Kompas.id Brief
”KOMPAS” BRIEF

Sampai Kapan Jalur Kapal Tanker di Selat Hormuz Terkendala?

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menghambat pengiriman minyak global. Lalu, sampai kapan jalur kapal tanker di selat itu terkendala?

17 Mar 2026 08:00 WIB · Internasional

AP/Rafiq Maqbool

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana kronologi penutupan Selat Hormuz?
  2. Mengapa penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak?
  3. Bagaimana reaksi AS terhadap penutupan Selat Hormuz?
  4. Sampai kapan jalur kapal tanker di Selat Hormuz terkendala?
  5. Apa pelajaran yang bisa dipetik dari penutupan Selat Hormuz?

Bagaimana kronologi penutupan Selat Hormuz?

copy title

Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu sekaligus menandai dimulainya perang. Iran pun langsung menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional dan membatasi kapal yang boleh melintas.

Rencana menutup jalur perairan yang memisahkan Iran dengan Jazirah Arab ini telah diperingatkan beberapa hari sebelumnya. Pada 17 Februari 2026, Garda Revolusi Iran (IRGC) juga menutup sebagian Selat Hormuz selama beberapa jam. IRGC berlatih perang di selat itu.

Penutupan berlangsung di tengah perundingan nuklir Iran dan AS yang dimediasi oleh Oman. AS menuding Iran mengembangkan senjata nuklir. Iran membantah tudingan itu. Perundingan tak mencapai kesepakatan yang berarti meskipun upaya perundingan masih berjalan. Namun, AS-Israel memutuskan menyerang Iran di tengah perundingan. Perang pun pecah.

Iran memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melewati Selat Hormuz. Akibatnya, pengiriman barang dan perdagangan melalui jalur laut itu terganggu. Iran menyerang sejumlah kapal tanker yang berada di sekitar selat itu.

Mengapa penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak?

copy title

Selat Hormuz merupakan jalur vital pasokan energi dunia. Lebih dari 17 juta barel minyak mentah, atau sekitar 20 persen dari total produksi minyak global, melintasi perairan ini setiap hari. Selat ini juga merupakan jalur utama distribusi gas alam cair, termasuk ke Eropa.

Saat Selat Hormuz ditutup, distribusi minyak dan gas tersendat. Sejumlah negara Teluk penghasil minyak, seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, terpaksa mengurangi produksinya karena tangki penyimpanan penuh akibat berkurangnya kemampuan untuk mengekspor minyak mentah.

Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak. Untuk pertama kalinya sejak Juni 2022, harga minyak dunia tembus di atas 100 dolar AS per barel. Di Eropa, harga gas terus naik hingga 50 persen sejak perang dimulai.

Kenaikan harga minyak dan gas berdampak luas. Sejumlah negara, terutama yang bergantung pada pasokan dari Timur Tengah, terpaksa mengambil kebijakan penghematan energi. Sebab, cadangan minyak dan gas terus menipis seiring perang yang masih berkecamuk.

Bagaimana reaksi AS terhadap penutupan Selat Hormuz?

copy title

Presiden AS Donald Trump mendesak negara-negara sekutu mengirimkan kapal perang ke Iran. Tujuannya, untuk membuka blokade Selat Hormuz yang ditutup Iran. Perang pun memanas dan berpotensi melibatkan lebih banyak pihak.

Trump menyatakan sudah berkoordinasi dengan negara-negara sekutu untuk mengamankan jalur tersebut. Ia mengklaim AS telah menghancurkan kemampuan militer Iran. Namun, Iran dapat mengirimkan drone, menjatuhkan ranjau, dan menembakkan rudal untuk menyerang kapal yang melalui Selat Hormuz.

Sejumlah negara sekutu justru menolak permintaan Trump. Australia memastikan tak akan mengirim kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz. Langkah serupa diambil Jepang. Perancis lebih memilih mempertahankan posisi defensif terkait konflik di Timur Tengah.

Trump juga meminta Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk membantu membuka blokade Selat Hormuz. Namun, Pemerintah Jerman, salah satu anggota NATO, menyatakan, perang di Timur Tengah yang dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran tidak ada hubungannya dengan NATO dan bukan perang NATO.

Negara anggota NATO lainnya, Inggris, juga menyatakan tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas di Iran. AS pun berpaling pada China. Beijing hanya menyatakan akan memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk deeskalasi.

Sampai kapan jalur kapal tanker di Selat Hormuz terkendala?

copy title

Perang Iran telah berlangsung lebih dari dua pekan. Belum ada tanda-tanda perang berakhir dalam waktu dekat. AS dan Israel terus menyerang Iran. Sementara Iran gencar membalasnya dengan menembakkan rudal dan drone.

Ketegangan di Selat Hormuz pun masih berlanjut. Pemerintah Iran telah memberikan ”lampu hijau” untuk mengakses Selat Hormuz secara terbatas, Minggu (15/3/2026). Sejumlah kapal kecil dari beberapa negara diizinkan melewati selat itu, kecuali AS dan sekutunya.

Dilansir dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan telah didekati oleh sejumlah negara yang mencari jalur aman bagi kapal-kapal mereka. Beberapa kapal telah diizinkan lewat, tetapi Araghchi tidak menyebutkan secara detail asal negara kapal-kapal tersebut. Beberapa negara yang dilaporkan mendapatkan izin lewat adalah Pakistan, India, dan Turki.

Belum ada keterangan yang pasti dari Iran kapan Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya. Namun, jika upaya membuka blokade dilakukan dengan mengerahkan kapal perang seperti ajakan Trump, eskalasi perang bakal meningkat dan menyeret lebih banyak negara terlibat. Sementara pendekatan diplomasi untuk membuka blokade itu secara utuh masih sulit terwujud untuk saat ini.

AS menuding Iran memasang ranjau di Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht Ravanchi membantah tudingan itu. Pada Maret 2025, intelijen AS memasukkan ranjau laut sebagai salah satu ancaman paling serius di selat tersebut.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari penutupan Selat Hormuz?

copy title

Penutupan Selat Hormuz telah mengacaukan distribusi energi global. Banyak negara kelimpungan meredam dampaknya. Hal ini menjadi pelajaran penting mengenai rentannya ketahanan energi di tengah memanasnya geopolitik.

Negara-negara Eropa yang berjarak ribuan kilometer dari kawasan Timur Tengah pun ikut menderita. Uni Eropa mengimpor lebih dari 90 persen minyak dan 80 persen gasnya. Para pemimpin Uni Eropa sedang menyusun langkah-langkah darurat untuk melindungi masyarakatnya dari lonjakan harga energi.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, ketergantungan pada bahan bakar fosil impor terus menempatkan kawasan itu dalam posisi yang lemah dibandingkan kawasan lain. Krisis Timur Tengah saat ini menjadi pengingat keras tentang kerentanan yang ditimbulkannya.

Strategi menghadapi perubahan iklim untuk mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan dan nuklir yang diproduksi secara lokal akan memperkuat ketahanan energi negara-negara tersebut. Selain itu, mereka akan terbebas dari dampak fluktuasi harga bahan bakar yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan