Potret pernikahan massal di Gaza: Merayakan kehidupan baru setelah tragedi perang bertahun-tahun.
04 Des 2025 09:25 WIB · Internasional
AP/Abdel Kareem Hana
Hikmat Lawwa, seorang pemuda Palestina berusia 27 tahun, mencukur rambutnya di Deir al-Balah, Selasa (2/12/2025). Suasana gembira tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Hari itu ia mempersiapkan diri sebaik mungkin, mencukur rambut dan mengenakan baju terbaiknya.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam tragedi dan perang, hari itu ia berkesempatan mempersunting wanita pujaannya, Eman Lawwa. Bersama-sama dengan puluhan pasangan yang lain ia akan melangsungkan pernikahan yang diadakan sebuah organisasi kemanusiaan Al Fares Al Shahim yang didukung oleh Uni Emirat Arab.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/04/4aa80f4b-b096-4894-83f0-9524ff647960_jpg.jpg)
Selain menyelenggarakan acara tersebut, Al Fares Al Shahim juga memberikan sejumlah uang dan perlengkapan lainnya kepada para pasangan untuk memulai hidup bersama. Ini adalah hal yang ditunggu oleh banyak warga Palestina.
Di tempat tinggalnya, di sebuah tenda kain di Gaza tengah, ayah Hikmat Lawwa dan saudaranya membantu mengenakan jas dan setelan terbaiknya. Tak lama, ia bergabung dalan konvoi pengantin pria yang lain, melakukan perjalanan ke Kota Hamad di Khan Yunis, Jalur Gaza.
Iring-iringan mobil yang membawa pasangan-pasangan tersebut melewati reruntuhan bangunan. Hikmat dan Eman Lawwa mengibarkan bendera Palestina bersama pasangan-pasangan lain. Saat tiba di lokasi, keluarga-keluarga di sekitar mereka menari mengikuti alunan musik yang memekakkan telinga di tengah kerumunan.
Eman Hassan Lawwa mengenakan busana bercorak tradisional Palestina dan Hikmat Lawwa mengenakan setelan jas saat mereka berjalan bergandengan tangan melewati reruntuhan bangunan di Gaza selatan bersama pasangan lain yang berpakaian persis sama.
Pasangan Palestina itu termasuk di antara 54 pasangan yang menikah pada hari Selasa dalam pernikahan massal di Gaza. Ini adalah momen harapan langka setelah dua tahun kehancuran, kematian, dan konflik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/04/0d385182-5270-4f0c-a65b-9095a1c497a1_jpg.jpg)
Ribuan warga menantikan dan menyaksikan acara ini. Bangunan-bangunan yang hancur seakan menjadi dekorasi acara. Pernikahan adalah bagian penting dari budaya Palestina yang telah langka di Gaza selama perang. Tradisi ini mulai kembali digelar setelah gencatan senjata yang diwarnai banyak pelanggaran oleh Israel.
Sebagian besar dari 2 juta penduduk Gaza telah mengungsi akibat perang. Seluruh wilayah kota telah rata dengan tanah, dan kekurangan bantuan serta pecahnya konflik terus mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat.
Eman dan Hikmat, yang masih berkerabat jauh, melarikan diri ke kota terdekat, Deir al-Balah, selama perang dan kesulitan mencari kebutuhan dasar, seperti makanan dan tempat tinggal. Mereka mengatakan tidak tahu bagaimana mereka akan membangun kehidupan bersama mengingat situasi di sekitar mereka.
”Kami ingin bahagia seperti orang lain di dunia. Dulu saya bermimpi punya rumah, pekerjaan, dan hidup seperti orang lain,” kata Hikmat. Kehidupan sudah mulai normal, tetapi tidak seperti yang mereka harapkan. Ia juga berdoa semoga akhir perang itu benar-benar terwujud.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/04/79b97e7f-338e-4127-9b6d-cd88a1df4d2d_jpg.jpg)
”Sulit untuk merasakan kebahagiaan setelah kesedihan seperti ini. Insya Allah, kita akan membangunnya kembali bata demi bata,” ujarnya. Air mata mengalir di wajahnya. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto