Saling Dukung, Saling Jaga

Turun ke jalan atau tidak, kedegilan penguasa menguras emosi masyarakat. Ada kecemasan yang menggantung. Ada pula harapan yang coba diraih. Pemerintah harus dengar!

31 Agt 2025 07:16 WIB · Gaya Hidup

Oleh Herlambang Jaluardi, Sarie Febriane, Dwi Bayu Radius

Aksi massa menentang kesewenangan aparat negara tak cuma bikin panas jalanan. Warga yang berjarak dengan aksi-aksi itu juga punya keresahan yang sama. Keresahan itu yang mengaduk emosi, menyerap energi. Demi kewarasan dan semangat perlawanan, warga saling menjaga satu sama lain, juga saling mendukung.

Massa aksi membentangkan bendera Merah Putih di sekitar Mako Brimob Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (30/8/2025). Massa aksi masih berkumpul di sekitar Mako Brimob Polda Metro Jaya pada Sabtu pagi. Situasi sempat memanas saat polisi menembakan gas air mata dan massa aksi menembakkan petasan. TNI mencairkan ketegangan dengan mengajak dialog massa aksi.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
30-08-2025

Arif (22) baru bangun pada tengah hari Sabtu (30/8/2025). Dia kelelahan setelah malamnya ”turun ke jalan” bersama tiga temannya, Mikel dan Nungki. Tiga mahasiswa kampus swasta di Jakarta itu mendatangi Gedung DPR RI sekitar pukul 20.00. Tujuannya ikut membuka gerbang gedung rakyat itu. Upaya mereka dan demonstran lainnya berhasil, tapi di balik pagar ternyata polisi bikin formasi barikade rapat sekali, musykil ditembus dengan tangan kosong. Mereka juga tidak bawa ”senjata” apa pun, hanya badan dan tekad kuat.

Setelah hampir tiga jam berupaya menembus barikade, polisi mulai membabi-buta melontarkan gas air mata. ”Perih banget mata, rasanya kayak ditusuk jarum akupunktur,” ujarnya, setengah bercanda. Arif bawa pelindung diri, seperti kacamata goggle, masker berespirator, air khusus basuh, sampai oksigen botol.

Dia juga bawa kota P3K berisi obat-obatan luka. Kotak itu dia siapkan jika ada demonstran yang membutuhkan. Arif siap menjadi petugas medis dadakan karena pada aksi sebelumnya dia melihat banyak orang terluka dan pedih mata. Hampir lima menit sekali ada gas yang ditembakkan.

Malam itu, perlengkapan obat-obatannya tak terpakai. Tapi dia justru memapah temannya sendiri, Nungki, yang kliyengan karena keletihan dan terlalu banyak kena gas air mata. Perlengkapan keamanan Nungki tak selengkap Arif. Tiga serangkai itu memutuskan pulang dalam keadaan payah dan lapar. Mereka menuju SPBU Pejompongan tempat menitipkan motor mereka.

”Sebelum sampai, gue baru inget bawa sebungkus batagor dari rumah. Ya udah, kami duduk dulu di pinggir jalan dekat SPBU itu untuk makan batagor; sebungkus bertiga,” ujarnya. Solidaritas batagor membuat perut mereka selamat. Solidaritas petugas SPBU juga membuat motor mereka aman tak tersentuh maling. ”Masih banyak orang baik yang membantu kami,” lanjutnya.

Lain cerita dengan Vani (20), mahasiswa di Tangerang, Banten. Dia tidak ikut aksi, tapi memantau kondisi terkini lewat media sosial. ”Arus informasi di medsos itu liar banget. Sampai ada yang menggiring isu rasisme. Ini yang bikin cemas, sih,” katanya yang baru bisa tidur pukul 02.00 pada Sabtu itu.

Warga menggunakan odol di mukanya untuk meredakan perih dari gas air mata di depan Mako Brimob Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (30/8/2025). Massa aksi masih berkumpul di sekitar Mako Brimob Polda Metro Jaya pada Sabtu pagi. Situasi sempat memanas saat polisi menembakan gas air mata dan massa aksi menembakkan petasan. TNI mencairkan ketegangan dengan mengajak dialog massa aksi.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
30-08-2025

Akibat isu rasisme itu, ibunya melarang dia keluar rumah, apalagi ikut demo. Vani akhirnya menurut dan membatalkan rencana keluar rumah. Padahal, hampir tiap akhir pekan, Vani main ke Jakarta. Sang Ibu cemas isu rasisme pada era Reformasi 1998 terulang. Waktu itu keluarga mereka diselamatkan tetangga dari amuk massa.

Vani gusar hoaks dimakan mentah-mentah oleh banyak orang. Berita bohong itu bisa memprovokasi orang dan konfliknya menjadi horizontal mengarah ke ras tertentu. ”Ini (disinformasi) adalah pola-pola lama usungan Orde Baru. Misalnya itu halte dibakar seolah-olah oleh massa aksi. Ujungnya, demonstran yang menuntut reformasi birokrasi jadi pihak yang disalahkan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Vani tak berhenti melahap arus informasi itu. dia memilah mana yang esensial, lalu mencari verifikasi dari produk jurnalistik yang dia percaya. Jika sudah yakin betul, Vani menyebarkannya. ”Biar orang-orang enggak termakan isu,” ucapnya.

Lewat ponselnya, di sela-sela membaca perkembangan situasi, Vani menyapa kawan-kawannya, baik yang turun di jalan atau tidak, memastikan keselamatan mereka. Pertanyaannya biasanya tentang situasi di lapangan. ”Misalnya, ’Bagaimana kondisi di sana? Kalau sudah enggak aman, mending minggir atau pulang aja.’ Semalem ada teman yang kirim kabar juga udah sampai rumahnya jam 00.30,” katanya.

Sementara Lili (33) terkejut mendapati Jakarta memerah ketika baru pulang dari Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (29/5/2025). Rumah kontrakannya di daerah Slipi hanya berjarak sekitar satu kilometer dari gedung DPR RI, tempat konsentrasi massa.

”Posisi rumah kami itu adalah jalur mitigasi demonstran. Waktu demo hari Kamis itu, asap gas air mata masuk ke rumah tetangga,” katanya. Suaminya sedang ada di Lampung, jadi Lili enggan tinggal sendiri di rumah itu. Dia cemas sendirian. Apalagi, sebagai penghuni baru, dia belum terlalu kenal tetangga kiri-kanan.

”Ada isu penjarahan di Kwitang itu, gue merasa ketakutan tiba-tiba. Jadi gue memutuskan pulang ke rumah orangtua di Bekasi. Sudah puluhan tahun orangtua tinggal di sini, jadi memang sudah akrab sama tetangga, bisa sama-sama melindungi. Di rumah ada adik yang nemenin juga,” kata peneliti isu sosial ini.

Warga berjalan di depan Halte Transjakarta Senen Sentral, Jakarta, yang rusak, Sabtu (30/8/2025). Sebanyak tujuh halte Transjakarta dibakar massa aksi pada Jumat (29/8/2025) malam. Daftar halte yang dibakar massa adalah Halte Bundaran Senayan, Halte Pemuda Pramuka, Halte Polda Metro Jaya, Halte Senen Toyota Rangga, Halte Sentral Senen, Halte Senayan Bank DKI dan Halte Gerbang Pemuda. Imbas pembakaran itu Transjakarta tidak melayani penumpang pada Sabtu pagi. Transjakarta masih memantau kondisi yang berkembang di lapangan.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
30-08-2025

Meski begitu, rasa aman yang dirasa Lili di rumah orangtuanya tidaklah utuh. Yang membikinnya gusar adalah narasi penjarahan bermuatan rasisme yang beredar serempak di berbagai media sosial. Dia juga mencurigai pembakaran fasilitas umum, seperti halte bus atau pintu tol adalah aksi terkomando.

”Ini yang jadi obrolan antara gue dan nyokap. Rekayasa penggerakan massa seperti ada rantai komandonya,” ujarnya. Dia dan ibunya sama-sama mendukung aksi demonstrasi. Namun, ketika muncul isu sentimen ras, kengerian amuk 1996-1998 membayangi lagi.

Turut bersuara

Saling bantu, mendukung, bersimpati, dan berbagi keresahan juga menyeruak di kalangan pesohor dari dunia hiburan. Berbagai ekspresi mewarnai akun-akun mereka di media sosial (medsos). Penyanyi Andien (40) dan suaminya Irfan Wahyudi (49), Jumat (29/8/2025) malam, membantu tim relawan Kitabisa untuk mendistribusikan obat-obatan dan oksigen kaleng bagi para demonstran di lokasi aksi di beberapa titik lokasi di Jakarta.

”Beli (obat dan oksigen) di sekitar 3 apotek, terus suamiku yang bawa logistiknya menembus kerumunan massa. Jendela mobil dibuka dan permisi ke massa, mereka memberi jalan,” kata Andien, Sabtu (30/8/2025). Menurut Andien, ketika kita membawa diri dengan tepat, bersikap bersahabat dengan para demonstran, situasi bisa terjaga kondusif.

Kalangan pesohor lain yang juga bersuara misalnya pemain film Hannah Al Rashid yang berbagi kisah personalnya yang selama ini bersahabat dengan beberapa pengemudi ojek yang membantunya mengantar ke berbagai tempat. Hannah mengungkapkan kesedihannya yang mendalam dengan tewasnya Affan Kurniawan yang dilindas rantis Brimob.

Pengunjuk rasa berorasi di atas pagar markas Polda Sumatera Barat yang dijebol massa saat demonstrasi di Kota Padang, Jumat (29/8/2025). Massa mengutuk tindakan kekerasan oleh kepolisian dalam pengamanan demonstrasi, bahkan menewaskan Affan Kurniawan, pengemudi ojek daring di Jakarta.

Ada pula sosok pesohor yang terbilang sangat minim menunjukkan sikap terhadap dinamika sosial politik, kali ini bersuara lugas. Sebut saja misalnya aktor Nicholas Saputra di akunnya di X, mengunggah ulang sebuah berita tentang Kepala Polri yang meminta maaf kepada keluarga besar ojek daring, dengan disertai komentar ”Mundur, Pak”.

Desakan Nicholas itu pun langsung direspons antusias warganet. Aktor lainnya Fedi Nuril, yang selama ini memang cukup vokal di medsos menanggapi desakan Nicholas itu dengan unggahan: ”Nicholas Saputra has enter the arena. Betul Pak @ListyoSigitP (maksudnya Kepala Polri Listyo Sigit), Anda seharusnya mundur,” tulis Fedi.

Persohor lainnya, Nikita Willy, juga mengunggah ulang foto dari harian Kompas tentang aksi demonstrasi dan menambahi komentarnya yang menyuarakan keresahan hatinya. ”We cry out in the streets, yet privilege still speaks louder than our pain”, tulis Nikita.

Harapan

Andien berharap situasi kerawanan saat ini bisa segera mereda dan kegiatan warga bisa berlangsung normal kembali. Meski ia pada prinsipnya mendukung tuntutan publik luas, ia berharap aksi kekerasan seperti penjarahan tidak terjadi. Menurut dia pihak otoritas mesti menujukkan sikap dan itikad yang baik dengan mau mendengar tuntutan rakyat luas.

Spanduk yang dibentangkan di Polda Jatim, Surabaya, Sabtu (30/8/2025), oleh massa BEM Nusantara. Mereka mengecam tindakan brutal polisi dalam aksi di Jakarta yakni melindas pengemudi ojek on-line Affan Kurniawan (21) sehingga korban meninggal dunia.

Lili menganggap kematian Affan adalah kesalahan fatal aparat polisi yang berujung pada kemarahan publik luas. Polisi bertanggung jawab pada penanganan brutal demi meredam demonstran. Namun, yang jangan sampai terlewat adalah warga yang marah karena tunjangan DPR yang malah melejit ketika rakyat terimpit.

”Pernyataan maaf dari polisi dan pemerintah sama sekali tidak menggambarkan komitmen memperbaiki sistem kepolisian. Pemerintah juga tidak mengakui adanya kesalahan struktural dan upaya memperbaiki diri. Amuk warga di berbagai tempat kayaknya baru akan berakhir kala DPR membatalkan tunjangan, pemerintah mengakui kebrutalan polisi, dan berjanji mereformasi kepolisian,” kata Lili.

Vani juga sepakat bahwa kekacauan ini bisa berakhir kalau ada perubahan mendasar dari pemerintah, kepolisian, dan legislatif. ”Yang penting adalah reformasi kepolisian. Mereka beringas banget. Dan, jangan sampai juga militer masuk ke pemerintahan,” ujarnya berapi-api.

Arif pun setuju kalau permintaan maaf pejabat tidak berbunyi apa-apa. Inti masalahnya tidak selesai. ”Mereka menganggap kita seperti binatang. Melindas rakyat jelata seperti Affan itu buktinya. Kalau mau minta maaf, mah, nanti aja pas Lebaran,” gerutu Arif.

”Penyelesaian kasus Affan harus transparan. Tapi mau bagaimana juga, kita sudah susah percaya sama mereka (aparat). Dibohongin terus-terusan, gimana mau percaya. Kita turun ke jalan, kan, karena sudah muak dengan perilaku mereka,” lanjutnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Herlambang Jaluardi, Sarie Febriane, Dwi Bayu Radius
 | 

Editor:

Moh. Hilmi Faiq
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra