Sabung Ayam, Tumbal Nyawa, dan Bom Waktu

Sabung ayam hampir selalu mampu menyedot kerumunan massa. Tidak jarang, acara yang semula semarak dapat seketika berbalik menjadi insiden.

18 Mar 2025 18:46 WIB · Nusantara

Oleh Irma Tambunan, Adrian Fajriansyah

Berabad-abad lamanya judi sabung ayam hidup di hampir seluruh wilayah di Sumatera. Orang ramai berdatangan tidak hanya untuk menonton, tetapi juga bertaruh. Tidak receh-receh nilainya. Pertaruhan itu bisa sampai jutaan rupiah, bahkan hingga menumbalkan nyawa manusia.

Praktik judi sabung ayam setidaknya telah tercatat dari abad XVIII oleh William Marsden, sejarawan asal Inggris. Ia menyaksikan sabung ayam kerap berlangsung di banyak tempat kala itu. Bisa dibilang, hampir semua laki-laki pasti memiliki ayam jago untuk siap diadu.

”Akan jarang ditemukan seorang pria bepergian tanpa menggendong seekor ayam jago,” sebut Marsden dalam bukunya yang berjudul The History of Sumatra, 1810.

Pertaruhan di tepi gelanggang tarung ayam pun bukan semata receh-receh. Seseorang akan berani pasang taruhan tinggi, terutama saat dirinya merasa yakin akan menang. Marsden menyebut satu orang bahkan bisa memasang taruhan senilai 100 dollar per ayam kala itu.

Kerap pula didapati kasus laki-laki sampai berani memasang anak-anak dan istrinya atau saudara-saudara perempuannya sebagai taruhan ketika ia sudah kehabisan uang karena kalah terus.

Kondisi ayam yang disita penuh luka dan lemas.

Sabung ayam terus melekat hingga berabad-abad kemudian. Hingga kini, acara itu hampir selalu mampu menyedot kerumunan massa. Tidak jarang acara yang semula semarak dapat seketika berbalik menjadi insiden. Bahkan, bisa hilangnya nyawa sebagaimana terjadi di Way Kanan, Lampung, Senin (17/3/2025). Perkelahian kerap terjadi di tengah sabung ayam.

Menjelang acara sabung ayam di Way Kanan, beredar video sosok yang diduga Kopka Basar tengah mengajak semua warga untuk datang ke arena sabung ayam. Arena itu yang diduga dikelola dirinya dan rekannya. Untuk acara itu, ia menjagokan ayamnya yang bernama Letter S untuk tampil bertarung.

”Tanggal 17, hari Senin, saksikan Letter S bergetar di Way Kanan Lampung,” sebagaimana dikutip dalam platform X.

Video itu pun viral seusai peristiwa tewasnya tiga polisi di arena sabung ayam. Ketiga polisi yang menjadi korban ialah Kepala Polsek Negara Batin Inspektur Satu Lusiyanto, anggota Polsek Negara Batin Brigadir Kepala Petrus Apriyanto, dan anggota Satuan Reserse Kriminal Polres Way Kanan Brigadir Dua Ghalib Surya Ganta. Mereka tertembak saat menggerebek judi sabung ayam.

Tim Unit 4 Subdirektorat IV/Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap 26 orang yang terlibat judi sabung ayam di Bintara, Kota Bekasi, Selasa (21/4/2020). Para petugas menggunakan alat pelindung diri mengantisipasi penularan Covid-19.

Penggerebekan sabung ayam oleh aparat kepolisian di wilayah Lampung sebenarnya bukan sekali ini saja. November 2024, polisi di Tulang Bawang pernah menggerebek dua arena judi sabung di wilayah Kecamatan Menggala. Sebelumnya lagi, aparat Polsek Batanghari di Lampung Timur menggerebek perjudian sabung ayam di Desa Bumiharjo pada Mei 2023. Saat itu, para pelaku judi berhasil melarikan diri.

Tidak hanya di Lampung, judi sabung ayam dan penggerebekannya pun terekam di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, hingga Kalimantan. Tidak hanya di wilayah-wilayah pedalaman, judi sabung ayam pun marak di ibu kota Jakarta.  

Dalam catatan Kompas, sekitar 90 orang yang sedang asyik berjudi sabung ayam di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, ditangkap polisi, 2013 lalu. Dari lokasi penangkapan diperoleh barang bukti 23 ayam jago dan uang taruhan bernilai total Rp 5,3 juta.

Semua barang bukti itu menjadi alat yang digunakan dalam judi sabung ayam tersebut. Terungkap rupanya judi sabung ayam rutin diselenggarakan setiap Sabtu di lokasi itu. Besarnya taruhan mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 200.000 per laga. Sementara bagi warga yang ingin ikut menonton dikenai biaya masuk Rp 5.000 per orang.

Sejumlah pria, calon pembeli ayam untuk keperluan sabung ayam, sedang mengamati ayam kampung yang dijual di Pasar Penfui Kota Kupang, Senin (8/4/2024). Ayam-ayam jantan ini dijual antara Rp 100.000 - Rp 150.000 per ekor. Mereka juga bersedia mengaku sempat menerima uang saat Pilpres dan Pileg Februari 2024, dan berharap mendapat lebih banyak lagi dalam Pilkada November 2024.

Judi sabung ayam pun kerap mengorbankan nyawa. Di perbatasan Lampung dan Sumsel, acara sabung ayam pada 2010 lalu berbuntut bentrokan antarkampung. Awalnya, ada warga yang biasa menyabung ayam ditegur warga desa tetangga. Ia tidak terima lalu membacoknya. Tak lama, orang yang membacok diamuk massa. Warga lalu saling serang dengan menggunakan batu dan senjata tajam. Dua warga tewas dan puluhan terluka akibat tawuran

Bom waktu

Ketua Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya Diana Dewi Sartika mengatakan, perjudian, baik itu konvensional ataupun daring, harus ditindak tegas dan diberantas. Jika tidak, praktik itu akan menjadi bom waktu masalah yang sulit diberantas.

Sabung ayam bisa menimbulkan aspek psikologis. Kalau menang, itu akan menimbulkan rasa penasaran untuk terus meraih kemenangan yang lebih banyak lagi. Sebaliknya, kalau kalah, tetap menimbulkan rasa penasaran. ”Kenapa tidak menang-menang sehingga ia akan terus mencoba sampai bisa menang,” katanya.

Sifat kecanduan itu yang menyebabkan seseorang menjadi sulit lepas dari judi. Pada puncaknya, itu akan berdampak buruk terhadap banyak aspek kehidupan orang yang kecanduan judi, dari sisi finansial hingga konflik secara lebih luas, seperti dalam rumah tangga dan masyarakat sekitarnya.

Quote

Kenapa tidak menang-menang sehingga ia akan terus mencoba sampai bisa menang.

Yang menjadi masalah kalau judi dimaklumi sehingga menyebar luas bukan hanya di kalangan tertentu, melainkan juga semua lapisan masyarakat. Karena banyak yang terlibat dalam perjudian, akhirnya itu membuka celah kemungkinan untuk difasilitasi oleh oknum aparat yang boleh jadi turut pula kecanduan judi. ”Jadi, sesuatu yang sudah dianggap umum oleh masyarakat dan dilindungi oleh aparat, itulah yang menjadi penyebab muncul penyakit sosial alias patologi sosial,” ujar Diana.

Infografik Penembakan Terhadap Polisi di Way Kanan, Lampung

Kalau tindak kejahatan sudah dianggap normal, didukung masyarakat, dan dilindungi aparat, hal itu akan menjadi bumerang bagi institusi berwenang untuk ke depannya menangani. Kalau institusi bersangkutan tidak sungguh-sungguh dalam menyiapkan strategi penanganan yang mendalam dan rinci, fenomena itu akan sulit diberantas.

Bahkan, para pelakunya tidak segan memberikan perlawanan hingga bisa menimbulkan korban jiwa dari aparat yang berusaha menindak, seperti kasus tiga polisi tewas ditembak saat menggerebek judi sabung ayam di Kampung Manik kemarin.

”Makanya, aparat yang ingin menindak harus paham dahulu perjudian bersangkutan sudah berada di level sejauh mana di tingkat masyarakat,” lanjutnya.

Tujuannya agar jangan sampai ketika akan diberantas, tiba-tiba sekelompok masyarakat malah mendukung sesuatu yang telah dinormalisasi tersebut. Kalau itu terjadi, berat bagi aparat untuk memberantasnya. Itulah yang terjadi dalam insiden tewasnya tiga polisi di Lampung kemarin.

Setelah kejadian berdarah kemarin, Diana menilai, para pelaku harus mendapatkan hukuman tegas untuk memberikan efek jera. Selain itu, pemerintah juga harus membangun karakter positif di masyarakat sedari dini dari tingkat keluarga. Dengan begitu, masyarakat diharapkan tidak mudah terbawa arus ataupun mencoba hal-hal yang negatif.

Quote

Kemiskinan kadang tidak hanya disebabkan oleh masyarakat, tetapi juga turut dipicu peran pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah tidak boleh memberikan panggung kepada warga yang coba memperkenalkan hal-hal negatif, seperti promo judi melalui media sosial. Pemerintah harus bersikap tegas dan tanpa pandang bulu.

Tidak dimungkiri, kadang, warga yang mempromosikan judi adalah orang terpandang di tempat asal atau bermukimnya. Kalau mereka dibiarkan, mereka punya kekuatan ekonomi dan sosial untuk menentukan dan mengarahkan nasib masyarakat di sekitarnya, antara lain mengajak terjun ke lembah perjudian.

”Di samping itu, masyarakat harus diedukasi untuk berani melaporkan sesuatu yang buruk yang ditemuinya, termasuk melaporkan akun-akun media sosial yang mempromosikan judi. Kalau kesadaran itu tumbuh, penyebaran informasi mengenai perjudian diharapkan bisa ditekan," kata Diana.

Diakui Diana, dalam kehidupan yang serba sulit saat ini, sebagian orang tidak pikir panjang sehingga memilih jalan pintas guna mendapatkan sumber penghidupan instan, misalnya dengan berjudi. Jadi, pemerintah juga berkewajiban menciptakan kultur dan peluang ekonomi yang baik untuk masyarakat sehingga mereka tidak mudah terjerumus ke dalam perjudian.

”Kemiskinan kadang tidak hanya disebabkan oleh masyarakat, tetapi juga turut dipicu peran pemerintah. Kalau secara struktural pemerintah mampu memberikan akses dan sumber ekonomi yang baik, tentunya tidak akan terjadi kemiskinan struktural di masyarakat,” tuturnya lagi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Irma Tambunan, Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum