Investor masih meminati saham-saham perusahaan milik konglomerat daripada saham-saham konvensional seperti perbankan.
23 Jul 2025 16:55 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS - Indeks Harga Saham Gabungan diprediksi masih akan tumbuh positif di pekan keempat Juli 2025, setelah terus melejit melampaui 7.000 dalam dua minggu terakhir. Kenaikan ini masih ditopang sejumlah emiten milik konglomerat. Adapun saham perbankan dengan fundamental baik masih banyak ditinggalkan investor asing.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project, William Hartanto, Rabu (23/7/2025) memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini di kisaran 7.317-7.500.
IHSG pada Selasa (22/7/2025), berhasil menyentuh level tertinggi sepanjang 2025, di level 7.454 atau naik 5 persen sejak awal tahun. Meski terjadi aksi ambil untung yang membuat IHSG melemah tipis di 7.344 pada akhir perdagangan kemarin, perdagangan Rabu (23/7/2025), IHSG ditutup di harga 7.469.
"Rata-rata saham milik konglomerat jadi penggerak IHSG saat ini. Kemarin ada gejala profit taking, tapi itu tidak mematahkan tren, jadi masih aman. IHSG masih bisa menguat kembali dibantu oleh saham-saham tersebut," ungkap William kepada Kompas.
Saham konglomerat yang dimaksud antara lain dari emiten Prajogo Pangestu pemilik Grup Barito Pacific yang mengalami kenaikan signifikan di Juli.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/d9f622d550a7f383ff360dfbcfc92997-1000082404.png)
Dalam lima hari perdagangan bursa hingga Rabu, harga saham itu mengalami kenaikan signifikan, antara lain PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik hingga 9 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang naik sekitar 3 persen. Adapun saham yang baru melantai di bursa awal Juli, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), telah naik hingga 500 persen dalam tiga pekan terakhir.
Kenaikan harga saham Grup Barito, yang bergerak di bidang petrokimia, energi, dan sektor lainnya disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, saham BRPT terpompa aksi Prajogo yang melakukan pembelian 3 juta saham tersebut sekitar Rp 23,83 miliar.
Faktor lainnya adalah evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi memasukkan BREN dan saham Prajogo lainnya, yaitu PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dalam daftar saham yang jadi acuan investor global. Harga saham-saham tersebut sudah terkerek lebih awal.
Sentimen evaluasi MSCI juga mengerek harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), milik perusahaan Sinarmas di bidang pertambangan, energi baru dan terbarukan, teknologi, dan bahan kimia. Dalam sebulan terakhir, saham itu melambung hampir 20 persen ke kisaran harga Rp 66.000.
Saham konglomerat lainnya yang mengalami kenaikan harga adalah saham teknologi milik Otto Toto Sugiri, PT. PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Saham ini dalam lima hari terakhir mencatatkan kenaikan hingga 71 persen ke harga Rp 346.000. Harga itu mematenkan mereka sebagai saham termahal di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tren kenaikan saham ini tidak dipengaruhi aksi korporasi apapun sebagaimana dikonfirmasi perseroan dalam keterbukaan informasi, Senin (21/7/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/99b98c0fb5fec61fcf3f195578c5139c-1000082426.jpg)
Analis Investasi Capital Asset Management, Martin Aditya, saat dihubungi terpisah juga membaca bahwa saham penggerak kenaikan IHSG pekan ini masih akan dilanjutkan saham-saham milik konglomerat.
Sementara, saham-saham terafiliasi Prajogo Pangestu sudah mulai ditinggalkan sebagian investornya yang mengambil untung sesaat, ia melihat saham milik konglomerat di sektor tambang mineral akan mengambil alih. Ia menyontohkan saham tambang nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang dalam lima hari terakhir harganya naik 5 persen.
"Pekan ini kemungkinan masih bisa ditopang oleh emiten-emiten konglomerasi dan tambang metal, terutama emas yang harganya lagi agak meningkat," tuturnya.
Analis Infovesta, Ekky Topan, saat dihubungi terpisah juga membaca emiten pemimpin penggerak IHSG masih akan terkait saham milik konglomerat di sektor infrastruktur, bahan baku, dan teknologi. "Saham emiten konglomerasi seperti PP (Prajogo Pangestu), Bakrie ataupun group ADRO yang mulai menunjukkan penguatan," katanya.
Ekky membaca, tren ambil untung sebagian investor belum akan menahan tren kenaikan IHSG dalam waktu dekat. Baik Ekky dan Martin memproyeksikan IHSG sampai akhir pekan ini bisa bergerak di kisaran 7.250-7.500.
"Sinyal penguatan kembali terlihat, sudah mulai ada perlawanan dari level support di 7.300," katanya.
Saham-saham perbankan pada pekan ini juga diprediksi bisa mengalami kenaikan harga seiring dengan masuknya musim laporan keuangan semester I-2025. Namun, kenaikan harga tersebut diprediksi tidak besar karena masih besarnya faktor penekan.
Deretan saham perbankan milik negara seperti PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI) diprediksi akan merilis laporan keuangan semester pertama pada pekan terakhir Juli. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga diperkirakan akan mengumumkan kinerja keuangan mereka di paruh pertama 2025 pada akhir Juli.
Hari ini, emiten bank swasta seperti PT Bank Permata Tbk (BNPL) sudah melaporkan kinerja semester I-2025. Perusahaan itu membukukan kenaikan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 7,4 persen secara tahunan. Pencapaian ini diiringi dengan peningkatan laba bersih setelah pajak 7,6 persen menjadi sebesar Rp 1,6 triliun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/10/990ed277-0192-43e4-bb30-d7bcb5eeafb5_jpg.jpg)
Pencapaian ini, dalam keterangan rilisnya, disebut sebagai hasil penerapan strategi bisnis yang berkesinambungan dan konsisten serta didukung sinergi yang kuat dengan Bangkok Bank, yang mengontrol perseroan. Laporan ini memacu kenaikan harga saham ke Rp 2.800 per lembar atau naik 1 persen secara harian dan 189 persen sejak awal tahun.
William berpendapat, saham-saham perbankan bisa mendapat efek laporan keuangan yang dipercantik atau window dressing oleh perusahaan. Namun, potensi itu belum tentu bisa mendongkrak sentimen positif ke saham-saham perbankan secara umum.
"Menurut saya penguatannya akan terbatas karena terlihat dari popularitas saham-saham bank yang menurun karena performanya selama tujuh bulan di tahun ini juga kurang bagus. Sejauh ini belum ada akumulasi yang besar, malah lebih sering terlihat penjualan bersih investor asing yang rutin," ungkapnya.
Hal senada juga diutarakan Martin. Ia belum yakin harga emiten perbankan bisa naik karena investor masih akan menimbang kinerja sektor perbankan ke depan di tengah berbagai tekanan ekonomi. "Kinerja sektor perbankan dari sisi pertumbuhan kredit dan DPK agak menurun. Laporan bulanan perbankan besar di Mei 2025 juga tidak terlalu baik," ujarnya.
Dalam sepekan terakhir, ketika IHSG terus menanjak, harga saham-saham emiten perbankan justru menunjukkan tren pelemahan. Harga saham BBRI misalnya turun hampir 3 persen ke kisaran harga Rp 3.800 per lembar, harga saham BMRI turun 0,41 persen, BBNI turun sekitar 1 persen. Saham bank swasta seperti BBCA dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) masing-masing melemah sekitar 1 persen.
Berdasarkan indeks kumpulan saham perbankan, pergerakan harga emiten sektor finansial juga cenderung merosot sejak awal tahun 2025. Pada perdagangan Rabu (23/7/2025), indeks yang mencakup 106 emiten perusahaan finansial itu berada di level 1.373 atau melemah 2,86 persen secara tahun kalender berjalan.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari