Perjalanan Rafael Nadal sebagai petenis profesional berakhir. Nadal meninggalkan arena sebagai petenis lapangan tanah liat terbaik.
20 Nov 2024 08:59 WIB · Olahraga
Nadal mengucapkan salam perpisahan di depan istrinya, Maria Francisca Perello, yang menggendong putranya, Rafael Nadal Junior, orangtua, adiknya, Mariabel, yang menangis selama kakaknya berbicara di depan penonton setelah Spanyol dikalahkan Belanda 1-2 pada perempat final Piala Davis.
Mantan petenis nomor satu dunia itu memainkan laga terakhir dalam kariernya saat melawan Botic van de Zandschulp pada pertandingan pertama di Palacio de Deportes Jose Maria Martin Carpena, Malaga, Spanyol, Selasa (19/11/2024), dan kalah 4-6, 4-6. Carlos Alcaraz membuat posisi berimbang setelah menang pada partai kedua, tetapi Spanyol akhirnya tersingkir setelah kalah pada partai ganda.
Pensiun Nadal bisa saja tertunda jika Spanyol lolos ke semifinal. Namun, perjalanan tim dengan enam gelar Piala Davis itu berlangsung singkat pada putaran delapan besar 2024 yang berlangsung pada 19-24 November.
Pelatih Nadal, Carlos Moya, dan anggota tim Spanyol lain berada di sekitar petenis berusia 38 tahun itu pada akhir kariernya. Tim Belanda dan pendukung mereka yang mengenakan kaus oranye juga tetap berada di stadion saat panitia turnamen menggelar acara untuk Nadal.
Mereka bergabung bersama fans Spanyol, memenuhi tribune dengan kapasitas sekitar 15.000 orang. Saat Nadal bertanding, nyanyian dengan kata ”Rafa!” dan ”Espana!” selalu terdengar saat jeda perebutan poin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/20/682bc4dcbbb0a28d94afef528ce06544-AFP_36MW3Q6.jpg)
Hanya saja, salah satu sosok penting dalam hidupnya, yaitu paman dan juga pelatihnya selama 27 tahun, Toni Nadal, tak ada di tribune. Toni memang mengatakan kemungkinan tak hadir dalam momen yang terlalu emosional baginya itu.
Namun, ketika ditanya, ingin seperti apa Nadal dikenang setelah tak lagi menjadi petenis, dia menyebut peran Toni yang begitu besar dalam mendidiknya sebagai petenis dan bagaimana harus tetap rendah hati sebagai manusia.
”Ada gelar juara dan rekor yang saya raih, tetapi saya ingin diingat sebagai orang yang baik yang berasal dari desa kecil di Mallorca. Sebagai anak kecil yang mengikuti mimpinya dan mewujudkannya lebih baik daripada apa yang dia impikan. Saya beruntung mempunyai paman yang menjadi pelatih di sana dan keluarga yang selalu mendukung dalam setiap momen,” kata Nadal.
Sebagai bagian dari acara perpisahan itu, Nadal menerima berbagai ucapan penghargaan dari nama-nama besar di arena olahraga. Serena Williams, Roger Federer, Andy Murray, dan Novak Djokovic mewakili petenis. Ada pula Andres Iniesta dan Raul Gonzalez dari lapangan sepak bola.
Sebelum hari pertama Piala Davis berlangsung, Direktur Turnamen Feliciano Lopez bercerita bahwa Murray dan Djokovic meminta izin untuk hadir dalam acara. Sementara, Federer tak pernah memberi pernyataan apakah akan hadir di Malaga atau tidak.
Mereka dan penggemar tenis di seluruh dunia mengetahui rencana pensiun Nadal sejak dia mengumumkannya melalui media sosial pada 10 Oktober. Seketika itu pula, dunia tenis ramai membicarakan tentang pensiun Nadal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/19/463dc7f51980a772510abe68858f58d1-IMG_8592.jpg)
Federer tak hanya mengungkapkan pendapatnya tentang Nadal pada 10 Oktober itu. Pada hari yang sama dengan hari pertandingan Spanyol melawan Belanda, dia menulis surat yang diunggah di media sosial.
”Kamu menantangku dengan cara yang tidak bisa dilakukan orang lain. Kamu membuat saya membayangkan kembali permainan saya, bahkan, sampai mengubah ukuran kepala raket, berharap mendapat keunggulan,” kata Federer dalam suratnya.
Sang maestro tenis itu bercerita tentang pertandingan pertama melawan Nadal di Miami Masters 2004, momen-momen saat menjadi rival sekitar dua dekade, hingga ketika Nadal berada di sampingnya saat momen Federer pensiun pada usia 41 tahun. Federer menjalani laga terakhir dalam kejuaraan beregu Piala Laver 2022 di London, Inggris, yang mempertemukan tim Eropa dan tim Dunia.
Saat itu, selain keluarga, tim pelatih, teman dekat, dan para penggemarnya, Federer dikelilingi para rivalnya: Nadal, Djokovic, dan Murray. Keempatnya pernah mendapat julukan ”Big Four” karena dominasi mereka dalam ajang besar. Mereka berada satu tim dengan Federer untuk membela tim Eropa.
Nadal datang ke Piala Laver hanya untuk berpasangan dengan Federer pada hari pertama dari tiga hari turnamen. Setelah itu, dia kembali ke Spanyol karena harus bersama istrinya yang akan melahirkan.
Ketika tiba giliran Nadal pensiun, dia tak meminta Federer untuk datang. Nadal bercerita, dia tak menghubungi Federer karena kesibukan rekannya itu. ”Situasinya berbeda. Dalam Piala Laver, saya datang untuk bermain. Saat ini, saya tampil bersama tim Spanyol,” kata Nadal.
Citra Nadal mungkin tak sebesar Federer yang telah menjadi ikon global. Namun, Nadal menjadi petenis terbaik di lapangan tanah liat, hingga mendapat julukan ”Raja Lapangan Tanah Liat”. Dia memiliki 63 gelar juara dari turnamen tanah liat dari total 92 gelar.
Sebanyak 14 gelar itu berasal dari Grand Slam Perancis Terbuka yang membuatnya menjadi petenis dengan gelar terbanyak dari satu Grand Slam. Di kompleks lapangan tenis Roland Garros terdapat patung Nadal dari baja setinggi tiga meter yang diperkenalkan sejak 2021.
Dengan rekam jejak itu, rasanya sulit untuk melihat munculnya petenis lain yang bisa mendominasi di lapangan tanah liat seperti Nadal. Persentase kemenangannya di lapangan berlapiskan tumbukan batu bata itu adalah 90,5 persen, hasil dari 484 kali menang dan 51 kali kalah.
Gaya main, dengan pukulan heavy topspin sebagai senjata, menjadi faktor utama yang membuatnya lebih sukses di lapangan tanah liat yang berkarakter lambat dan memantulkan bola cukup tinggi. Namun, dengan gaya main yang sama, Nadal bisa menjuarai turnamen di lapangan keras dan rumput yang berkarakter cepat, meski membutuhkan upaya yang lebih keras, beberapa penyesuaian, dan motivasi tinggi untuk juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/20/4083492f0ef8c8cd7e117e4c73d9639a-RAFAEL_NADAL_PARERA.png)
Di Wimbledon, misalnya, Nadal baru bisa juara pada final ketiga, pada 2008, setelah mencapai fase yang sama pada dua tahun beruntun sebelumnya. Lawan pada tiga final itu sama: Federer.
Pada final 2006, Nadal kalah dalam empat set dari Federer yang telah menjuarai Wimbledon pada tiga edisi sebelumnya secara beruntun. Di kesempatan kedua, setahun berikutnya, adaptasi Nadal di lapangan rumput All England Club lebih baik hingga bisa bermain lima set.
Keinginan besar untuk menjuarai Wimbledon sedari kecil membuatnya sangat terpukul oleh kekalahan itu. Ayahnya, Sebastian Nadal, melihat anak pertamanya itu menangis di bawah air pancuran di ruang ganti pemain selama 30 menit.
Baru pada final ketiga, Nadal bisa mengalahkan Federer dan meraih gelar Grand Slam pertamanya di luar lapangan tanah liat. Setelah Nadal memenangi dua set awal, Federer memperpanjang pertandingan menjadi lima set.
Dalam laga yang dua kali dihentikan karena hujan, lalu selesai saat stadion telah gelap, Nadal menang 6-4, 6-4, 6-7 (5), 6-7 (8), 9-7 setelah bertanding selama empat jam 48 menit. Kali ini, Federer yang terpukul hingga menangis.
Pertandingan itu disebut penggemar tenis dan beberapa legenda tenis dunia sebagai laga terbaik, setidaknya di era Terbuka.
Meski lebih sering diganggu cedera dibandingkan petenis lain, Nadal masih bisa 22 kali menjuarai Grand Slam. Jumlah itu menjadi yang kedua terbanyak di tunggal putra, di bawah Djokovic dengan 24 gelar.
Dia pun menjadi salah satu dari hanya lima petenis tunggal yang memiliki pencapaian ”Golden Slam”, yaitu meraih gelar dari arena Grand Slam secara lengkap ditambah medali emas Olimpiade. Nadal meraih emas Olimpiade saat tampil di Beijing 2008. Adapun petenis lain dengan pencapaian serupa adalah Steffi Graf, Andre Agassi, Serena Williams, dan Djokovic yang melengkapi gelar Grand Slam dengan emas Olimpiade Paris 2024.
Cedera Nadal adalah cedera bawaan di telapak kaki kiri yang hampir membuatnya pensiun pada awal karier di arena tenis profesional. Gaya bermain yang sangat fisikal menjadi faktor lain tubuhnya mudah cedera. Toni bercerita, Nadal terbiasa hidup dalam cedera dan kesakitan. Tak jarang, dia harus tampil dengan obat penahan nyeri saat bertanding.
Nadal menjalani kompetisi dengan kondisinya tersebut berkat mental juara, faktor yang membedakan petenis ”Big Three” (Federer, Nadal, dan Djokovic) dengan petenis lain. Nadal bisa bertahan dengan cedera dalam ketatnya persaingan tenis profesional berkat motivasi besar dan kecintaan pada tenis yang diwujudkan dalam kegigihan di lapangan.
Maka, penonton tenis tak jarang bisa menyaksikan Nadal melakukan sprint dari belakang ke depan net, lalu berbalik lagi ke belakang atau dari sisi kiri ke kanan lapangan dan sebaliknya. Pukulan running forehand, yaitu forehand yang dilakukan sambil berlari dari sisi lapangan berlawanan yang menghasilkan banana shot, juga, menjadi ciri khas yang membuat penonton terhibur.
Karakternya yang gigih itulah yang menjadi inspirasi bagi anak-anak di banyak negara, juga, bagi sesama petenis dan bintang olahraga lain. Mereka yang pernah berhadapan dengan Nadal menyebutnya sebagai petenis yang paling kompetitif.
Kata ”kompetitif” dan ”pejuang” menjadi dua kata yang paling sering disebutkan ketika Asosiasi Tenis Profesional (ATP) membuat video yang meminta petenis lain mendeskripsikan Nadal dalam tiga kata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/19/60cbee339cb951f6efd826fa3b6092b1-nadal_AO2022.jpg)
Petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, belajar hal lain dari Nadal. ”Dia adalah orang yang luar biasa. Saya belajar mengatasi situasi sulit di lapangan. Selain itu, Rafa memberi contoh untuk berperilaku baik di lapangan, tetap rendah hati meski telah sukses,” ujar Sinner yang tiga kali melawan Nadal pada 2020 dan 2021 dan selalu kalah itu.
Petenis putri, Iga Swiatek, yang memang menjadi penggemar berat Nadal, selalu membayangkan menjadi idolanya itu saat menghadapi situasi sulit. ”Saya membayangkan apa yang akan dilakukan Rafa. Dia satu-satunya petenis yang selalu saya tonton dan membuat saya selalu memiliki motivasi ekstra untuk mendorong diri sendiri menjadi lebih baik,” ujar Swiatek.
Dua nama besar di sepak bola, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, menyebut, dedikasi dan renjana Nadal pada tenis menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. ”Selamat atas kariermu yang luar biasa dan selamat menikmati masa pensiunmu,” kata Ronaldo.
Dengan warisan berupa kegigihan dan semangat pantang menyerah yang tinggi itu, Djokovic berharap rivalnya itu tetap berada di dunia tenis meski tak akan berkompetisi lagi.
Nadal akhirnya meninggalkan lapangan tempatnya bertanding untuk terakhir kali setelah acara perpisahan dan pemberian penghargaan berakhir. Lambaian tangan kepada penonton menandai juga bahwa ”raja lapangan tanah liat” itu meninggalkan istananya. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan