Selain serangan retorika dan militer, Trump kini melancarkan diplomasi untuk membahas ketegangan antara AS dan Venezuela.
01 Des 2025 12:30 WIB · Internasional
AFP/JUAN BARRETO, ANDREW CABALLERO-REYNO
WASHINGTON DC, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi baru-baru ini menelepon Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Komunikasi langsung kedua presiden terjalin seiring meningkatnya ketegangan kedua negara. Di samping itu, Venezuela sedang meminta bantuan OPEC.
”Saya tidak ingin berkomentar. Jawabannya, ya,” kata Trump mengonfirmasi soal telepon itu kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, Minggu (30/11/2025) waktu setempat atau Senin waktu Indonesia.
Jumat pekan lalu, The New York Times melaporkan, Trump dan Maduro telah membahas kemungkinan pertemuan di AS. Sehari kemudian, The Wall Street Journal mengungkapkan, percakapan tersebut juga mencakup ketentuan amnesti jika Maduro mengundurkan diri.
Trump enggan memberikan detail lebih jauh terkait percakapan mereka. ”Saya tidak akan mengatakan telepon itu berjalan baik atau buruk. Itu hanya panggilan telepon,” ujarnya.
Panggilan telepon itu menunjukkan Trump tetap mempertimbangkan pendekatan diplomasi kepada Venezuela. Selama ini, ia menggunakan retorika dan tekanan agresif, termasuk meningkatkan kekuatan militer di Karibia, menetapkan kartel Para Matahari sebagai kelompok teroris, dan mengizinkan operasi rahasia Badan Pusat Intelijen AS (CIA) di Venezuela.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/01/e2cd6f3e-eab7-4839-a010-9cab257b7704_jpg.jpg)
Ancaman terbaru Trump keluar pada Sabtu (29/11/2025). Ia hendak menutup ruang udara Venezuela sepenuhnya. Pernyataan itu memicu kebingungan dan kecemasan di Caracas. Beberapa pejabat di AS pun kaget.
Ketika ditanya apakah ancaman penutupan wilayah udara tersebut berarti serangan terhadap Venezuela segera terjadi, Trump menolak membahas lebih lanjut. ”Jangan berasumsi apa pun,” ucapnya.
Maduro dan para pejabat senior Venezuela belum mengomentari panggilan telepon tersebut. Presiden Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodriguez, Minggu, mengatakan, topik itu tidak menjadi bagian konferensi persnya yang membahas penyelidikan anggota parlemen atas serangan kapal AS di Karibia.
Ketegangan hubungan AS-Venezuela sedang memasuki babak baru. Konflik berakar dari tudingan AS bahwa Maduro mengendalikan kartel Los Soles atau kartel Para Matahari yang memasok obat-obatan terlarang ke AS. Washington sudah menetapkan kartel itu sebagai organisasi teroris asing (FTO).
Maduro, anak politik mendiang Presiden Hugo Chavez yang berhaluan sosialis, membantah tuduhan itu. Negara-negara pendukungnya bersikukuh bahwa organisasi semacam itu tidak ada.
Menurut Reuters, Washington sedang mempertimbangkan opsi-opsi untuk menggulingkan Maduro. Militer AS bersiap untuk fase operasi baru setelah meningkatkan kekuatan militer secara besar-besaran di Karibia.
Pada Kamis (27/11/2025), Trump mengatakan, jumlah pengedar narkoba dari Venezuela lewat jalur laut tidak banyak lagi berkat serangan militer AS. Sejak September 2025, AS melancarkan sejumlah serangan udara terhadap kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur. Sebanyak 83 orang tewas.
Trump lalu mengisyaratkan serangan AS akan beralih dari laut ke darat. Hal itu ia katakan melalui telepon kepada para prajurit dalam perayaan Thanksgiving.
”Kalian mungkin menyadari orang-orang tidak ingin lagi melakukan pengiriman melalui laut dan kami juga akan mulai menghentikan mereka melalui jalur darat. Jalur darat lebih mudah, tetapi itu akan segera dimulai,” kata Trump, menurut CNN.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/01/61e68016-a0dc-420a-b2d4-e6a88cfe2e7d_jpg.jpg)
Senator Republikan Lindsey Graham memuji isyarat Trump bahwa aksi darat AS di Venezuela segera terjadi. ”Saya sangat menghargai dan menghormati tekad Presiden Trump untuk menangani negara-negara ’khalifah narkoba’ yang mendiami halaman belakang kita,” tuturnya.
Pemerintahan Trump tidak kunjung memberikan bukti konkret untuk mendukung tuduhan terhadap Maduro. Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengecam serangan AS sejak September lalu. Menurut mereka, aksi itu pembunuhan warga sipil di luar hukum. Beberapa pakar dan sekutu AS khawatir Washington mungkin melanggar hukum internasional.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, serangan tersebut sah, tetapi memang bertujuan untuk ”mematikan”. Namun, Hegseth kemudian membantah memberi perintah ”membunuh semua orang” seperti laporan The Washington Post and CNN. Trump akan menyelidiki masalah ini.
Venezuela bersikeras tujuan akhir AS adalah pergantian rezim. Pemerintah AS tidak mengakui Maduro sebagai pemenang sah pemilihan presiden tahun lalu. Caracas mengecam persiapan AS untuk serangan.
Dalam langkah terbarunya, Venezuela meminta bantuan komunitas internasional untuk menghentikan ancaman AS yang semakin ”besar dan ilegal”. Presiden Maduro bersurat kepada Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
”Washington berusaha merebut cadangan minyak Venezuela yang sangat besar, terbesar di dunia, dengan menggunakan kekuatan militer,” tulis Maduro dalam surat tersebut, yang dibacakan Wakil Presiden sekaligus Menteri Perminyakan Venezuela Delcy Rodriguez dalam pertemuan virtual para menteri OPEC, Minggu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/01/4ceb7fd3-1dab-4b78-a5c0-9b1f8c66ad80_jpg.jpg)
Venezuela bersama dengan Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi adalah pendiri OPEC pada 1960. OPEC mengendalikan pasokan minyak dan memengaruhi harga minyak dunia.
Dilansir dari Al Jazeera, cadangan minyak Venezuela diperkirakan mencapai 303 miliar barel pada 2023. Negara ini hanya mengekspor minyak mentah senilai 4,05 miliar dollar AS pada 2023, jauh di bawah negara-negara penghasil minyak utama lain, akibat sanksi Trump di masa kepresidenan yang pertama (2017-2021).
Maduro dalam surat juga berharap dapat mengandalkan upaya terbaik OPEC untuk membantu menghentikan agresi ini. Agresi tersebut secara serius mengancam keseimbangan pasar energi internasional, baik bagi negara-negara produsen maupun konsumen.
Sementara Rodriguez mengatakan, ia sudah bertemu dengan kerabat warga Venezuela yang tewas dalam serangan AS. Menurut dia, jika Hegseth memberi perintah sesuai pemberitaan, Venezuela akan berbicara tentang kejahatan perang.
”Mengingat tidak ada perang yang dideklarasikan, apa yang terjadi hanya dapat digambarkan sebagai pembunuhan atau eksekusi di luar hukum,” kata Rodriguez. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti