Inisiasi desain rekayasa awal proyek itu telah diluncurkan. Namun, yang krusial ialah perjanjian jual beli gas sebelum kemudian final investment decision.
10 Apr 2025 07:00 WIB · Ekonomi
Harapan muncul dari pengembangan gas bumi di Lapangan Abadi Blok Masela, Maluku, setelah INPEX, sebagai operator, meluncurkan inisiasi desain rekayasa awal atau front-end engineering design. Menyimpan potensi gas bumi raksasa, proyek yang telah lama dinanti itu diharapkan berproduksi pada 2030.
Peluncuran inisiasi front-end engineering design (FEED) onshore liquified natural gas (OLNG) Abadi Masela dilaksanakan di Jakarta, Rabu (9/4/2025). Turut hadir Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto serta President & CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda.
Fase ini akan difokuskan pada pemilihan teknologi lisensor likuefaksi dan teknologi penggerak turbin gas. Hasil dari fase ini akan menjadi dasar teknis untuk tahap selanjutnya sekaligus mempercepat keseluruhan FEED.
Djoko mengatakan,pemerintah berharap inisiasi FEED OLNG Proyek LNG Abadi benar-benar mendekatkan proses ke tahap berikutnya, secara tepat waktu, bujet, serta mengedepankan aspek keselamatan. Ia juga berharap segera ada gas sales agreement (GSA) atau perjanjian jual beli gas (PJBG) menuju final investment decision (FID) pada 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/27/999a7244-0ba7-4371-be4e-15055808dc61_png.png)
Lantaran butuh akselerasi, pemerintah meminta FID setidaknya harus sudah dilaksanakan pertengahan 2026. Sementara terkait komersialisasi gas, diharapkan terlaksana secepatnya pada tahun ini.
”Rencana bulan Juni (2025) INPEX mau memasarkan gasnya. Mudah-mudahan untuk HoA (head of agreement) untuk yang dengan domestik bisa kita tanda tangani nanti di acara IPA (Indonesian Petroleum Association) bulan depan. Dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara), pupuk (PT Pupuk Indonesia), dan PGN (Perusahaan Gas Negara),” katanya.
Sebagai informasi, INPEX ialah pemegang 65 persen hak partisipasi (PI) Proyek Abadi Masela. Sejak 2023, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengempit 20 persen PI dan Petronas Masela Sdn Bhd (Petronas Masela) menguasai 15 persen PI. Kedua perusahaan terakhir membeli hak partisipasi dari Shell (35 persen) yang memutuskan hengkang.
Proyek Abadi Masela ialah proyek strategis nasional (PSN). Sumur migas pada proyek itu terletak di Laut Arafura, dengan kedalaman laut 400-800 meter serta kedalaman sumur 4.000 meter. Adapun kilang LNG, meliputi dua train likuefaksi LNG, menurut rencana akan dibangun di darat, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Kapasitas produksi diproyeksikan 1.600 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau setara 9,5 juta ton LNG per tahun. Di samping itu, akan dihasilkan juga 150 MMSCFD gas pipa serta 35.000 barel kondensat per hari.
Ueda menuturkan, proyek LNG Abadi dirancang menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) sejak awal pengembangan. Oleh karena itu, selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek itu juga akan mendukung target dekarbonisasi Indonesia.
Umumnya, kata Ueda, dalam suatu proyek, akan membutuhkan dua tahun dalam pre-FID dan FID, ditambah empat hingga lima tahun dalam pelaksanaan rekayasa, pengadaan dan konstruksi (EPC). Oleh karena itu, target pemerintah dalam penyelesaian FID serta mulai berproduksi sebelum 2030, menjadi target yang amat menantang.
Pemerintah Indonesia, katanya, betul-betul meminta akselerasi tersebut seiring meningkatnya permintaan LNG. ”Jadi, kami akan melakukan upaya terbaik,” ujar Ueda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/09/3325b769-8b58-4c6b-9208-47f701f87984_jpg.jpg)
Ia optimistis proyek dapat terlaksana tepat waktu karena permintaan LNG Indonesia di masa depan juga terus tembuh. INPEX pun telah berdiskusi dengan banyak pembeli potensial. Hal tersebut juga dalam rangka menyediakan permintaan energi untuk dalam negeri.
”Namun, di saat yang sama, permintaan di kawasan Asia, termasuk Jepang serta negara-negara lain, juga akan meningkat pada 2040, lalu 2050. Ada permintaan besar. Jadi, kami perlu menyeimbangkan portofolio kami, antara suplai untuk domestik serta ekspor,” kata Ueda.
Sebagai catatan, sebelum dilakukan peluncuran FEED OLNG LNG Abadi, pada Februari 2025, pemerintah melayangkan surat peringatan kepada INPEX terkait pengembangan proyek itu. Pemerintah merasa kemajuan proyek tersebut lambat. Pemerintah pun mendorong tahun ini ada kesepakatan pembelian gas pada proyek itu.
Berdasarkan catatan Kompas, proyek hulu migas Blok Masela berjalan lambat dan penuh kontroversi. Ditemukan tahun 2000 oleh INPEX, Shell lalu masuk pada 2011, yang membuat komposisi saham 65 persen INPEX dan 35 persen milik Shell.
Rencana pengembangan lapangan (POD) proyek Masela sebenarnya sudah rampung pada akhir 2015. Saat itu, investor mengajukan pengembangan kilang LNG terapung di laut lepas (offshore). Namun, ada ketidakkompakan di tubuh pemerintah terkait mana yang lebih efisien apakah offshore atau onshore (darat). Akhirnya, Presiden Joko Widodo memutuskan proyek dilaksanakan dengan skema di darat.
Setelah itu, proyek relatif tidak berjalan dan terkatung-katung hingga Shell memutuskan untuk mundur pada 2020. Kejelasan proyek baru muncul kembali pada 2023 ketika Pertamina bersama Petronas membeli hak partisipasi Shell, dengan nilai penjualan 650 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,8 triliun.
,
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), dalam hal ini INPEX, sejatinya tak bisa disalahkan terkait lambatnya progres. Sebab, pada 2015, saat hendak berjalan dengan skema kilang offshore, proyek sudah akan berjalan. Namun, ada perubahan keputusan dari pemerintah.
Perubahan keputusan dari pemerintah di masa lalu pun menjadi pelajaran. ”Apa pun, kini semua ingin cepat, termasuk pemerintah. Ini jadi sinyal positif. Tinggal bagaimana komunikasi antarpihak harus terus berjalan baik. Termasuk terkait serapan (LNG)-nya seperti apa. Gas potensial karena dibutuhkan di era transisi energi,” kata Komaidi.
Praktisi sekaligus pemerhati migas Hadi Ismoyo menuturkan, kendati inisiasi FEED sudah dilakukan, tahapan yang sebenarnya krusial ialah perjanjian jual beli gas (GSA). Sebab, dalam proyek gas, perjanjian jual beli, yakni adanya harga, volume, dan waktu pengiriman menjadi keharusan sebelum proyek berjalan.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek itu juga akan mendukung target dekarbonisasi Indonesia.
”Setelah GSA, baru naik top management untuk FID, untuk pembiayaan proyek. Jadi, yang krusial ialah bagaimana para pihak membantu INPEX mencari pembeli (gas) yang firm. GSA harus segera didorong,” ujar Hadi.
Mengenai pasar ekspor LNG, Hadi menyebut ada persaingan ketat, khususnya dari negara-negara dari Timur Tengah, Afrika Barat, dan Amerika Serikat. Permintaan LNG dari negara-negara seperti Jepang dan Korea memang diperkirakan bakal tinggi. Namun, kompetisi juga ketat dan harga tak bisa diharapkan tinggi, sedangkan proyek LNG Abadi pasti akan membutuhkan imbal hasil tinggi.
”Peluang justru ada dalam negeri. Sebab, nanti, neraca gas untuk PLN akan menyusut. Jadi, bisa duduk bersama antara INPEX, Pertamina, PLN, dan SKK Migas. Yang jelas (harga) harus tetap ekonomis. Misalnya, dengan dukungan insentif pemerintah. Syarat lainnya, infrastruktur gas dalam negeri harus betul-betul ditumbuhkan,” ucap Hadi.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Aloysius Budi KurniawanPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul