Seandainya Ir Soeratin Tahu Skuad ”Garuda” Bernuansa ”Oranje”…

PSSI berkiblat ke Belanda demi mimpi Piala Dunia 2026. Pemain hingga pelatih dominan dari ”Negeri Kincir Angin”. Bagaimana perasaan Ir Soeratin jika tahu hal ini?

17 Mar 2025 20:06 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Di Hotel Fairmont, Jakarta, Minggu (16/3/2025) malam, Ketua Umum PSSI Erick Thohir melepas keberangkatan tim nasional Indonesia yang dipimpin Pelatih Patrick Kluivert menuju Sydney, Australia. Sejak dua laga putaran ketiga Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026, Maret ini, skuad ”Garuda” sangat kental nuansa tim ”Oranje”.

Kluivert dibantu oleh tiga asisten yang berasal dari Belanda, yakni Alex Pastoor, Denny Landzaat, dan Gerald Vanenburg. Mereka juga bekerja sama dengan Jordi Cruyff yang berlakon sebagai Penasihat Teknis PSSI.

Selanjutnya, PSSI juga membekali Kluivert tujuh pembantu dari Belanda. Mereka adalah Sjoerd Woudenberg (pelatih kiper), Jordu Kluitenberg (analis), Leo Echteld dan Chesley ten Oever (fisioterapis), Regi Blinker dan Bram Verbruggen (pengembang tim), serta Quentin Jakoba (pelatih fisik). Jakoba memang berpaspor Curacao, tetapi ia besar dan bermukim di Belanda.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir bersalaman dengan Pelatih timnas Indonesia Patrick Kluivert pada pelepasan tim menuju Sydney, Australia, Minggu (16/3/2025). Kluivert akan jalani debut sebagai pelatih skuad "Garuda" menghadapi Australia, 20 Maret.

Dengan kehadiran para ahli dari ”Negeri Kincir Angin”, PSSI juga menambahkan tiga wajah bumiputra yang diisi oleh Alfan Nur Asyhar (dokter tim), Sofie Imam Faizal (asisten pelatih fisik), dan Sumardji (manajer). PSSI masih menunggu satu atau dua asisten pelatih lokal pilihan Kluivert yang akan mengisi satu pos asisten pelatih.

Dalam sejarah PSSI sejak bangsa Indonesia merdeka, Kluivert bisa disebut sebagai pelatih timnas Garuda yang paling dimanjakan oleh federasi. Ia diberi keleluasaan penuh menentukan ”gerbong” staf dari negara asal. Jumlah anggota staf dari negara asal Kluivert sudah melebihi tujuh anggota staf Korea Selatan milik Shin Tae-yong pada periode pelatih timnas sebelumnya.

Kondisi yang dialami Kluivert tentu tidak pernah dialami oleh pendahulunya yang juga berasal dari Belanda. Empat pelatih timnas Indonesia asal Belanda sebelumnya tidak pernah diberi kebebasan membawa anggota staf sendiri. Penyebab finansial hingga keyakinan PSSI kepada pelatih lokal menjadi penyebabnya.

Empat pelatih Indonesia asal Belanda sebelum Kluivert adalah Wiel Coerver (1975-1976), Frans van Balkom (1978-1979), Henk Wullems (1996-1997), dan Wim Rijsbergen (2011-2012). Bahkan, Coerver yang dikontrak PSSI dengan status juara Liga Belanda dan Piala UEFA 1973-1974 bersama Feyenoord dibekali lima asisten pelatih lokal.

Quote

Saya sedih, marah, dan kesal bercampur aduk karena pelatih Indonesia hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

Dede SulaemanMantan Pemain Timnas Indonesia periode tahun 1975-1985.Kompas/Priyombodo (PRI)07-01-2018SOSOK tulisan DRI

Para pembantu Coerver untuk menjalani kualifikasi Olimpiade Montreal 1976 adalah Hendarto, Sartono, Harry Tjong, Ilyas Haddade, dan Solekan. Satu-satunya asisten yang dibawa Coerver dari Belanda adalah Wim Hendriks.

Dengan susunan pembantu itu, Coerver nyaris mengantarkan Indonesia tampil di Olimpiade 1976. Skuad Garuda kalah adu penalti dari Korea Utara.

Dede Sulaeman, mantan pemain timnas Indonesia periode 1970-an, menyayangkan sesaknya anggota staf asal Belanda dalam tim Kluivert. Menurut dia, PSSI seharusnya memberikan porsi besar kepada pelatih-pelatih lokal demi terjadinya transfer pengetahuan dengan latar Kluivert sebagai pelatih berkelas dunia.

”Saya sedih, marah, dan kesal bercampur aduk karena pelatih Indonesia hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Apabila Kluivert adalah pelatih berkualitas, maka dia harus percaya diri dan bermental kuat sehingga tidak usah membawa pembantu sebanyak 10 orang,” tutur Dede.

Meniru 1938

Tim pelatih yang dihuni sosok asal Belanda serupa dengan staf pelatih tim Hindia Belanda pada Piala Dunia Perancis 1938. Kala itu, NIVU (Persatuan Sepak Bola Hindia Belanda) membentuk pemimpin tim yang dihuni oleh F Van Bommel (pemimpin umum), RE Weiss (pemimpin tim), dan JC Mastenbroek (pemimpin teknis sekaligus pelatih).

Kehadiran trio Belanda itu tidak lepas dari pengakuan FIFA terhadap NIVU sebagai perwakilan Asia di Piala Dunia 1938. FIFA mengakui NIVU, bukan PSSI, sebagai anggotanya. Meskipun setelah Indonesia merdeka, FIFA tetap melanjutkan histori tim Hindia Belanda itu kepada PSSI.

Foto tiga pemimpin skuad Hindia Belanda di Piala Dunia 1938

Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menilai, kebijakan PSSI untuk staf pelatih timnas Indonesia pimpinan Kluivert tentu menghadirkan sisi kelebihan dan kekurangan. Bagi Fajar, keputusan Kluivert merekrut para pembantu dari Belanda amat dipengaruhi kebutuhan komunikasi yang sangat penting untuk memengaruhi pikiran, sikap, dan perilaku anak asuhannya.

”Komposisi staf kepelatihan asal Belanda menunjukkan keinginan Kluivert meminimalisasi hambatan personal di antara staf pelatih dengan pemain. Apalagi, mayoritas pemain merumput di Eropa sehingga keberadaan staf pelatih yang berasal dari lingkungan yang sama dianggap menjadi lebih mudah untuk membangun komunikasi,” ujar Fajar.

Ia menambahkan, ”Dalam implikasinya, staf pelatih lokal menjadi kurang mendapat tempat. Padahal, para pelatih lokal bisa mendapatkan wawasan dengan menjadi bagian staf pelatih timnas.”

Demi meningkatkan kualitas pelatih lokal, Fajar berharap PSSI juga melakukan akselerasi untuk meningkatkan akses lisensi di akar rumput sampai bisa mendapat lisensi kepelatihan terbaik demi melatih di kompetisi kasta tertinggi nasional.

”Penting juga untuk meningkatkan jam terbang para pelatih lokal dengan berkarier di luar negeri. Berdiaspora bisa menjadi jalan ninja,” ucapnya.

Ya, berkarier di luar negeri pernah dijalani Sofie Imam Faizal. Ia pernah menjabat pelatih fisik tim Liga Malaysia, Sabah FC, periode 2020-2021. Imam membantu Kurniawan Dwi Yulianto yang menjabat pelatih kepala tim berjuluk ”Si Badak” itu.

Stadion Sriwedari Solo ketika diresmikan akhir tahun 1933, yang kemudian menjadi tempat pembukaan PON I tahun 1948. Wakil Keraton Surakarta, R. Ng. Reksodiprodjo mewakili Sri Sunan Paku Buwono X, sedang mengucapkan pidato pembukaan. Ketua Umum PSSI, Ir. Suratin (berkacamata), hadir pula. Di antara deretan pemain, nampak penjaga gawang Maladi (kelima dari kanan) yang kemudian menjadi Menteri Olahraga. Pada upacara ini dinyanyikan lagu "Wilhelmus" dan "Indonesia Raya", dengan pengibaran bendera Merah Putih.

Penolakan

Jelang persiapan Piala Dunia 1938, Ir Soeratin Sosrosoegondo yang berstatus Ketua Umum PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) membatalkan gentlemen’s agreement dengan NIVU untuk pembentukan tim ke pentas dunia itu. RN Bayu Aji, dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, menyebut Soeratin melakukan itu karena tidak setuju tim yang dikirim membawa panji NIVU, bukan PSSI.

Quote

Apabila mereka mengetahui timnas Indonesia banyak tergantung pada pemain naturalisasi dari Eropa, bisa jadi mereka akan sedih.

”Ir Soeratin menolak memakai nama NIVU karena potensi NIVU hanya memilih orang-orang Belanda. Tetapi, tim bentukan NIVU ke Piala Dunia 1938 justru terdiri dari pemain campuran, baik pemain keturunan Belanda, bumiputra, dan Tionghoa, yang bermain di kompetisi klub milik Belanda,” kata Aji.

Kapten tim NIVU pun berstatus bumiputra, yakni Achmad Nawir. Ia adalah pemain berposisi half-back yang membela HBS Surabaya.

Penolakan Soeratin itu menunjukkan pula konsistensinya sejak menginisiasi pembentukan federasi sepak bola bumiputra pada akhir 1920-an. Ia bangun dari situasi kemapanan ketika sepak bola sudah mulai berkembang di bawah kendali Belanda.

Untuk itu, ia berkeliling Pulau Jawa mengampanyekan ide pembentukan PSSI. Namun, tidak sedikit yang menolak gagasan Soeratin. Para pihak tidak setuju dengan Soeratin karena becermin pada kondisi India yang memilih ikut Inggris dalam pengelolaan sepak bola.

”Kalau di sepak bola kita bisa mengalahkan Belanda, kelak di lapangan politik pun kita bisa mengalahkan Belanda,” kata Maladi mengutip kampanye Soeratin kala itu (Kompas, 1/1/2000).

Pelatih baru tim nasional Indonesia Patrick Kluivert dalam jumpa pers di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Minggu (12/1/2025). Kluivert akan dibantu dua asistennya, Alex Pastoor dan Denny Landzaat. Kluivert dikontrak dua tahun oleh PSSI dari 2025 hingga 2027 dengan opsi perpanjangan.  KOMPAS/AGUS SUSANTO 12-1-2024

Lalu, bagaimana seandainya Soeratin tahu PSSI saat ini kembali bergantung pada Belanda untuk mengejar mimpi besar tampil pertama kali di Piala Dunia sejak memproklamasikan kemerdekaan?

”Para pendiri PSSI memiliki visi sepak bola Indonesia yang mandiri dan tidak bergantung pada kekuatan kolonial Belanda sebagai salah satu alat perjuangan. Apabila mereka mengetahui timnas Indonesia banyak tergantung pada pemain naturalisasi dari Eropa, bisa jadi mereka akan sedih,” ucap Aji.

Ia berharap langkah pragmatis nan jangka pendek melalui naturalisasi tidak membuat PSSI tutup mata dengan strategi jangka panjang yang wajib dilakukan. Menurut dia, federasi harus membenahi kompetisi Tanah Air sehingga bisa menghasilkan talenta berbakat dan pemain hebat dari dalam negeri seperti keinginan para pendiri PSSI.

Dengan bergantung kembali pada Belanda, hal itu membuktikan sepak bola kita masih jauh dari mimpi kemandirian pada saat deklarasi pendirian PSSI, 19 April 1930. Banggakah engkau jika ”Indonesia Raya” berkumandang di Piala Dunia 2026, Ir Soeratin?


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti