Sejarah dan Perginya Sejarawan ”Burung Hantu” Anthony Reid

Anthony Reid dikenang sebagai sejarawan tak kenal lelah, meninggalkan jejak besar dalam dunia sejarah dan budaya di Asia Tenggara, Aceh, Sulawesi, dan Indonesia.

12 Jun 2025 11:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Usman Hamid

Setiap bangsa perlu pengetahuan sejarah yang akurat dan kontekstual untuk mengenali dirinya sendiri dan dunia sebagai pembelajaran hari ini. Dan, kekuatan terbesar sejarawan ada pada integritas dan kemampuannya dalam menjelaskan ataupun menafsirkan masa lalu dengan cara yang jujur dan adil.

Di tengah polemik penulisan ulang ”sejarah resmi” Indonesia, dunia kehilangan Anthony Reid, sejarawan terkemuka yang berjasa besar pada pemahaman sejarah dan budaya Asia Tenggara, termasuk Aceh dan Sulawesi pada masa sebelum terbentuknya Indonesia. 

Lahir di Selandia Baru pada 1939, sosok bernama lengkap Anthony John Stanhope Reid ini wafat dengan tenang pada Minggu pagi, 8 Juni lalu. Belajar ekonomi dan sejarah di Victoria University of Wellington hingga King’s College, Cambridge, sosok yang akrab disapa ”Tony” ini pernah mengajar di Universitas Malaya, National University of Singapore, Pusat Penelitian Ilmu Sosial Ujung Pandang, dan Australian National University. 

Karya monumentalnya banyak membuka horizon kompleksitas sejarah dan budaya Asia Tenggara, mewariskan wawasan berharga bagi sejarawan muda. Yang terkenal adalah Southeast Asia in the Age of Commerce, c.1450-1680 (dua volume, 1988 dan 1993). 

Gerakan nasionalisme dan pembentukan bangsa-bangsa kawasan ini dikaguminya dan dicatatnya dalam The Indonesian National Revolution, 1945-1950 (1974); Imperial Alchemy: Nationalism and Political Identity in Southeast Asia (2010); hingga A History of Southeast Asia: Critical Crossroads (2015). 

Untuk Aceh, karyanya Indonesian diplomacy: a documentary study of Atjehnese foreign policy in the reign of Sultan Mahmud, 1870-74 (1969) sampai An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra (2005), selalu menjadi rujukan. Ia dan istrinya, Helen Gray, pernah menulis buku panduan edisi Periplus berjudul South Sulawesi (1988). 

Sumbangsih Tony 

Tony dikenal karena pendekatan uniknya dalam memahami sejarah sebagai ”denyut hidup manusia”, bukan semata deret tahun atau pemerintahan, tetapi kisah perjuangan rakyat, termasuk mempertahankan identitas dan budayanya dalam dinamika sosial politiknya dengan kekuatan besar.

Lewat pendekatan interdisipliner, ia menunjukkan bagaimana perdagangan, kolonialisme, interaksi budaya, dan nasionalisme membentuk sejarah kawasan Asia Tenggara. Asal-usul kemiskinan dan kesenjangan di balik kemakmuran kawasan, migrasi etnis China dan peran mereka dalam penyebaran Islam oleh orang China ke Sumatera Utara menjadi perhatiannya. 

Anthony Reid - arsip Penerbit KPG

Salah satu pandangannya yang mencengangkan adalah bahwa perempuan Asia Tenggara relatif memiliki kedudukan sosial yang tinggi, kebebasan individu, dan akses sumber daya politik dan ekonomi di masa lalu (Cribb, 2012). Meski pandangan arus utama para sarjana umumnya mencatat ketidaksetaraan bagi perempuan, ia menunjukkan betapa gagasan-gagasan progresif hari ini bukanlah hal baru, tetapi telah ada dalam sejarah masa silam. 

Soal Aceh, ia melukiskan betapa kesultanan kecil di sana berkiprah dalam politik dunia. Perlawanan Aceh adalah contoh bagaimana masyarakat lokal dapat melawan kekuatan kolonial yang lebih besar seperti Belanda dan Inggris untuk menguasai Aceh, eksploitasi sumber daya alamnya, dan merusak infrastruktur, ekonomi, dan budaya. 

Ia pernah heran saat dihubungi gerilyawan Aceh era 1970-an yang mengagumi disertasinya soal Aceh: The Contest for North Sumatra: Atjeh, the Netherlands and Britain 1858-1898. Ia merasa disertasinya itu biasa dan membosankan. Gerilyawan bernama Hasan Tiro itu lalu menemuinya berdekade kemudian seusai Perjanjian Perdamaian Helsinki, 2005. Aceh telah berstatus otonomi politik yang tinggi. 

Jasanya signifikan dalam literatur gerakan nasionalisme dan revolusi di Asia Tenggara. Ia telah melakukan penelitian historis mendalam tentang Revolusi Indonesia dan peranannya dalam membentuk identitas nasional. Ia juga menganalisis peran gerakan nasionalisme dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan bangsa di Asia Tenggara. 

Ia dikenal karena penggunaan sumber primer yang luas dalam risetnya, seperti dokumen-dokumen sejarah dan wawancara dengan pelaku sejarah. Tentu saja, ia dikenal karena pendekatan interdisiplinernya, menggabungkan sejarah, politik, dan antropologi untuk memahami kompleksitas gerakan nasionalisme dan revolusi di Asia Tenggara. 

Karyanya menyediakan lahan subur kajian-kajian berikutnya. Siapa pun yang ingin tahu Asia Tenggara, termasuk sejarah spesifik tentang Aceh, wajib membaca sisi sejarah lokal seperti dijelaskan Tony. Lokal dalam arti bukan semata sejarah kerajaan dan kekuasaan, tetapi sejarah kerakyatan dalam keseharian dan dinamikanya dengan kekuasaan. 

Sosok rendah hati 

Saya mengenalnya pertama kali lewat buku The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra. Meski buku ini terbit tahun 1979, saya baru membacanya pada era 1990-an ketika sebagai gerakan mahasiswa kami menolak Daerah Operasi Militer yang berlaku di Aceh selama 1989-1998. 

Protes mahasiswa dan rakyat Aceh secara luas saat itu mendorong Presiden BJ Habibie membentuk Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh. Karya Reid yang akurat dan kontekstual perihal Aceh kembali menjadi rujukan. 

Satu setengah dekade berlalu, saya sering menemuinya di Australian National University. Sejarawan besar ini ternyata rutin hadir pada seminar yang digelar setiap hari Selasa di Political and Social Change Department, College of Asia and The Pacific, ANU. Ini adalah tempat yang dirintisnya dengan nama Research School for Pasific and Asian Studies pada 1980-an. 

Tepat waktu dan nyaris selalu berkemeja dibalut sweater hangatnya, ia dengan rendah hati bertanya pada pembicara yang kebanyakan adalah mahasiswa yang tengah memaparkan rencana atau hasil kunjungan lapangannya. 

Suatu hari pada September 2014, kami sama-sama mengisi acara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra. Ia mengisi ceramah, sedangkan saya bermusik. Saat itu ada ketegangan antara kedua negara pasca-penyadapan intelijen Australia terhadap presiden Indonesia. Tapi ceramahnya tetap terstruktur, tenang, dan sesekali mengundang tawa. 

Usai Tony ceramah, Dubes RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema tiba-tiba request lagu untuk Tony, yang notasi musiknya tidak saya kuasai. Saya lupa judulnya, tapi ingat betapa ia memaklumi dan menikmatinya.   

Sarjana kakatua dan burung hantu 

Suatu hari ia bercerita soal dua perspektif sarjana Australia tentang Indonesia. Pertama, perspektif burung kakatua (cockatoos) yang sejak 1950-an diprakarsai banyak sarjana muda yang ingin membantu Indonesia menjadi lebih modern. Mereka selalu bersemangat dan sibuk mempelajari sesuatu, terkadang berisik dan menjengkelkan, tetapi indah dalam idealisme mereka. 

Kedua, katanya, perspektif burung hantu (owls) yang fokus pada memahami keunikan dan perbedaan budaya Indonesia. Seperti burung hantu, mereka kerap terbelalak heran melihat betapa berbeda budaya Indonesia, dan berusaha keras untuk mempelajari bahasa dan nuansa yang sulit ini. 

Yang pertama kental semangat reformis, idealis, dan optimistis pada kemampuan Indonesia berkembang, seringkali memiliki agenda untuk memajukan perubahan sosial dan politik di Indonesia. 

Yang kedua bersifat alteritas, menerapkan pendekatan yang lebih berhati-hati, cenderung memberi pandangan yang lebih bernuansa dan kompleks soal Indonesia, dan seringkali fokus pada konteks sejarah dan budaya. Mereka ini dipengaruhi oleh keinginan memahami Indonesia dalam konteks lebih luas, dan seringkali memiliki pendekatan lebih teoritis dan metodologis. 

Sampul buku Indonesia dan Masa Lalunya (MataBangsa, 2022) *** Local Caption *** -

Dengan pembagian ini, ia menunjukkan ada perbedaan pendekatan dan perspektif dalam studi Indonesia di kalangan sarjana Australia. Dan, keduanya, kata dia, telah memberikan jasa besar pada pemahaman soal Indonesia. Belakangan ia merasakan perubahan di mana semakin banyak akademisi muda fokus pada isu-isu kontemporer. 

Warisan jejak besar 

Sejumlah sahabat dan murid yang belajar darinya pernah memberikan penghormatan atas jasanya dalam studi sejarah Asia Tenggara melalui kumpulan esai berjudul Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past yang disunting oleh Geoff Wade dan Li Tana (2012). 

Pengantar buku ini mengisahkan jejak langkahnya menimba ilmu, bermusafir melintasi benua dengan Volkswagen bersama kekasihnya, Helen Gray, hobi tenis, dan perjalanan akademik. Sejarawan Robert Cribb, misalnya, mengulas rinci awal mula buah pikiran Tony dalam seminar Universitas Adelaide pada 1960-an dan relevansinya bagi sejarah Indonesia. 

Penulis lain membahas jasa Tony dalam karya-karyanya yang terkenal, pendekatan historiografinya, fokusnya pada perdagangan, interaksi budaya, dan dinamika sosial Asia Tenggara, dampak karyanya bagi para akademisi dan peneliti generasi berikutnya, hingga kritik atas pendekatannya. Intinya, mereka mengakui bagaimana karyanya memberikan wawasan yang berharga tentang perkembangan studi sejarah di kawasan ini. 

Kita akan mengenangnya sebagai sejarawan tak kenal lelah, meninggalkan jejak besar dalam dunia sejarah dan budaya di Asia Tenggara, Aceh, Sulawesi, dan Indonesia. Sejarawan yang dengan kerendahan hatinya bersikap seperti burung hantu untuk memahami sejarah secara jujur dan adil. 

Barangkali perlulah kiranya Indonesia dan juga bangsa-bangsa di Asia Tenggara memulai tradisi pengakuan kenegaraan atas sumbangsih besar sejarawan seperti Tony. Entah itu tanda jasa atau gelar kehormatan agar kita belajar darinya tentang sejarah kita sendiri.

Selamat jalan, Pak Tony. Sosokmu akan terus hidup dalam ingatan kami, dan karya-karyamu akan terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi mendatang.

Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Pengurus LHKP PP Muhammadiyah, dan Dewan Pakar Peradi


Kerabat Kerja

Penulis:

Usman Hamid
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama, Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto