SOSOK

Sadio Mane, Wajah Sejati ”Singa Teranga”

Sadio Mane menyelamatkan martabat sepak bola Afrika. Ia legenda sejati Senegal.

19 Jan 2026 17:09 WIB · Tokoh

AP Photo/Mosa'ab Elshamy

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Dalam sepak bola modern, angka-angka statistik kini telah menjadi ”dewa” untuk menilai kiprah kolektif tim dan individu pemain. Namun, perhitungan itu tidak berlaku untuk mengulas performa Sadio Mane (33) bersama tim nasional Senegal di Piala Afrika 2025.

Tanpa Mane, Piala Afrika 2025 akan berakhir antiklimaks. Jika tidak ada pemain asal Al Nassr itu, mungkin sepak bola Afrika akan menyentuh titik nadir dengan laga final yang tercoreng aksi protes dari timnas Senegal.

Semua pemain Senegal masuk ke ruang ganti setelah mendapat instruksi dari Pelatih Pape Thiaw. Mereka memboikot partai puncak pada menit ke-90+4 setelah wasit asal Kongo, Jean-Jacques Ngambo, menunjuk titik putih akibat tarikan bek sayap El Hadji Malick Diouf kepada penyerang Maroko, Brahim Diaz.

Dua menit sebelumnya, gol Ismaila Sarr untuk Senegal dianulir wasit melalui asisten wasit video (VAR) karena adanya pelanggaran dalam proses gol tersebut. Ketika para pemain Senegal patuh kepada Thiaw, Mane memilih jalan berbeda dengan rekan setim dan pelatihnya.

Ia menjadi satu-satunya pemain Senegal yang bertahan di atas lapangan hijau. Di sisi lapangan, mantan pemain Liverpool itu intens berkomunikasi dengan wasit dan ofisial pertandingan. Hingga memasuki menit ke-15 boikot, Mane bergegas masuk ke ruang ganti Senegal. Ia tidak bermaksud ikut menghentikan laga.

Pemain timnas Senegal Sadio Mane (tengah) memegang trofi juara Piala Afrika, dengan dikelilingi rekan-rekannya, usai mengalahkan Maroko dengan skor 1-0 pada laga final Piala Afrika 2026 di di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Maroko, Senin (19/1/2026) dini hari WIB.

Mane justru memanggil rekan setimnya kembali ke lapangan. Menegakkan kepala untuk kembali bertarung di sisa masa tambahan waktu babak kedua. Menunjukkan jiwa kesatria yang serupa dengan julukan timnas Senegal, ”Singa Teranga”.

Kedewasaan Mane itu berbuah aksi heroik kiper Edouard Mendy, yang menangkap penalti Diaz, pemain paling bersinar di turnamen tersebut. Kemudian, gelandang Pape Gueye mencetak gol kemenangan 1-0 untuk Senegal pada menit ke-94. Senegal mampu mempertahankan keunggulan itu hingga laga menyentuh menit ke-120.

Setelah pertandingan, dua kapten Senegal selama Piala Afrika 2025, Kalidou Koulibaly dan Idrissa Gueye, bersama-sama menyerahkan trofi juara kepada Mane. Mereka memberikan penghormatan kepada Mane untuk menjadi pemain Senegal pertama yang mengangkat setinggi-tingginya trofi simbol supremasi sepak bola Afrika itu ke udara.

Senyum merekah yang pantas hadir di wajah Mane tersaji ketika ia memegang trofi itu dengan erat. Ia bahagia setelah sepanjang tujuh laga di Piala Afrika 2025 amat menjaga emosinya dan tidak terlalu larut dalam euforia setiap kemenangan timnya. Termasuk saat ia mencetak gol tunggal ke gawang Mesir yang dihuni sahabatnya, Mohamed Salah, pada babak semifinal.

Terkait sikapnya di masa boikot tersebut, Mane menyebut bahwa dunia menyaksikan Piala Afrika 2025. Karena itu, ia merasa semua pihak pantas menyajikan citra positif sepak bola, terutama di Afrika.

Pemain timnas Senegal Sadio Mane (tengah) memegang trofi juara Piala Afrika, dengan dikelilingi rekan-rekannya, usai mengalahkan Maroko dengan skor 1-0 pada laga final Piala Afrika 2026 di di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Maroko, Senin (19/1/2026) dini hari WIB.

”Saya pikir (boikot) itu benar-benar buruk. Sepak bola tidak seharusnya berhenti selama 10 menit. Kami harus menerima, tetapi hal baiknya, kami kembali dan memainkan pertandingan. Yang terjadi biarlah terjadi,” ucap Mane, dilansir BBC.

”Saya merasa itu akan menjadi sesuatu yang gila jika kami tidak melanjutkan permainan setelah wasit memberikan penalti dan kami keluar. Saya menganggap itu akan menjadi hal terburuk, terutama di sepak bola Afrika. Saya lebih baik kalah dibandingkan hal seperti itu terjadi dalam masa saya bermain sepak bola,” kata Mane, yang telah melalui 126 cap bersama timnas Senegal.

Jauhi sorotan

Dianggap sudah ”habis” setelah gagal bersinar di Bayern Muenchen, Mane menemukan kembali kebahagiaan setelah hijrah ke Arab Saudi untuk bergabung dengan Cristiano Ronaldo di Al Nassr. Meskipun berstatus pemain terbaik yang pernah lahir di Senegal, Mane justru lebih menikmati menjauh dari sorotan.

Di Al Nassr, sorotan berada di sekitar Ronaldo. Hal itu membuat Mane dapat sepenuhnya fokus pada penampilannya di lapangan hijau. Kehilangan Mane pun berimbas negatif bagi Al Nassr. Selama Mane tampil di Piala Afrika 2025, Al Nassr menderita tiga kekalahan dari empat laga dan merosot ke peringkat kedua Liga Pro Arab Saudi.

Hal serupa juga tercipta di timnas Senegal. Mane adalah pemimpin tak kasatmata Singa Teranga. Ia bukan kapten utama ataupun wakil kapten tim. Tanpa simbol ban kapten, Mane justru mendapat respek terbesar di dalam skuad.

Pemain timnas Senegal Sadio Mane berpose dengan trofi sebagai pemain terbaik turnamen Piala Afrika, usai laga final melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Maroko, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. Senegal menjadi juara usai menang 1-0 atas Maroko.

Tim Senegal seakan selalu menanti aba-aba dari Mane untuk bergerak dalam pertandingan, lalu bersikap setelah laga yang sengit. Keputusan skuad Senegal untuk tetap tenang atau berpesta tecermin dari gestur Mane.

Penyerang kelahiran kota kecil Bambali di sisi selatan Senegal itu bersyukur memiliki perpaduan pemain senior dan muda dalam skuad. Ia berterima kasih kepada pemain-pemain muda Singa Teranga yang bersedia mendengarkan wejangannya selama turnamen di Maroko.

”Saya selalu mengingatkan teman-teman untuk tetap tenang. Apa pun yang terjadi, tetap tenang. Sebab, tim terbaik tidak selalu memenangi turnamen,” tutur Mane, yang dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Piala Afrika 2025.

Idrissa Gueye, gelandang sekaligus pemain paling senior Senegal, mengakui peran besar Mane dalam menghentikan aksi boikot dan membantu timnya meraih gelar Piala Afrika kedua setelah edisi 2021.

”Sadio (Mane) meminta kami untuk kembali bermain dan kami berkumpul lagi untuk melanjutkan laga. Edouard (Mendy) menciptakan penyelamatan, kami tetap fokus, lalu mencetak gol dan memenangi duel,” ujar Gueye, yang berusia 36 tahun.

Pemain timnas Senegal Sadio Mane (kanan) berebut bola dengan pemain Maroko Nayef Aguerd pada laga final Piala Afrika di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Maroko, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. Senegal menjadi juara usai menang 1-0 atas Maroko.

Pada Piala Afrika pamungkas, begitu yang disampaikannya sebelum turnamen edisi 2025 berlangsung, Mane memersonifikasikan wujud Singa Teranga.

Mane serupa singa yang gagah berani di setiap laga. Pada saat bersamaan, ia menampilkan sosok teranga dalam bahasa Wolof yang berarti ’keramahan’ dan ’kehangatan’, nilai kultural yang melekat pada Senegal.

Auman Mane, ”Sang Singa Teranga”, belum akan berhenti, setidaknya hingga Piala Dunia 2026 yang dimulai Juni mendatang. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey, Dahono Fitrianto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti