Penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus, terindikasi terorganisasi. Pelakunya ditengarai tak hanya yang menyiramkan air keras terhadap Andrie.
13 Mar 2026 19:01 WIB · Politik & Hukum
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Sebelum disiram air keras, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus ditengarai sudah dikuntit. Penguntitan sudah terjadi beberapa hari sebelum peristiwa penyiraman air keras.
Dengan adanya jejak ini berikut bukti rekaman kamera pengawas atau CCTV saat peristiwa penyiraman terjadi, masyarakat sipil menilai pengungkapan pelaku oleh kepolisian seharusnya tidak sulit.
”Kami punya bukti. Kami menelusuri Andrie diintai beberapa hari ini, dari rumah, tempat-tempat berkunjungnya. Kemarin seharian dari Celios, kemudian dari YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) sudah diikuti. Orang-orangnya jelas semua terekam di CCTV. Jadi, kami pun punya hak untuk mengungkapkan ini ke depan kalau kemudian kepolisian lambat,” ujar Ketua Umum YLBHI M Isnur saat jumpa pers menyikapi kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus di kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/5fe157d1bedf7f12017121fd533a8f0f-20260313TOK2.jpg)
Andrie Yunus disiram air keras seusai perekaman siniar (podcast) bertajuk ”Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor YLBHI Jakarta, Kamis (12/3/2026) malam. Persisnya pukul 23.37 WIB, Andrie disiram air keras saat tengah mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I ke arah Jalan Talang, Jakarta, oleh pengendara sepeda motor dari arah berlawanan. Andrie yang mengalami luka bakar 24 persen kini dirawat di RSCM Jakarta.
Sebelum perekaman siniar di YLBHI, Andrie Yunus meninggalkan kantor Kontras pukul 15.30 WIB untuk menghadiri pertemuan di kantor Celios membahas tindak lanjut laporan investigasi Komisi Pencari Fakta mengenai Aksi Agustus 2025.
Selain Isnur, hadir pula dalam jumpa pers sejumlah figur dari kalangan masyarakat sipil dan akademisi, seperti Koordinator Kontras Dimas Bagus Arya, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, dan mantan penyidik KPK yang juga pernah disiram air keras, Novel Baswedan.
Selain itu, tampak pula Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Almas Sjafrina, Gomar Gultom dari Gerakan Nurani Bangsa, Guru Besar Antropologi Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Sulistyowati Irianto, dan pakar hukum tata negara Bivitri Susanti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/d60d89f06be2c24a7d46493ee6939877-20260313TOK1.jpg)
Isnur melanjutkan, sejak Kamis malam, pihaknya sudah berkomunikasi dengan pihak kepolisian agar bergerak cepat mengejar pelaku penyiraman terhadap Andrie. Dengan bukti jejak penguntitan dan rekaman CCTV, seharusnya polisi bisa mengungkapnya. ”Pertanyaannya, beranikah kepolisian mengungkap para pelakunya? Maka, kami menantang Polri untuk mengungkap kasus ini,” ucapnya.
Keraguan tersebut muncul karena dari sederet kasus teror terhadap aktivis dan jurnalis sebelumnya, polisi gagal untuk menguak pelakunya. Padahal, penegakan hukum terhadap pelaku, bahkan dengan menghukum seberat-beratnya, penting agar kasus serupa tak terus terulang.
Selain menanti kerja kepolisian, Isnur mengatakan, koalisi masyarakat sipil juga akan membentuk tim investigasi yang independen. ”Jadi, kepolisian jangan bergerak lambat,” tambahnya.
Isnur juga menekankan pentingnya negara ikut bertanggung jawab atas peristiwa teror terhadap Andrie Yunus. ”Seandainya Andrie butuh pengobatan yang maksimal, negara harus memfasilitasi, negara harus menjaga dan bertanggung jawab atas perlindungan terhadap pejuang kemanusiaan seperti Andrie,” tambahnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/15/f0f6dcef08da265358c7a11445bdb267-IMG_20250315_201624_579.jpg)
Novel Baswedan setelah melihat rekaman CCTV melihat intensi dari para pelaku penyiraman air keras adalah membunuh Andrie atau paling tidak membuatnya cacat permanen. Ini karena air keras disiramkan oleh pelaku ke area wajah. Selain itu, ia melihat para pelakunya terorganisasi. Pelaku diyakini tidak hanya mereka yang berada di sepeda motor yang menyiramkan air keras pada Andrie, tetapi ada pelaku lainnya di lapangan.
”Ada simbol-simbol yang dilakukan di lapangan sehingga saat menyerang terorganisasi,” ujarnya.
Ia pun mendesak agar kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. Tidak hanya pelaku yang menyiramkan air keras, tetapi juga auktor intelektualisnya. ”Saya mendukung Polri mengusut sungguh-sungguh agar semua pelakunya bisa dihukum seberat-beratnya supaya peristiwa seperti ini tidak terulang lagi,” tambahnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/4065fd000edad546ab7f3c7b7ef20fe0-20260313TOK.jpg)
Sementara itu, Usman Hamid mengatakan, teror terhadap Andrie bukan hanya terjadi kali ini. Teror melalui telepon serta didatangi orang tak dikenal hingga tentara dialami Andrie setelah ia bersikap kritis terhadap revisi UU TNI, tahun lalu. Jejak aktivisme Andrie selama setahun terakhir pun kerap bersinggungan dengan isu remiliterisasi. Bahkan, sebelum disiram air keras, ia menjadi narasumber siniar yang membahas isu tersebut.
”Tetapi, kami tidak dengan mudah terkecoh bahwa hanya karena sering bersinggungan dengan militer, sudah pasti pelakunya tentara, belum tentu. Jadi, kita harus investigasi serius. Dan biasanya teror terjadi di tengah ketegangan konflik elite politik. Ini yang harus dicermati dan dihubungkan dengan serangan terhadap Andrie. Perkubuan di tubuh kekuasaan politik, yang satu berseteru dengan yang lain, biasanya menimbulkan korban jiwa,” jelasnya.
Senada dengan Isnur dan Novel, Usman pun mendorong agar kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. ”Ini jadi ujian bagi negara dan aparat penegak hukum. Kalau memang becus mengurus negara, pelakunya bisa ditangkap dalam waktu yang tak terlalu lama,” tambahnya.
Desakan agar Presiden Prabowo Subianto memberikan atensi serius atas peristiwa yang menimpa Andrie pun diutarakan sejumlah pihak dalam jumpa pers. Salah satunya diutarakan oleh Gomar Gultom.
”Kami meminta Bapak Presiden sungguh-sungguh memberikan perhatian serius atas peristiwa ini. Negara harus memberi jaminan penuh atas pengusutannya secara tuntas. Negara juga harus lebih serius menjamin supaya peristiwa yang sama tidak terulang kembali,” tambahnya.
Gerakan Nurani Bangsa juga berharap agar peristiwa yang menimpa Andrie tidak menyurutkan semangat juang teman-teman pegiat HAM dalam menegakkan supremasi hukum dan dipenuhinya HAM di masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/400641ca979eada15266a8d40820a7a7-20260313TOK4.jpg)
Dimas Bagus Arya pun memastikan hal itu tak akan terjadi. ”Peristiwa ini tidak akan menyurutkan langkah Kontras yang sudah dibangun 28 tahun lalu. Kita akan terus maju,” ujarnya.
Demikian pula disampaikan Usman Hamid.
”Kepada para pelaku penyerangan Andrie, kalian adalah para pengecut. Dan jangan pernah berpikir kami mundur setelah serangan ini. Rasa takut ini sudah kami kubur dalam-dalam. Munir (aktivis Kontras) dibunuh, kantor (Kontras) diserang berkali-kali, tak pernah menghentikan langkah aktivis Kontras demi Indonesia yang lebih baik,” tambahnya.
Penulis:
A. Ponco AnggoroEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar