Tiga matra TNI unjuk gigi saat pameran Indo Defence. Masing-masing menampilkan sejumlah teknologi militer yang dibangun sendiri.
11 Jun 2025 21:54 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Tidak hanya industri pertahanan, Tentara Nasional Indonesia pun menampilkan sejumlah teknologi militer yang telah dibangunnya. Teknologi ini dibangun dengan dasar kebutuhan internal dan perlahan, tetapi pasti, dipakai dalam berbagai aspek tugas TNI.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad) Brigadir Jenderal Wahyu Yudhayana di sela-sela Indo Defence, Rabu (11/6/2025), mengatakan, TNI AD memamerkan sejumlah teknologi militer yang dibangun sendiri.
Pembangunan teknologi ini untuk menjawab situasi atau kondisi yang dialami TNI AD. Misalnya, aplikasi simulasi holometrik yang dibangun oleh Pusat Simulasi Pertempuran TNI AD. Dengan adanya aplikasi ini, pengambilan keputusan dalam tugas operasi lebih mudah dan efisien.
”Selama ini, kan, digunakan papan. Sekarang sudah bisa pakai displai” kata seorang prajurit yang menjaga stan TNI AD.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/ed41dd3e4789ca44ceaaa1d10ae57eb4-WhatsApp_Image_2025_06_11_at_21.03.45.jpeg)
Aplikasi yang berbasis Google Maps ini menempatkan berbagai komponen operasi dalam layar. Walaupun belum bisa real time, komponen operasi, seperti pasukan dan polisi militer, ditempatkan sesuai koordinat masing-masing saat latihan.
Dengan peta tersebut, posisi kawan dan lawan serta unsur-unsurnya bisa dengan mudah dipantau. Maka, seorang komandan bisa lebih mudah mengambil keputusan setelah melihat berbagai komponen di layar. Aplikasi yang dibuat bersama dengan perusahaan swasta ini telah dipakai dalam beberapa simulasi tempur. Aplikasi ini terdiri dari beberapa displai berukuran cukup besar dan beberapa laptop sehingga lebih praktis.
Adapun di stan TNI AU, Kolonel (Pnb) Didik Setya sebagai Kepala Subdinas Penerangan Umum menunjukkan alat simulasi untuk teknisi. Alat yang disebut sebagai virtual maintenance training (VMT) EC725 ini dibuat untuk mempermudah teknisi belajar melakukan pemeliharaan dan perawatan untuk helikopter EC725.
”Dengan adanya alat ini, teknisi bisa mulai lebih cepat mengenal komponen dan cara kerja helikoter EC725,” kata Didik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/b9f83e0a34c133a4fe3701d63502ab04-WhatsApp_Image_2025_06_11_at_21.02.13.jpeg)
Menurut dia, alat ini telah digunakan di Skadron Pendidikan (Skadik) 302 yang mendidik teknisi helikopter. Meski pada akhirnya para calon teknisi ini tetap harus mendatangi skadron helikopter untuk bekerja langsung pada helikopter Caracal di skadron-skadron helikopter, sebelumnya pendidik bisa langsung mendidik siswa dengan melakukan latihan pada VMT.
Alat ini bekerja dengan menggunakan sensor gerak sehingga seorang teknisi bisa mencoba mengutak-atik helikopter dengan alat di tangannya. Apabila ternyata tindakannya salah, lampu merah akan menyala yang berarti ada kesalahan.
”Sudah setahun di Skadik 302. Ini bisa mengurangi risiko dan menghemat waktu,” kata Didik.
TNI AL memamerkan Object Detection Identification System (ODIS) tahap 2. Letnan Dua Aulia dari Litbang TNI AL menjelaskan, alat itu merupakan prototipe remotely operated vehicle (ROV) yang bisa mendeteksi ranjau laut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/efeb8328c98ad445db871d074ce6b6b4-WhatsApp_Image_2025_06_11_at_21.02.42.jpeg)
Alat tersebut dikembangkan oleh Laboratorium Induk Bawah Air (Labinbair) Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL yang merupakan bagian dari Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI AL.
Alat ini memiliki tiga kamera kecil di bagian depannya. Kamera ini bertugas untuk mendeteksi adanya ranjau laut. Gambaran yang didapat oleh kamera lalu langsung ke operator yang ada di atas kapal.
ODIS dan operator ini dihubungkan dengan serat optik sehingga gambar obyek yang dideteksi oleh kamera bisa terlihat jelas. Apabila ternyata obyek tersebut adalah ranjau, ODIS memiliki medium untuk meledakkan ranjau dengan mekanisme seperti bom waktu sehingga ODIS bisa bergerak menjauh sebelum ranjau meledak.
Alat yang panjangnya 1,75 meter ini memiliki berat sekitar 70 kg saat berada di dalam air. Ia bisa beroperasi hingga kedalaman 150 meter dengan panjang kabel optik sekitar 500 meter. Alat yang beroperasi dengan baterai ini bisa bekerja nonstop selama 2 jam. Aulia mengatakan, alat ini dibangun sendiri oleh Litbang TNI AL, tetapi ada beberapa bagian, seperti baling-baling, yang dibeli jadi.
Penulis:
Edna C PattisinaEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra