Sawit Berkelanjutan Dekatkan Indonesia dengan Swasembada Pangan

Tuntutan pasar global akan produk sawit yang berkelanjutan menjadi peluang bagi semua pihak untuk aktif dalam praktik berkelanjutan.

12 Feb 2025 17:45 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana

DENPASAR, KOMPAS — Keunggulan komparatif seperti besarnya potensi sumber daya kelapa sawit dan iklim tropis yang dimiliki Indonesia turut mendukung target swasembada pangan dan energi. Salah satu syaratnya ialah adanya penguatan praktik pertanian berkelanjutan, yang antara lain didasarkan pada penelitian kolaboratif yang melibatkan multipihak.

Hal tersebut mengemuka dalam pembukaan International Conference of Oil Palm and Environment (ICOPE) 2025 di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (12/2/2025). ICOPE edisi ke-7 itu digelar oleh Sinar Mas Agribusiness and Food, WWF Indonesia, dan lembaga penelitian pertanian asal Perancis, Cirad. Acara dibuka oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Sudaryono mengatakan, dengan iklim tropis, Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang bisa memanfaatkan produk-produk pertanian untuk mendukung swasembada pangan dan swasembada energi. Beberapa di antaranya adalah replanting sawit yang disisipkan dengan tanaman padi gogo hingga pemanfaatan sawit untuk bahan bakar nabati, seperti biodiesel.

Apabila sawit dikelola dengan baik dan optimal, maka hal itu akan mendukung target ketahanan pangan dan energi, yang akhirnya akan mendukung kesejahteraan masyarakat. Meskipun sawit Indonesia sudah berkontribusi besar pada kebutuhan dunia, peningkatan produktivitas dan praktik pertanian berkelanjutan tetap diperlukan.

”Sawit ini bargaining bangsa kita terhadap dunia. Sawit Indonesia sudah berkontribusi pada (kebutuhan) dunia dan kita ingin terus naik. Caranya hanya dua, yakni dengan intensifikasi dan ekstensifikasi, yang juga memerlukan kajian dan penelitian,” ujar Sudaryono, yang menyebut Indonesia berkontribusi sebesar 58 persen pada kebutuhan kelapa sawit global.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono membuka International Conference of Oil Palm and Environment (ICOPE) 2025 di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (12/2/2025). Konferensi yang membahas riset-riset terkait industri sawit berkelanjutan itu digelar oleh Sinarmas Agribusiness and Food, WWF, dan organisasi penelitian pertanian asal Prancis, Cirad.

Ia menambahkan, selain dampak perubahan iklim, sawit dihadapkan pula pada tantangan dari sisi internasional, mulai dari isu lingkungan, hak asasi manusia, hingga munculnya kebijakan EUDR (European Union on Deforestation-free Regulation) atau regulasi pengenaan produk bebas deforestasi dari Uni Eropa.

Atas kondisi itu, pemerintah menerapkan surat tanda daftar budidaya (STDB) yang merupakan pendataan dan pendaftaran pekebun dengan luasan kurang dari 25 hektar. Penerapan STDB bertujuan menghimpun data kepemilikan kebun rakyat dan informasi pendukung lain, mewujudkan tata kelola perkebunan berkelanjutan, dan mempermudah petani dalam program pendanaan.

”Kami mengimbau pemerintah, sektor swasta, stakeholder terkait, lembaga swadaya masyarakat (LSM), pekebun, dan semua yang terlibat dalam komunitas sawit untuk terus mengembangkan penerapan pertanian berkelanjutan. Juga menjaga industri sawit ini untuk terus bergerak menuju standar keberlanjutan yang lebih tinggi,” lanjut Sudaryono.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) pada Januari-Oktober 2024 sebesar 43,78 juta ton atau 4,56 persen lebih rendah daripada periode sama pada 2023. Sementara total konsumsi dalam negeri pada Januari-Oktober 2024 sebesar 19,64 juta ton atau meningkat 1,9 persen secara tahunan.

Peserta memerhatikan informasi terkait praktik sawit berkelanjutan pada hari pertama International Conference of Oil Palm and Environment (ICOPE) 2025 di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (12/2/2025).

”Replanting”

Chairman dan CEO Sinar Mas Agribusiness and Food Franky Oesman Widjaja menuturkan, kelapa sawit ialah anugerah yang dimiliki Indonesia. Selain telah berkontribusi besar pada kebutuhan dunia, secara total, industri sawit juga menyerap 17 juta tenaga kerja. Adapun kegunaannya adalah untuk pangan, industri seperti sampo dan kosmetik, serta bahan bakar nabati.

Bahkan, sawit juga memiliki potensi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi tinggi seperti yang ditargetkan pemerintah. ”Sawit ini sudah unggul, sudah ’curi start’ dengan tinggi. Tinggal didorong lebih saja. Untuk jangka pendek, intensifikasi diperlukan karena memang sudah banyak yang waktunya replanting. Dengan dukungan pemerintah, saya yakin akan lebih cepat,” ucapnya.

Quote

Ini peluang strategis bagi industri kelapa sawit. Bukan hanya mengubahnya menjadi komoditas, tetapi juga menjadi aset ekologi bernilai tinggi di pasar global.

Sinar Mas, kata Franky, terus mendorong praktik pertanian sawit yang berkelanjutan, termasuk di antaranya terkait treatment terhadap tanah. Bagaimana agar penggunaan unsur kimia dapat terus dikurangi. Apabila semakin optimal, maka hal itu akan semakin menguatkan keunggulan sawit. Selama ini, limbah sawit pun dapat dimanfaatkan sepenuhnya, seperti menjadi pupuk.

Seiring keinginan pemerintah dalam meningkatkan produktivitas dan produksi sawit, Sinar Mas berupaya meningkatkan produksi benih unggul. Sinar Mas juga menggandeng Cirad dalam riset terkait sawit. Apabila sawit ditanam di lahan yang baik, lanjut Franky, bisa dihasilkan 7-8 ton CPO per hektar per tahun, meskipun akan tetap bergantung kondisi cuaca.

Suasana pameran pada hari pertama International Conference of Oil Palm and Environment (ICOPE) 2025 di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (12/2/2025).

Conservation Director WWF Indonesia Dewi Yani Rizki Lestari menyampaikan, tuntutan pasar global akan produk sawit yang berkelanjutan sejatinya menjadi peluang bagi semua pihak untuk berperan aktif dalam praktik berkelanjutan. Salah satu cara ialah dengan membuktikan dampak positif kelapa sawit berkelanjutan melalui pendekatan berbasis bukti ilmiah.

”Nilai tambah dari praktik-praktik ini dapat dimonetisasi serta memberikan manfaat ekonomi bagi semua pihak yang terlibat. Saat ini, berbagai skema seperti kredit karbon dan kompensasi keanekaragaman hayati berkembang pesat. Ini peluang strategis bagi industri kelapa sawit. Bukan hanya mengubahnya menjadi komoditas, tetapi juga menjadi aset ekologi bernilai tinggi di pasar global,” ujarnya.

Dewi menambahkan, lebih dari 40 persen perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikelola oleh petani kecil. Oleh karena itu, inklusivitas dan pembangunan kapasitas petani kecil menjadi kunci kritis dalam transformasi agroekologi. Hingga saat ini, WWF Indonesia telah membantu sekitar 2.500 petani kecil dengan total luas area 4.800 hektar.

”Sebanyak 1.300 petani kecil yang dibantu oleh WWF telah mendapat sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Kami sedang memetakan rantai pasokan minyak kelapa sawit dengan mengembangkan aplikasi Hamurni atau aplikasi keterlacakan yang dapat diakses petani kecil, perusahaan, dan pedagang untuk memastikan minyak sawit tidak berasal dari kawasan hutan,” ucapnya.

Co-Chairman ICOPE 2025 Jean-Pierre Caliman mengingatkan pentingnya keterlibatan para pemangku kepentingan global dalam praktik sawit berkelanjutan. Adapun ICOPE 2025 mengangkat topik ”Transformasi Agro-Ekologis Kelapa Sawit: Menuju Pertanian yang Ramah Iklim dan Lingkungan”. Di satu sisi, hal itu mencerminkan urgensi dari ancaman nyata perubahan iklim dan lingkungan. Di sisi lain, ada harapan sistem pertanian bisa tangguh, adil, dan lestari melalui inovasi dan kolaborasi.

”(Dalam ICOPE 2025) Kami bertukar pandangan dan mencari solusi kolektif demi masa depan industri kelapa sawit yang lebih baik dan cerah. Kelapa sawit tidak hanya merupakan bagian penting dari perekonomian global, tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan iklim dunia,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan