Satryo: Saya Mundur, Bukan Diberhentikan

Satryo mengungkapkan, dirinya mundur karena kerjanya dinilai tidak sesuai dengan harapan pemerintah.

19 Feb 2025 17:50 WIB · Humaniora

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto mengganti Satryo Soemantri Brodjonegoro dengan Brian Yuliantoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Rabu (19/2/2025). Satryo mengklaim dirinya mengundurkan diri sebelum diberhentikan Presiden.

Sejak Rabu pagi, Satryo berada di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisainstek). Siang harinya ia pergi menghindari wartawan yang sudah menunggu pernyataannya terkait isu reshuffle kabinet dengan menggunakan mobil berplat RI 25.

Quote

Ya, saya lebih baik mundur daripada diberhentikan.

Kemudian, sekitar pukul 15.00 WIB, Satryo kembali ke kantor Kemendiktisainstek. Dia baru saja kembali setelah menyerahkan surat pengunduran diri ke Kementerian Sekretaris Negara.

”Alasan utamanya, saya sudah bekerja keras selama empat bulan ini. Namun, karena mungkin tidak sesuai dengan harapan dari pemerintah, ya, saya lebih baik mundur daripada diberhentikan,” kata Satryo di Kantor Kemendiktisainstek, Jakarta, Rabu (19/2/2025).

Menurut mantan Ketua Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia ini, surat pengunduran diri itu dibuat semalam. Namun, baru diserahkannya siang tadi.

Satryo menegaskan bahwa ia tak masalah Presiden Prabowo mengganti dirinya meski baru menjabat empat bulan sebagai menteri. Dia berharap menteri baru bisa bekerja lebih optimal.

”Harus legowo kerja itu. Kita kerja baik, maksimal sudah, tidak ada pamrih, tulus saya kerja. Kalau gak cocok, ya, sudah saya mundur saja,” ucapnya.

Sementara itu, di Istana Kepresidenan, Presiden Prabowo melantik Brian Yuliarto. Hadir pula dalam pelantikan ini, antara lain, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy, dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno.

Brian tercatat sebagai Guru Besar ITB dari Fakultas Teknologi Industri dengan riset terkait teknologi nano dan kuantum. Brian meraih gelar sarjana dari ITB serta menyelesaikan program magister dan doktoral di University of Tokyo.

Presiden Prabowo Subianto memberikan ucapan selamat kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/2/2025). Brian Yuliarto menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai menteri pendidikan tinggi, ristek, dan teknologi. Isu perombakan kabinet muncul pertama dari pidato Presiden Prabowo Subianto saat peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-102 Nahdlatul Ulama (NU) di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (5/1/2025). Ini adalah perombakan kabinet perdana era Presiden Prabowo Subianto. Selain Menristekdikti, presiden juga melantik Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, dan Kepala Badan Pusat Statistik. Kompas/Hendra A Setyawan Kompas/Hendra A Setyawan

Dia juga menjadi penerima Habibie Prize 2024. Penghargaan diberikan untuk kategori ilmu rekayasa karena dia dinilai mengembangkan teknologi sensor berbasis nanomaterial yang berguna untuk deteksi gas berbahaya dan polutan, diagnosis penyakit kanker dan hepatitis, serta pengembangan teknologi biosensor medis.

Dalam kesempatan sama, Presiden juga melantik beberapa pejabat lain. Mereka adalah Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS).

Kini, Brian bersama Satryo sudah berada di Kantor Kemendiktisainstek untuk melakukan serah terima jabatan yang dijadwalkan akan berlangsung pada pukul 18.00 WIB.

Pranata Humas Ahli Muda dan Penjabat Rumah Tangga Kemendiktisaintek Neni Herlina, yang sempat berseteru dengan Satryo hingga ASN Kemendiktisainstek berunjuk rasa pada Januari lalu, berharap pergantian menteri ini menjadikan Kemendiktisainstek bebas dari tindak kekerasan baik sesama ASN maupun dengan pejabat.

”Pergantian menteri, kan, kewenangan presiden. Jadi, secara prinsip kami paguyuban hanya berharap bahwa kejadian kesewenang-wenangan dan kekerasan tidak lagi terjadi di Diktisaintek, dilakukan siapa pun dari pegawai ataupun pimpinan,” ujar Neni.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan