Saham Anjlok, Dana Asing Mengalir ke SBN dan SRBI

Ketidakpastian ekonomi global dan nasional membuat investor beralih ke instrumen investasi berisiko rendah.

13 Feb 2025 17:40 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Investor asing masih aktif menarik dana investasi mereka dari pasar saham. Sementara itu, investasi asing relatif stabil di pasar surat utang dalam negeri, seperti pada produk Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Ketidakpastian ekonomi global dan nasional membuat investor beralih ke instrumen investasi berisiko rendah.

Bank Indonesia melaporkan, sejak awal 2025 sampai dengan 6 Februari, investor asing tercatat melakukan jual neto sebesar Rp 2,85 triliun di pasar saham. Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN) tercatat beli neto Rp 10,73 triliun dan di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat pembelian bersih senilai Rp 10,44 triliun.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mohamad Adityo, di Jakarta, Kamis (13/2/2025), mengatakan, penarikan dana investor asing di pasar modal, yang menjual produk saham, masih lebih besar dibandingkan nilai pembelian sejak Oktober 2024.

Keluarnya dana asing bahkan masih deras pada bulan kedua 2025. Total nilai jual bersih investor asing sejak awal Februari sampai Rabu (12/2/2025) telah mencapai Rp 5,5 triliun. Larinya investasi asing selaras dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang beberapa hari ini rontok ke bawah 6.500 dari posisi di level 7.000 pada awal Februari.

”Sampai saat ini kita lihat belum ada aksi beli kembali dari asing yang masih naik. Walaupun secara nominal sudah mulai jauh berkurang, daya belinya atau demand-nya untuk saham Indonesia masih belum baik,” ujarnya.

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/3/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari Senin (2/3/2019) sore, ditutup melemah 91,46 poin atau 1,68 persen ke posisi 5.361,25. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak turun 20,21 poin atau 2,3 persen menjadi 859,33, melemah setelah pengumuman dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) positif terkena virus Covid-19 (Corona Virus Desease). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/ama. *** Local Caption *** Covid-19

Sementara pasar surat utang, seperti SBN, tetap stabil. Bahkan, rupiah yang belakangan kembali melemah ke level Rp 16.000 lebih tidak memengaruhi selera investor asing yang mencakup 14 persen total investor untuk menyimpan uangnya di SBN.

”Biasanya kalau ada aksi jual di pasar obligasi, rupiah juga melemah. Sekarang, asing tidak aksi jual, tapi rupiah melemah lebih kepada faktor eksternal (pengeluaran dollar AS),” tuturnya.

Investor asing juga masih relatif bertahan di produk surat utang Bank Indonesia, SRBI, yang rilis pada September 2023 lalu. Nilai outstanding atau dana yang dikelola BI dari investor per akhir Januari sebesar Rp 849 triliun, atau sedikit turun dari puncak nilai outstanding per November 2024.

Nilai outstanding SRBI tersebut 27 persen di antaranya dimiliki investor asing. ”Tetapi, tiga bulan terakhir sudah mulai agak melandai seiring penurunan imbal hasil. Jadi, suku bunga SRBI turun di bawah jual SBN sehingga investor asing lebih aktif di SBN,” kata Adityo.

Tren penurunan imbal hasil atau yield terjadi pada awal 2025, mengutip situs Bareksa, pada 24 Januari, yield SRBI turun ke 6,84 persen, di bawah SBN yang 7,08 persen. Hingga 7 Februari 2025, yield SRBI kembali turun ke 6,57 persen, lebih rendah dari SBN yang masih 6,67 persen.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto, saat diwawancarai terpisah, menerangkan, besarnya aksi jual investor di pasar saham disebabkan baik faktor eksternal maupun internal Indonesia.

Salah satunya, masih terkait sentimen kebijakan Presiden AS Donald Trump. Fenomena Trump, menurut dia, juga pernah terjadi di masa kepemimpinannya usai terpilih pada 2016 lalu. ”Sampai mulai (kepemimpinannya) pada 2017, itu terjadi outflow (dana asing keluar) semua di pasar saham,” kata Rully.

Sementara pada 2017, ekonomi Indonesia positif menopang pasar saham dengan kebijakan Presiden Joko Widodo yang pro pada pembangunan dan sektor infrastruktur, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kali ini tidak mampu menopang tekanan luar negeri. Hal ini akibat adanya kebijakan-kebijakan yang kontradiktif dengan pertumbuhan ekonomi domestik.

”Antara lain, kemarin akhirnya Pak Prabowo mengurangi anggaran, ya, memotong belanja anggaran yang hampir Rp 300 triliun. Berdasarkan yang terakhir itu alokasinya mungkin akan lebih banyak ke program Makan Bergizi Gratis dan yang kedua itu ke hilirisasi. Nah, tetapi, semuanya ini masih belum jelas,” ucapnya.

Faktor lainnya adalah beratnya beban perbankan milik negara yang harus mendukung program-program pemerintah, seperti 3 juta rumah bersubsidi, hingga penghapusan dan relaksasi utang bagi UMKM. Beban kinerja terebut dihubungkan dengan penurunan harga saham perbankan BUMN yang selama ini banyak diincar investor asing.

Gedung Bank Indonesia di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (17/3/2022). Rapar Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,50 persen, suku bunga Deposiy Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bungan Lending Facility sebesar 4,25 persen. KOMPAS/RADITYA HELABUMI 17-03-2022

Penurunan suku bunga

Sementara itu, Pemerintah Indonesia juga belum memiliki kebijakan yang signifikan mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah tahun 2025. Untuk itu, menurut dia, pasar lebih menanti stimulus moneter yang diatur BI. Bank sentral RI itu diharapkan menurunkan suku bunga yang saat ini ada di level 5,75 persen.

”Jadi, satu-satunya kunci utamanya itu apakah BI akan berani menurunkan suku bunga atau nggak,” kata Rully.

Dalam kesempatan terpisah pekan ini, Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto menilai, BI kemungkinan akan lebih kaku mengambil kebijakan pelonggaran moneter. Artinya, penurunan suku bunga kemungkinan akan lebih terbatas pada tahun 2025.

Hal ini didorong kebutuhan pemerintah untuk berutang dan membayar bunga utang dari penerbitan SBN, yang bisa mencapai sebesar Rp 800 triliun. Suku bunga yang dijaga lebih tinggi akan meningkatkan daya tarik investor untuk berinvestasi di SBN.

”Pasokan permintaan akan perilisan surat utang yang diperkirakan bisa meningkat menyebabkan yield cenderung lebih kaku untuk diturunkan meskipun masih ada kebijakan pelonggaran moneter,” kata Suhindarto.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta