Survei Litbang Kompas mencatat masih ada 17,3 persen proporsi pemilih yang belum menentukan pilihan di Pilkada Jabar 2024. Bagaimana pengaruhnya?
14 Nov 2024 03:00 WIB · Politik & Hukum
Hasil survei Pilkada Jawa Barat yang dilakukan Litbang Kompas pada 1-9 November 2024 memperlihatkan proporsi pemilih Jabar yang belum menentukan pilihan atau masih bimbang mencapai 17,3 persen. Mereka yang termasuk dalam undecided voters atau pemilih bimbang ini merupakan responden yang masih menjawab ”tidak tahu”, ”rahasia”, dan yang memang tidak menjawab.
Berdasarkan latar belakang responden, proporsi pemilih yang belum menentukan pilihan lebih banyak dari kaum perempuan (18,8 persen) dibandingkan dengan laki-laki (15,6 persen). Secara kelas sosial, proporsi terbesar undecided voters di Jabar ini berasal dari kelompok masyarakat atas (26,5 persen).
Dari segi usia, undecided voters terbesar berada pada rentang usia 36-43 tahun, yaitu sebesar 20,9 persen, dan usia 58 tahun ke atas (20 persen). Sementara berdasarkan tingkat pendidikan, mereka terkonsentrasi pada responden berpendidikan dasar (20,2 persen) dan pendidikan tinggi (19,2 persen).
Jika melihat latar belakang kelas ekonomi dan usia, mereka yang belum memantapkan pilihan ini berasal dari kalangan ekonomi mapan dan usia yang matang (di atas 34 tahun). Kemapanan ekonomi dan kematangan usia membuat orang jauh lebih kritis dan tidak buru-buru dalam memilih. Terlebih mereka ini memiliki pengalaman memilih minimal dua gubernur di dua pilkada sebelumnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/27/50e3014f-fe58-48b0-b64a-4c2099d89ff5_jpg.jpg)
Melihat pilihan partai politiknya pada Pemilu Legislatif 2024, mereka yang masih bimbang dalam menentukan pilihan lebih banyak berasal dari responden yang mengaku memilih Partai Golkar (19,1 persen), Partai Demokrat (15,4 persen), PKS (13,8 persen), dan PAN (13,6 persen).
Dari wilayah geokulturnya, mereka yang tinggal di kluster Bandung Raya, Cirebonan, dan Megapolitan juga cenderung masih banyak yang ragu dalam menentukan pilihan calon gubernur-wakil gubernurnya. Satu dari lima orang yang tinggal di Bandung Raya, Cirebonan, dan Megapolitan terekam masih belum menentukan pilihannya.
Jika melihat wilayah geokultur-sosial budaya atau tatar di Jawa Barat ini, terdapat irisan identitas dengan pemilih partai. Kluster Megapolitan misalnya. Wilayah geokultur yang terdiri dari Bekasi, Bogor, dan Depok ini memiliki kekhasan politik dengan tipologi pemilih perkotaan dan didominasi PKS. Pada Pemilu Legislatif 2024, PKS masih dominan di wilayah ini.
Fenomena serupa terjadi di kluster Bandung Raya yang juga dominan pendukung PKS. Namun, di wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, PKS bersaing dengan Gerindra dan Golkar. Adapun wilayah Cirebonan yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan cenderung dikuasai partai-partai nasionalis seperti PDI-P dan Golkar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/29/41f0a94c-056c-4a7a-a133-36f5d33c7d9f_png.png)
Terdapat sejumlah alasan yang membuat responden masih belum memutuskan pilihan. Jika dikelompokkan dari hasil survei, ada dua bagian besar yang menjadi alasan responden mengambil keputusan tersebut, yakni belum mengenal sosok calon gubernur-wakil gubernur dan ketidaksesuaian dengan calon-calon yang ada. Alasan tidak ada cagub yang sesuai dengan keinginan, misalnya, diungkapkan oleh 7,1 persen responden.
Dari alasan-alasan yang diungkapkan responden tersebut, tidak terlihat alasan teknis yang menjadi kendala masyarakat untuk menentukan pilihan, seperti nama yang tidak terdaftar di DPT atau kesulitan menjangkau tempat pemungutan suara. Alasan keraguan para pemilih ini lebih banyak karena belum teryakinkan dengan sosok-sosok calon gubernur-wakil gubernur.
Hal ini diperkuat dengan alasan terbesar yang diungkapkan oleh responden yang belum memutuskan pilihannya. Mereka yang belum mengenal calon sosok pemimpinnya ini masih menunggu kampanye/debat (39,2 persen) dan menunggu saran dari orang yang mereka percaya (18,3 persen). Temuan alasan pertimbangan dari hasil survei ini menunjukkan adanya kebutuhan pengenalan program dari para calon kepada para pemilih yang masih ragu ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/23/d15f4bcd-59d0-4ff6-9eb8-add19cee84c8_jpg.jpg)
Forum debat memiliki sejumlah tujuan dalam kampanye publik. Debat menjadi momentum bagi para kandidat untuk menyampaikan visi dan program kerja yang ditawarkan kepada para pemilih.
Dari sisi pemilih, penampilan para kandidat dalam forum debat kampanye memiliki keunggulan memperlihatkan kualitas dan kapabilitas setiap calon gubernur-wakil gubernur. Pemilih juga dapat menilai kemampuan calon terhadap berbagai persoalan daerah dan apa yang akan dilakukan untuk mengatasinya. Forum debat juga menjadi ajang komparatif bagi para kandidat gubernur untuk memperkenalkan gagasan-gagasan atau ide untuk membangun daerah.
Penampilan di forum publik sebagai bagian dari pengenalan sosok ini perlu lebih banyak dilakukan oleh para calon gubernur. Hal ini mengingat lebih dari separuh responden (54,2 persen) mengungkapkan sosok gubernur merupakan faktor yang menjadi pertimbangan terbesar bagi pemilih dalam menentukan pilihan di pilkada.
Selain kebutuhan pengenalan sosok pemimpin, faktor berikutnya yang perlu dicermati sebagai alasan pemilih Jabar belum memutuskan pilihan ialah meminta saran dari orang yang mereka percaya. Hasil survei memperlihatkan, preferensi pilihan publik Jabar juga dipengaruhi oleh lingkaran sosial terdekatnya, yakni keluarga.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/23/2e02fcc0-5482-4053-8fa1-2ba6a274b7f8_jpg.jpg)
Bagian terbesar responden (31,7 persen) mengungkapkan keluarga, baik itu orangtua maupun pasangan (suami/istri) dan anak, menjadi pihak yang mereka percaya dalam memberikan saran terkait pilihan di pilkada. Pihak lain yang juga menjadi sumber rujukan saran dalam memilih ialah tokoh masyarakat dan teman.
Menggabungkan latar belakang pemilih bimbang dan alasan belum menentukan pilihan terdapat benang merah kecenderungan adanya rasionalitas dalam karakter pemilih bimbang. Dari sisi latar belakang pemilih bimbang, kemapanan ekonomi dan kematangan usia membuat undecided voters ini bakal mempertimbangkan masak-masak pilihan politiknya.
Dari sisi alasan belum memutuskan, mereka akan menunggu penampilan para kandidat dalam forum debat kampanye sebagai bahan pertimbangan mendalam sebelum menjatuhkan pilihan. Bahkan, jika belum terlalu yakin dengan pilihannya, mereka akan meminta saran dari referensi terdekatnya yang dipercaya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/07/02/ad238228-4528-4c22-af49-75ed2df43fb1_jpg.jpg)
Kurang dari tiga minggu penyelenggaraan pilkada, masih ada kegamangan pilihan yang dialami 17,3 persen pemilih Jabar. Dari sisi jumlah, proporsi ini memang terbilang minim. Hal ini tidak terlepas dari fenomena di sisi lainnya bahwa sebagian besar publik Jabar (82,7 persen) telah memiliki pilihan calon gubernur-wakil gubernur di Pilkada Jabar 2024.
Dukungan terbesar pemilih ditujukan kepada pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan (65 persen) dan Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie (9 persen). Di tengah kecilnya proporsi responden yang belum menentukan pilihan dan dominannya elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan, sejauh mana keberadaan undecided voters ini mampu memengaruhi konstelasi Pilkada Jabar?
Peran pemilih bimbang dalam pemilihan pemimpin sesungguhnya menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan. Faktor penentu ini dipengaruhi oleh ketatnya persaingan para kandidat dalam memperebutkan suara sehingga terjadi selisih suara yang tipis. Di sinilah, keberadaan pemilih bimbang diperebutkan.
Dari sisi kandidat, keberadaan pemilih bimbang menjadi salah satu ceruk menambah tingkat elektabilitas. Kemampuan para kandidat gubernur-wakil gubernur dalam meyakinkan para pemilih bimbang ini menjadi potensi untuk menambah tingkat keterpilihan. Namun, tak hanya pemilih bimbang, upaya menambah elektabilitas juga dapat datang dari para pemilih yang masih berpeluang berubah pilihan (swing voters).
Proporsi mereka yang masih mungkin berubah pilihan dari hasil survei ini mencapai 34 persen. Melihat proporsinya, mereka yang masih mungkin berubah (34 persen) dan belum menentukan pilihan (17,3 persen) ini berpotensi memberikan pengaruh pada pilkada mendatang.
Potensi pergeseran dukungan dari swing voters paling banyak datang dari pemilih Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja (55,2 persen). Sementara pemilih yang paling minim menyatakan berubah pilihannya ialah pendukung Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan (25,6 persen). Dengan kata lain, pemilih Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan cenderung lebih loyal dengan pilihannya.
Tingginya elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan dan loyalitas pemilihnya yang telah mantap memberikan pilihan kepada pasangan ini membuat daya pengaruh pemilih bimbang di Pilkada Jabar kali ini menjadi minim.
Meski demikian, potensi undecided voters dalam pemilu tetaplah tidak boleh dianggap remeh. Keberadaan pemilih bimbang dan pemilih mengambang (swing voters) yang biasanya menentukan pilihan pada hari-hari menjelang pencoblosan kerap menjadi sasaran kampanye dan target iklan politik.
Muatan pesan kampanye politik dengan isu strategis dan menawarkan benefit langsung kepada pemilih dapat menjadi agen perubahan besar bagi pemilih bimbang, pemilih mengambang, dan bahkan pemilih yang sudah cukup loyal untuk berganti pilihan politiknya dari satu kandidat ke kandidat lain. Bukan tidak mungkin, di tengah dominasi elektabilitas, dinamika politik dari perubahan dukungan bakal terjadi. (LITBANG KOMPAS)
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Group Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
Penulis:
Andreas Yoga PrasetyoEditor:
Yohan Wahyu