Longsor akan terus berulang dan memakan korban di daerah yang sama jika tidak ada upaya perbaikan bentang alam yang signifikan dari pemerintah.
17 Nov 2025 19:51 WIB · Lingkungan
ANTARA FOTO
JAKARTA, KOMPAS — Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, Banjarnegara dan Cilacap merupakan daerah dengan jumlah korban menderita dan mengungsi akibat tanah longsor terbanyak di Jawa Tengah pada periode 2015-2024. Secara berurutan, jumlahnya mencapai 13.351 jiwa dan 9,641 jiwa.
”Dua-duanya saat ini terdampak tanah longsor dengan korban yang sangat signifikan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, di Jakarta, pada Senin (17/11/2025).
”Jadi, sebenarnya sejarah itu tidak akan berbohong, sekali dia terjadi di masa lalu, kalau belum ada perbaikan signifikan, kemungkinan akan terjadi lagi dan berulang di tahun mendatang,” tuturnya.
Dia menegaskan, Indonesia belum memiliki peringatan dini nasional khusus longsor dan banjir berbasis teknologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hanya memberikan peringatan hujan, bukan prediksi longsor.
Menurut Abdul, longsor bisa juga terjadi meski hujan tidak ekstrem, terutama di daerah tanah gembur. Untuk itu penting bagi semua pihak untuk menjaga kelestarian alam dari pemanfaatan lahan yang sembarangan.
”Kita bisa mengurangi potensi kejadiannya kalau memang secara lingkungan kita melakukan perbaikan yang signifikan; bentang lahannya, vegetasinya, dan lain-lain,” ucapnya.
Saat ini, BNPB tengah membangun sistem dan teknologi peringatan dan aksi dini untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi basah berbasis teknologi. Adapun teknologi ini dimanfaatkan untuk memberikan informasi lebih cepat kepada masyarakat.
Sementara hal itu dibangun, masyarakat di daerah rawan tersebut harus secara manual mengantisipasi bencana yang bisa sewaktu-waktu terjadi kepadanya.
Kita bisa mengurangi potensi kejadiannya kalau memang secara lingkungan kita melakukan perbaikan yang signifikan; bentang lahannya, vegetasinya, dan lain-lain.
Abdul menjelaskan, tanda-tanda longsor yang harus segera diwaspadai, antara lain pohon-pohon di bukit mulai miring, muncul rekahan tanah panjang, tanah dasar rumah atau tembok mulai retak, hingga hujan deras lebih dari dua jam.
”Jika sudah ada tanda-tanda itu, segeralah mengungsi, bahkan bila rumah masih berada 0,5–2 kilometer dari bukit,” ujarnya. Pemerintah daerah pun harus mempercepat; pendataan warga rawan, relokasi jangka panjang, hingga rehabilitasi lingkungan dengan reboisasi.
”(Hasil) reboisasi mungkin tidak akan kelihatan dalam 3-5 tahun, ya, kelihatannya mungkin nanti 15-20 tahun, ini harus konsisten kita lakukan,” tutur Abdul.
Hingga Senin (17/11/2025), jumlah korban meninggal akibat longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sudah mencapai 16 orang. Tujuh orang hilang lainnya sejak Kamis (13/11) lalu dalam proses pencarian oleh tim yang dikoordinasikan Badan SAR Nasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/3fa2ce983cfd50c88afc24df723c94be-000_83Z64NQ.jpg)
Selain itu, jumlah warga yang mengungsi sementara tercatat 106 orang dengan rincian 56 orang di Balai Desa Cibeunying dan 50 orang di MTS SS Cibeunying. Secara materi, bencana itu mengakibatkan 16 rumah rusak berat, dengan rincian 8 unit di Dusun Cibuyut dan 8 unit di Dusun Tarukahan, dan 16 rumah warga lain terancam dengan ada gerakan tanah.
Sementara di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, 27 warga, masih tertimbun longsor sejak Sabtu (15/11). Korban yang ditemukan meninggal dua orang, luka-luka 2 warga, dan mengungsi 823 orang. Kerugian material meliputi rumah rusak berat 30 unit dan rusaknya lahan persawahan dan perkebunan.
Tim terus memastikan pelayanan dasar pengungsi terpenuhi di Banjarnegara dan Cilacap. Kementerian Sosial juga sudah memberikan dukungan logistik berupa selimut, kasur, dan sembako senilai Rp 191,1 juta. Kemudian dapur umum dengan kapasitas sekali masak untuk 1.000 orang.
Kemensos juga memberikan santunan kepada ahli waris korban meninggal Rp 15 juta per orang. Terkait relokasi dan hunian sementara bagi para korban baru akan dibahas setelah ada evaluasi dan langkah tindak lanjut dari pemerintah pascastatus tanggap bencana dua pekan dihentikan.
”Kami memberikan pendampingan psikologis. Semuanya sedang berproses. Jadi, ada tim logistik, psikososial, dan tim evakuasi,” kata Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono, dalam keterangan pers, pada Minggu (16/11/2025).
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase