An Se-young, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, dan Christo Popov menjuarai turnamen Final BWF World Tour. Mereka menciptakan rekor dan sejarah di arena bulu tangkis.
22 Des 2025 06:50 WIB · Olahraga
AFP
HANGZHOU, MINGGU — Turnamen bulu tangkis Final BWF World Tour di Hangzhou, China, menjadi panggung bagi empat atlet untuk membuat rekor bagi diri sendiri dan negara mereka. Selain pengukuhan dominasi, turnamen penutup dalam persaingan BWF World Tour ini juga melahirkan kejutan.
An Se-young dan Kim Won-ho/Seo Seung-jae adalah atlet yang mengukuhkan dominasi mereka pada 2025. Kedua wakil Korea Selatan itu meraih gelar ke-11 ketika memenangi final dalam pertandingan di Hangzhou Olympics Sports Centre Gymnasium, China, Minggu (21/12/2025). An menang atas wakil tuan rumah, Wang Zhi Yi, dengan skor 21-13, 18-21, 21-10 dalam pertandingan selama 1 jam 36 menit.
Saking ketatnya persaingan dalam laga tersebut, kedua atlet kelelahan. An, bahkan, harus menahan sakit karena keram kaki kiri menjelang akhir gim ketiga yang membuatnya kesulitan berjalan. Dia meminta tim medis memeriksa kakinya pada skor 21-8, tetapi BWF tidak memperbolehkan perawatan karena dilakukan di luar interval.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/831275c2cbad3e3d13f4abc87110660d-AFP_88RH4ZR.jpg)
An menyamai Kento Momota, tunggal putra Jepang dengan jumlah gelar yang sama pada 2019. Adapun Kim/Seo menjadi ganda putra pertama yang meraih 11 gelar juara dalam setahun.
Pada final ganda putra, Seo/Kim juga mengalahkan andalan China, Liang Wei Keng/Wang Chang. Seo/Kim hanya mendapat perlawanan ketat pada gim pertama hingga menang 21-18, 21-15.
Dengan kemenangan tersebut, Seo, bahkan, mengumpulkan 12 gelar juara pada 2025. Satu gelar lain didapat ketika berpasangan dengan Yong Jin, yaitu dari Thailand Masters.
Gelar juara didapat Seo/Kim dan An dari semua level turnamen BWF World Tour, yaitu Super 300, 500, 750, dan 1000 hingga Final BWF. Seo/Kim juga menjadi juara dunia. Tak heran, BWF memilih An dan Seo/Kim sebagai tunggal putri dan ganda putra terbaik 2025.
Saya sangat senang dengan hasil ini dan tak terkalahkan selama turnamen membuat ini semakin bermakna, apalagi setiap pertandingan sangat berat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/b331b8ad03045aceaad3643324212b4f-AFP_88RM3WR.jpg)
Ketika An dan Seo/Kim menegaskan dominasi mereka, gelar juara Final BWF justru menjadi yang pertama bagi Christo Popov pada tahun ini. Sebelum juara di Hangzhou, atlet Perancis ini hanya mempunyai dua gelar juara dari turnamen Super 300, yaitu dari Jerman dan Hylo Terbuka pada 2024. Popov pun menjadi atlet Perancis pertama yang menjuarai Final BWF.
Pencapaian Popov lebih baik daripada rekannya, Alex Lanier, yang menjuarai Jepang Terbuka Super 750 pada 2024. Atlet berusia 23 tahun itu juga selevel lebih tinggi dari ganda campuran, Thom Gicquel/Delphine Delrue, yang memiliki gelar juara Indonesia Terbuka Super 1000 pada tahun ini. Adapun dari panggung Final BWF, hasil terbaik atlet Perancis sebelum Popov juara adalah saat Gicquel/Delrue menjadi semifinalis pada 2020.
Popov pernah bermain di Final BWF, yang hanya diikuti delapan wakil terbaik dari setiap nomor, pada 2020, tetapi saat itu dia tampil pada ganda putra bersama kakaknya, Toma Junior Popov. Maka, penampilannya pada Final BWF 2025 menjadi debut di nomor tunggal.
”Saya sangat senang dengan hasil ini dan tak terkalahkan selama turnamen membuat ini semakin bermakna, apalagi setiap pertandingan sangat berat,” komentar Popov, dalam laman resmi BWF, setelah mengalahkan Shi Yu Qi (China), 21-19, 21-9.
Popov mengalahkan Shi pada pertemuan pertama mereka yang berlangsung pada babak kedua China Masters 2023, tetapi setelah itu selalu kalah dalam tiga pertemuan berikutnya. Di Hangzhou, setelah memenangi permainan alot di gim pertama, Popov memenangi gim kedua dengan selisih skor lebih jauh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/72c5b0c938d87fc522569ee74165fb61-AFP_88RJ2Z7.jpg)
”Mungkin Shi punya cedera. Saya harus bekerja keras menutup semua sudut dan itu sangat melelahkan, maka saya senang ketika bisa menang dengan selisih jauh pada gim kedua,” kata Popov.
Atlet berusia 23 tahun itu menjadi satu-satunya peserta tunggal putra yang bertanding di Final BWF tanpa gelar juara. Namun, dia tampil solid sejak penyisihan grup dengan mengalahkan Jonatan Christie, Anders Antonsen, dan Kunlavut Vitidsarn. Adapun pada semifinal, Popov menghentikan langkah Kodai Naraoka.
Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, China hanya meraih satu gelar juara. Tuan rumah hanya mendapat satu gelar juara dari final pemain senegara dengan kekalahan yang dialami Wang, Shi, dan Liang/Wang. Satu gelar itu didapat Feng Yang Zhe/Huang Dong Ping yang mengalahkan Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin 21-12, 21-17.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/de56f060fe6b5ac093b56ff158a1a64b-AFP_88RF2KL.jpg)
Hasil dalam turnamen yang berlangsung 17-21 Desember ini lebih buruk dibandingkan performa atlet-atlet China pada 2022-2024. Pada 2022 dan 2024, China meraih tiga gelar juara dan dua gelar pada 2023.
China kalah bersaing dari atlet-atlet Korea Selatan yang menjuarai tiga nomor. Selain dari An dan Seo/Kim, Korea Selatan membawa gelar dari Lee So-hee/Baek Ha-na yang mengalahkan ganda putri Jepang, Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto, 21-17, 21-11.
Di ganda putri, China sebenarnya memiliki pasangan nomor satu dunia, Liu Sheng Shu/Tan Ning. Akan tetapi, mereka disingkirkan Lee/Baek di semifinal.
Sementara itu, hasil terbaik Indonesia adalah semifinal yang dicapai satu wakil, yaitu Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani. Empat wakil lain, yaitu Jonatan Christie, Putri Kusuma Wardani, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, tersingkir di penyisihan grup.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji