lakukan 7,3 operan jauh akurat per gol dengan tingkat akurasi hanya 35 persen. Keahlian Maarten ini tentu penting dalam proses membangun serangan dari lini pertahanan.
Dengan keunggulan masing-masing dua penjaga gawang terbaik itu, Kluivert memiliki hak prerogatif untuk menentukan kiper demi mengejar kemenangan menghadapi Bahrain.
Setelah kemasukan lima gol di Sydney, apakah Kluivert tetap akan mengutamakan Maarten sehingga membuat Emil, yang telah memiliki dua trofi scudetto, hanya memanaskan bangku cadangan? Wajar jika ada perubahan, skuad Garuda butuh wajah baru di bawah mistar….
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/c3697422-ab76-4e6a-a1ee-d3fd4c532165_png.png)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .