BerandaFotografiSampah Plastik Barat ”Dis...

Sampah Plastik Barat ”Disembunyikan” di Myanmar

Di lingkungan kelas pekerja di Yangon, Myanmar, sampah plastik menumpuk setinggi 1 meter. Sampah bahan beracun tersebut, menurut penyelidikan baru-baru ini, berasal dari pembuangan sampah negara-negara Barat.

15 Okt 2023 16:33 WIB · Fotografi

Oleh RIZA FATHONI

Di lingkungan kelas pekerja di Yangon, Myanmar, sampah plastik menumpuk setinggi 1 meter. Sampah bahan beracun tersebut, menurut penyelidikan baru-baru ini, berasal dari pembuangan sampah negara-negara Barat yang semakin merajalela.

Sampah plastik di Kotapraja Shwepyithar Yangon, Rabu (11/10/2023).

Selama beberapa tahun, sejumlah lokasi di Kotapraja Shwepyithar dipenuhi sampah yang menyumbat ladang, menghalangi drainase saat musim hujan, dan menyebabkan risiko kebakaran. ”Dulu, saat musim hujan saya bisa memetik selada air dari ladang ini untuk dimakan,” kata seorang warga kepada AFP yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan. ”Karena sampah plastik, sekarang kami tidak bisa mendapatkan selada air untuk dimakan. Sebaliknya, kami malah mencium baunya,” ujarnya.

Sampah tersebut merupakan sisa produksi plastik global, yang meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal abad ini hingga mencapai 460 juta ton per tahun. Investigasi yang dirilis minggu ini oleh ruang berita kolaboratif Lighthouse Reports dan enam mitranya menemukan bahwa beberapa limbah yang dibuang di sini berasal dari Barat. Campuran tersebut mencakup pembungkus dan wadah untuk produk mulai dari yoghurt Danone hingga keju perusahaan Polandia, Spomlek.

Tumpukan sampah plastik di Kotapraja Shwepyithar Yangon, Yangon, Rabu (11/11/2023). Di lingkungan kelas pekerja di Yangon, Myanmar, tersebut sampah plastik menumpuk setinggi 1 meter.
Sampah plastik yang ditutupi campuran sekam dan pasir di Kotapraja Shwepyithar, Yangon, Rabu (11/11/2023).

Barang-barang dari supermarket Inggris milik Jerman, Lidl, dan kemasan pasta dari Unico Kanada juga ditemukan. Tak satu pun dari sampah plastik tersebut berasal dari Myanmar, tetapi sampah-sampah tersebut berakhir di sana meski ada undang-undang yang melarang impor sampah plastik kecuali sampah tersebut bersih dan siap untuk didaur ulang.

Larangan tersebut diberlakukan setelah China berhenti menerima sampah plastik asing pada 2018. Beberapa pabrik daur ulang setempat mengakui kepada Lighthouse Reports bahwa sampah yang tidak dapat mereka proses sering kali dibuang atau dibakar.

Bagaimana sampah tersebut masuk ke Myanmar, dan berapa jumlahnya, masih belum jelas. Investigasi menunjukkan bahwa Thailand adalah jalur utama ekspor plastik ilegal. Menurut data United Nations Comtrade, sebagian besar impor sampah plastik Myanmar berasal dari Thailand.

Hampir 7.500 ton masuk pada 2021, tahun terakhir mereka melaporkan angka tersebut. Namun, perbatasan sepanjang 2.400 kilometer yang dimiliki kedua negara sangat rawan serta mudah dilintasi oleh para pedagang manusia dan penyelundup.

Hasil investigasi menunjukkan bahwa bahan beracun tersebut berasal dari sampah negara-negara Barat dan semakin merajalela.

Lighthouse Reports menyebutkan bahwa para pejabat di kedua sisi perbatasan tidak berbuat banyak untuk memeriksa sampah yang datang. Willie Wilson, mantan Wakil Ketua Kelompok Kerja Kejahatan Pencemaran Interpol, menyatakan bahwa data yang dikumpulkan sering kali sudah ketinggalan zaman dan tidak ada pemeriksaan terhadap data tersebut. Data yang dimaksud tidak hanya pada Comtrade, tetapi juga seluruh data perdagangan. Kesimpangsiuran data tersebut membuat fakta sebenarnya tersembunyi.

Pada Juli, junta Myanmar mengatakan ada perbedaan 1,639 miliar dollar AS antara barang yang menurut Thailand diekspor ke Myanmar dan barang yang menurut Myanmar diimpor dari Thailand. Kesenjangan yang besar ini ”mungkin disebabkan oleh perdagangan ilegal” menurut Komite Pengarah Pemberantasan Perdagangan Ilegal.

Seorang anak laki-laki berjalan melewati sampah plastik yang ditutupi campuran sekam dan pasir di Kotapraja Shwepyithar, Yangon, Rabu (11/10/2023).

AFP menghubungi beberapa perusahaan yang produknya ditemukan di Myanmar untuk menanyakan bagaimana produk tersebut bisa sampai di sana, tetapi tidak mendapat jawaban segera. Penduduk setempat di Shwepyithar mengatakan kepada AFP bahwa sebagian besar sampah yang dibuang di lingkungan mereka berasal dari pabrik daur ulang di kawasan industri terdekat.

Namun, risiko memprotes tindakan seperti itu di Myanmar, yang dijalankan oleh junta militer sejak kudeta tahun 2021, cukup besar. Hal ini menyebabkan area terbuka di Shwepyithar yang dulunya diperuntukkan bagi lapangan sepak bola berubah menjadi tumpukan sampah plastik, kata seorang warga.

Kawasan lingkungan permukiman yang dikotori tumpukan sampah plastik di Kotapraja Shwepyithar Yangon, Rabu (11/10/2023).

Salah seorang sumber AFP yang meminta tidak disebutkan namanya untuk berbicara tentang masalah sensitif tersebut menyatakan bahwa kejahatan lingkungan ini tidak baik untuk jangka panjang. Meski demikian, warga tidak bisa berbuat apa-apa akan hal tersebut. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

RIZA FATHONI
 | 

Editor:

DANU KUSWORO