Turnamen bulu tangkis All England 2026 yang penuh kejutan melahirkan dua wakil Taiwan sebagai juara. Gelar lain didapat pemain China dan Korea Selatan.
09 Mar 2026 05:32 WIB · Olahraga
AP
BIRMINGHAM, MINGGU — Taiwan membuat sejarah dalam catatan bulu tangkis negara itu ketika meraih dua gelar dari turnamen bulu tangkis prestisius All England. Lin Chun Yi (tunggal putra) dan Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan (ganda campuran) menjadi pebulu tangkis pertama yang meraih gelar dari nomor masing-masing setelah selama ini Taiwan hanya memiliki Tai Tzu Ying sebagai juara All England. Tai menjadi juara pada 2017, 2018, dan 2020.
Ye/Chan membuka kesuksesan Taiwan di All England edisi ke-116 dengan mengalahkan Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis), 21-19, 21-18, dalam final di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Minggu (8/3/2026). Setelah itu, Lin menambah gelar Taiwan ketika mengalahkan Lakshya Sen (India), 21-15, 22-20.
Lin menjadi juara setelah berhasil memanfaatkan persaingan tunggal putra yang terbuka, apalagi setelah tersingkirnya juara bertahan yang menjadi unggulan teratas, Shi Yu Qi, Anders Antonsen (3), dan Alex Lanier pada babak pertama. Tunggal putra ranking ke-11 dunia itu mengalahkan Jonatan Christie (4) di babak kedua, Christo Popov (5) pada perempat final, dan Kunlavut Vitidsarn (2) di semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/604302296de08edb16f226a6a3a7f58c-AE_lin.jpeg)
Lin seharusnya bisa menang lebih cepat ketika unggul 10-5 di pertengahan gim kedua, lalu 18-16. ”Saya sangat lelah sehingga ada satu momen ketika dia bisa mengejar karena saya membuat kesalahan. Biasanya saya terpengaruh oleh kesalahan itu, tetapi kali ini saya bisa tenang dan fokus pada poin berikutnya,” tutur Lin dalam laman resmi BWF.
Kemenangan di All England menambah rekam jejak Lin dalam menjuarai BWF World Tour. Setelah memiliki lima gelar level Super 100 dan 300 pada rentang 2019-2024, dia menjuarai level lebih tinggi hanya dalam waktu tujuh pekan. Atlet berusia 26 tahun itu menjuarai India Terbuka Super 750, 13-18 Januari, lalu All England.
”Juara All England adalah mimpi yang menjadi kenyataaan. Saya ingat pada masa Covid-19, saya menonton teman saya bermain di sini melalui TV. Sekarang, saya bisa bermain di sini dan juara. Luar biasa dan sulit dipercaya,” komentar Lin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/84c8bf65ab7fc1069a4d4c4f0d7b9470-AE_xd.jpeg)
Ye/Chan, ganda campuran ranking ke-15 dunia yang tersingkir pada babak pertama 2025, menggantikan dominasi China yang meraih gelar dalam tiga tahun terakhir. Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong juara pada 2023 dan 2024. Sementara Guo Xin Wa/Chen Fang Hui meraih gelar setahun berikutnya.
Perjalanan Ye/Chan menuju podium juara diwarnai sedikit keberuntungan dengan tersingkirnya juara dunia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei, dan pasangan nomor satu dunia, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, di paruh undian yang sama dengan mereka. Meski demikian, mereka tetap mampu mengatasi tekanan besar All England, siapa pun lawan yang dihadapi. Ganda campuran ranking ke-15 dunia itu baru bertemu unggulan dalam dua babak terakhir, yaitu Tang Chun Man/Tse Ying Suet dan Gicquel/Delrue.
”Kami tidak pernah menang melawan mereka. Ini hasil luar biasa yang membuat saya emosional. Jadi, saya pun selalu berteriak setiap mendapat poin. Biasanya saya tidak banyak berteriak di lapangan,” kata Ye, yang selama ini hanya bisa menembus semifinal pada turnamen Super 500 ke atas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/b13fd3764ef4382dd791ed7e42287ce7-AE_kim_seo.jpeg)
Hasil berbeda didapat dua wakil Korea Selatan yang merupakan pemain nomor satu dunia, An Se-young dan Kim Won-ho/Seo Seung-jae. An gagal mempertahankan gelar setelah dikalahkan Wang Zhi Yi (China), 15-21, 19-21. Ini menjadi kemenangan pertama Wang setelah kalah dari An dalam sepuluh pertemuan terakhir secara beruntun, salah satunya di final All England 2025.
China juga mendapat gelar dari ganda putri nomor satu dunia, Liu Sheng Shu/Tan Ning, yang menang atas Lee So-hee/Baek Ha-na (Korea Selatan), 21-18, 21-12. Dengan tambahan gelar dari final pertama di All England, Liu/Tan tak pernah kalah dalam final turnamen Super 1000. Gelar lainnya didapat dari Malaysia Terbuka 2024, Indonesia Terbuka 2025, China Terbuka 2024, dan Malaysia Terbuka 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/48fcb59a10272c4a1006af745b273b04-AE_liu_tan.jpeg)
Sementara kemenangan Kim/Seo dengan skor 18-21, 21-12, 21-19 membuat Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia) kembali gagal menjuarai All England. Mereka mencapai final pada 2019 dan 2024, tetapi selalu kalah dari pemain Indonesia, yaitu Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (2019) dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (2024). Ditambah dengan turnamen lain, Chia/Soh pun tak pernah menang dalam delapan final Super 1000.
Pelatih ganda putra Malaysia, Herry Iman Pierngadi, mengatakan, Chia/Soh masih belum beruntung di All England. ”Di luar kekalahan, mereka sebenarnya bermain bagus. Lawan bermain lebih tenang di gim ketiga. Saat skor 16-15, smes dari Soh yang jatuh di luar lapangan membuat buyar. Kami merasakan itu,” komentar Herry dalam media Malaysia, The Star.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/62673359d4138482f49ea35876387d7a-AE_chia_soh.jpg)
Kekalahan Chia/Soh membuat Malaysia tak juga memiliki gelar juara All England setelah Lee Zii Jia menjadi juara pada 2021. Adapun di ganda putra, gelar terakhir didapat Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.
Indonesia juga gagal membawa pulang gelar juara. Kecuali pada 2021 karena adanya diskualifikasi akibat Covid-19, untuk pertama kalinya sejak 2011, skuad ”Merah Putih” bahkan gagal menempatkan wakil di final. Pekan ini, pada 10-15 Maret, atlet-atlet Indonesia akan meneruskan penampilan ke turnamen Swiss Terbuka yang berlevel Super 300.
Tunggal putra: Lin Chun-yi (Taiwan) vs Lakshya Sen (India), 21-15, 22-20
Ganda putra: Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea Selatan) vs Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), 18-21, 21-12, 21-19
Tunggal putri: Wang Zhiyi (China) vs An Se-young (Korea Selatan), 21-15, 21-19
Ganda putri: Liu Shengshu/Tan Ning (China) vs Baek Ha-na/Lee So-hee (Korea Selatan), 21-18, 21-12
Ganda campuran: Ye Hong Wei/Nicole Chan (Taiwan) vs Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis), 21-19, 21-18
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti