Aryna Sabalenka mencetak sejarah. Dia masuk ke dalam daftar petenis dengan catatan prestasi peraih ”Sunshine Double”.
29 Mar 2026 11:29 WIB · Olahraga
AP/Marta Lavandier
Kemampuan Aryna Sabalenka bermain di lapangan keras tak usah diragukan. Konsistensinya bermain di lapangan itu membuat Sabalenka meraih prestasi ”Sunshine Double”, salah satu tantangan besar di arena tenis profesional.
”Sunshine Double” adalah sebutan untuk pencapaian juara turnamen di Indian Wells dan Miami, Amerika Serikat, pada tahun yang sama. Dalam persaingan tenis putri, kedua turnamen itu berlevel WTA 1000, sementara di putra dengan level ATP Masters 1000.
Sabalenka punya peluang besar meraih pencapaian itu pada 2025 ketika lolos ke final di Indian Wells, lalu Miami, tetapi dia kalah dari Mirra Andreeva dalam final di Indian Wells. Hasil tersebut dibayar dengan kemenangan atas Elena Rybakina dalam final WTA Miami.
Tahun ini, Sabalenka memenangi final di kedua tempat itu. Dalam final di Miami Garden, Florida, Sabtu (28/3/2026), Sabalenka mengalahkan petenis tuan rumah, Cori Gauff, dengan skor 6-2, 4-6, 6-3. Dua pekan sebelumnya, petenis putri asal Belarus ini meraih gelar pertama di Indian Wells setelah mengalahkan Rybakina di final.
Gelar tersebut memperlihatkan ketangguhannya bermain di lapangan keras, yaitu dengan 74 persen kemenangan. Nilai ini lebih tinggi dari 73 persen kemenangan di lapangan tanah liat dan 65 persen di rumput. Sabalenka memiliki senjata berupa servis keras dan ground stroke powerful yang konsisten.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/95160d9b5ac100154605f49f7fa22120-miami_saba.jpg)
Ada sepuluh turnamen berlevel WTA 1000 dalam struktur turnamen profesional putri level tinggi, tetapi rangkaian turnamen Indian Wells dan Miami dinilai menjadi tantangan tersulit. Kedua turnamen itu diselenggarakan secara beruntun, tahun ini pada 4-15 Maret untuk Indian Wells dan 17-29 Maret di Miami.
Meskipun kedua kota tersebut berada di satu negara, bermain di Indian Wells, lalu Miami, bukan hal yang mudah. Turnamen di kedua kota ini diselenggarakan ketika Negara Bagian California dan Florida diselimuti cuaca panas.
Undian dalam dua turnamen itu menggunakan format 128 peserta, sama seperti Grand Slam. Pembedanya adalah 32 unggulan mendapat bye di babak pertama dalam turnamen WTA/ATP Masters 1000.
Meski sama-sama menggunakan jenis lapangan keras, terdapat perbedaan kecil tetapi terasa signifikan bagi petenis. Lapangan di Miami memantulkan bola lebih cepat dibandingkan di Indian Wells. Jenis bola yang digunakan pun berbeda.
Faktor lain yang menjadi tantangan dan petenis harus melakukan adaptasi dengan cepat adalah perbedaan waktu, yaitu waktu di Miami lebih cepat tiga jam dibandingkan di Indian Wells. Penerbangan di antara kedua tempat itu pun cukup lama, sekitar enam jam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/e251ad563cab1c85b89d3c30f55656e4-sunshine_double.png)
Tanpa jeda di antara dua turnamen, kecuali dengan adanya jadwal petenis bermain dua hari sekali, bersaing di Indian Wells, lalu Miami, begitu menantang, baik untuk fisik maupun mental.
Saking beratnya tantangan menjuarai dua ajang itu secara beruntun, tak semua petenis hebat pun bisa melakukannya. Rafael Nadal, Martina Navratilova, dan Serena Williams tak pernah meraih ”Sunshine Double”.
Nadal bahkan tak pernah juara di Miami meskipun lima kali tampil di final. Navratilova dan Serena memiliki gelar dari kedua turnamen itu, tetapi tidak pernah pada tahun yang sama.
Target saya adalah ingin menjadi bagian dari sejarah dan saya telah melakukannya.
Sejak turnamen Indian Wells diselenggarakan pada 1974 untuk Tur ATP dan 1989 (Tur WTA) serta ATP/WTA Miami pada 1985, hanya ada tujuh tunggal putra yang meraih ”Sunshine Double”. Jim Courier menjadi yang pertama melakukannya di tunggal putra, yaitu pada 1991. Setelah Roger Federer pada 2017, belum ada lagi petenis putra yang meraih gelar Indian Wells-Miami.
Jeda tersebut berpeluang dipatahkan Jannik Sinner yang menjuarai Indian Wells Masters dan tampil di final Miami Masters. Dalam final di Miami, Minggu, Sinner berhadapan dengan Jiri Lehecka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/c91c0e78fdcddb769dce8e7261be340c-miami_coco.jpg)
Di putri, Graf menjadi petenis pertama yang meraih gelar di Indian Wells dan Miami secara beruntun. Dia bahkan melakukannya lebih dari sekali, yaitu pada 1994 dan 1996. Setelah Graf, hanya ada Kim Clijsters, Victoria Azarenka, dan Iga Swiatek, yang menjuarai WTA Indian Wells dan Miami pada tahun yang sama hingga muncul Sabalenka.
Petenis putri asal Yunani, Maria Sakkari, mengatakan, bermain dalam level tinggi dengan konsisten di Indian Wells dan Miami adalah tantangan besar. Dia mencapai final di Indian Wells pada 2022, tetapi tersingkir pada babak kedua di Miami. Hal itu pun setelah mendapat bye di babak pertama.
”Saat terbang dari California ke Florida, terdapat perbedaan waktu tiga jam dan itu sangat berpengaruh pada waktu tidur dan aktivitas lainnya. Performa di lapangan pun ikut terpengaruh,” ujar Sakkari yang hanya punya jeda tiga hari antara final Indian Wells dan babak kedua Miami.
Maka, Sabalenka pun menilai, dia meraih hasil luar biasa dalam sebulan terakhir. Setidaknya, gelar juara WTA Indian Wells dan Miami bisa mengobati kekecewaannya karena kalah dalam final Grand Slam Australia Terbuka dari Rybakina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/918f2f08253d8426503ea361f06503a1-miami_saba2.jpg)
”Target saya adalah ingin menjadi bagian dari sejarah dan saya telah melakukannya. Rasanya seperti tidak nyata dan saya tidak tahu bagaimana caranya bisa melakukan ini. Yang pasti, saya sangat senang bisa mencapainya, bisa mendapat trofi yang indah ini,” katanya dalam laman resmi WTA.
Dengan kemenangan atas Gauff, Sabalenka menjadi petenis pertama yang mempertahankan gelar WTA Miami sejak Ashlegih Barty juara pada 2019 dan 2021 (WTA Miami 2020 tidak digelar karena pandemi Covid-19). Gelar ini menjadi yang ke-24 dari turnamen WTA pada nomor tunggal dan empat di antaranya dari ajang Grand Slam, yaitu Australia Terbuka 2023 dan 2024, serta AS Terbuka 2024 dan 2025.
Dia pun akan memperpanjang periode sebagai petenis nomor satu dunia yang telah ditempati selama 83 pekan, termasuk dalam 75 pekan terakhir secara beruntun, yaitu sejak 21 Oktober 2024. (AP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji