Eskalasi geopolitik meningkatkan keuntungan di pasar energi dan pertahanan.
23 Jun 2025 12:35 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham dalam negeri ikut bergejolak menyusul eskalasi konflik Iran-Israel melibatkan Amerika Serikat yang baru-baru ini menyerang fasilitas nuklir Iran. Meski memicu koreksi pasar, dinamika geopolitik mutakhir ini diperkirakan memberi peluang kenaikan harga di saham sektor material dasar terkait dengan komoditas tambang.
Pasar saham Indonesia mengalami koreksi atau pelemahan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka turun 1 persen lebih pada perdagangan Senin (23/6/2025). Kapitalisasi pasar saham di Bursa Efek Indonesia pun menyusut hingga sekitar Rp 11.900 triliun dari Rp 12.099 triliun dari penutupan bursa di akhir pekan lalu, Jumat (20/6/2025).
Penurunan IHSG karena besarnya tekanan jual ini menyusul serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas pengembangan nuklir di Iran. Sementara itu, Iran menolak membuka negosiasi nuklir setelah mendapat sanksi baru dari AS.
”Investor menilai, risiko konflik masih tinggi dan potensi aksi balasan Iran bisa memperburuk ketidakpastian pasar,” kata tim analis Kiwoom Sekuritas Indonesia pada laporan Senin ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/23/213008032711a059b115c2d8d28e7568-20250623TOK9.jpg)
Beberapa analis menilai, lonjakan harga minyak bisa memaksa Iran ke meja perundingan. Sementara mengutip analisis Oxford Economics, jika Selat Hormuz sebagai salah satu jalur distribusi kapal tanker penting ditutup, harga minyak bisa meroket sampai 130 dollar AS per barel.
Pada saat yang sama, inflasi di Amerika Serikat bisa menembus 6 persen pada akhir 2025. Ini bisa menghapus seluruh peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada 2025.
Sejumlah negara importir (net sell) energi, seperti Jepang, India, Pakistan, Maroko, dan Eropa Timur, diproyeksikan menjadi yang paling terdampak oleh kenaikan harga minyak mentah. Sementara negara produsen, seperti negara-negara Teluk, Nigeria, Angola, dan Venezuela, kemungkinan mendapatkan keuntungan fiskal.
Kiwoom memprediksi, pergerakan IHSG masih ada di pola penurunan yang belum berakhir. IHSG diperkirakan bisa mencapai target konsolidasi 6.766 hingga 6.812. ”Di satu sisi, mungkin masih ada peluang trading (perdagangan jangka pendek) di sekitar sektor saham basic material, yang antara lain terkait dengan tambang logam, emas, minyak dan gas,” kata mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/ce102fb1-c3fa-470f-b380-97e4c40877fd_jpg.jpg)
Situasi ini tecermin dari persentase koreksi berbagai sektor saham di pasar modal Indonesia hingga pukul 10.30 WIB. Sektor saham material dasar mengalami penurunan paling rendah, yaitu 0,33 persen. Menyusul berikutnya adalah sektor transportasi yang minus 0,3 persen. Sektor konsumsi nonprimer dan teknologi masing-masing turun hingga 2,46 persen.
Beberapa saham sektor material dasar pagi ini mengalami kenaikan harga. Saham perusahaan migas PT Surya Esa Perkasa Tbk atau PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) naik 3,76 persen ke harga Rp 690 per saham.
Saham perusahaan tambang PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) naik 4,25 persen. Sementara saham perusahaan tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 1,6 persen dan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 1,88 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/23/b1f46b2bac44ff5feaf1240ff000fe4c-20250623TOK7.jpg)
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menganalisis, terkait dengan potensi pasar pekan ini, isu energi dan geopolitik akan menjadi sentimen kunci dalam perdagangan yang akan berlangsung singkat pekan ini. Ada libur Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah pada 27 Juni 2025.
”Geopolitik antara Israel-Iran masih krusial. Jika konflik mereda, minyak turun dan saham konsumen terangkat. Sebaliknya, jika eskalasi meningkat, pasar energi naik dan sektor pertahanan mendapat keuntungan,” kata David dalam keterangannya hari ini.
Ia pun memprediksi IHSG masih akan mengalami tekanan. Proyeksi ini melanjutkan tren pekan lalu yang membuat IHSG ditutup melemah hingga 3,61 persen dalam sepekan di level 6.907, dibandingkan pekan sebelumnya pada penutupan perdagangan, Jumat, 20 Juni 2025. Di masa penurunan IHSG ini, investor asing melakukan penjualan bersih mencapai Rp 4,6 triliun di pasar reguler.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .