Di tengah situasi dunia yang tak menentu, iman bisa menjadi jawaban. Paus Leo XIV mengingatkan muda-mudi dari 146 negara untuk terus memperjuangkan perdamaian.
03 Agt 2025 09:30 WIB · Internasional
ROMA, Minggu — Di tengah situasi dunia yang tidak menentu, Paus Leo XIV mengajak kaum muda untuk memperkokoh persahabatan dan keberanian untuk mengambil keputusan. ”Persahabatan dapat mengubah dunia. Pertemanan adalah jalan menuju perdamaian dunia. Untuk dunia yang lebih baik,” kata Paus Leo XIV dalam misa Yubileum Pemuda di Alun-alun Tor Vergata, sekitar 10 kilometer di timur Vatikan, Sabtu (2/8/2025).
Sekitar 800.000 pemuda dari 146 negara, sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, Minggu (3/8/2025), menghadiri Yubileum Pemuda itu.
Selain menegaskan pentingnya menjaga persahabatan, Paus Leo yang menyapa hadirin dengan bahasa Spanyol, Italia, dan Inggris juga mengingatkan bahaya media sosial dan keberanian membuat pilihan-pilihan radikal untuk berbuat baik.
Paus juga mengajak kaum muda untuk teguh dalam iman, sukacita, dan berani menegakkan kebenaran. ”Perjuangkan keadilan demi dunia yang lebih manusiawi. Layani kaum miskin dan sampaikan kabar baik seperti kita selalu ingin mendengar hal-hal positif dari sekeliling kita,” kata Paus Leo XIV berpesan.
”Kaum muda yang saya kasihi, setelah berjalan berziarah, berdoa, dan saling berbagi cerita di hari-hari peringatan Yubileum Pemuda ini, kini kita berkumpul untuk menyalakan dan menjaga terang lilin bersama,” kata Paus Leo (69).
Di tengah kemeriahan acara, Paus Leo mengingatkan kabar duka tentang peziarah muda yang meninggal karena gagal jantung. Jumat (1/8/2025), Paus Leo menyempatkan diri menemani peziarah asal Mesir yang salah satu anggota rombongannya meninggal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/d224ae70bfa994749ccc0c90a5abdae0-Italy_Pope_Youths_Jubilee.jpg)
Acara Yubileum Pemuda dijuluki juga sebagai Woodstock Katolik, merujuk pada Festival Musik Woodstock di Amerika Serikat yang dihadiri jutaan orang. Bedanya, Yubileum Pemuda berlangsung setiap 25 tahun sekali. Pekan Yubileum Pemuda terakhir diadakan tahun 2000 di masa Paus Yohanes Paulus II.
Pemuda-pemudi dari 146 negara menyambut Paus riuh-rendah dan menyerukan ”Viva Papa” atau ”Panjang Umur Sri Paus” ketika Paus Leo datang diantar helikopter militer. Nuansa festival dan semangat spritualitas membaur semalam.
Paus Leo tersenyum lebar dari atas mobil kepausan yang membawanya berkeliling sesaat setelah turun dari helikopter. Para peziarah muda berteriak menyambut dan berlarian berusaha mendekati Paus.
Mereka telah menunggu kedatangan Paus sejak siang terik di Musim Panas dengan suhu mencapai 30 derajat celsius. Mereka mendaraskan doa dan saling bercakap serta berkenalan dengan sesama muda-mudi. Mereka membawa bendera dari negara asal mereka dengan semangat perdamaian dan persaudaraan.
Truk tangki dan pemadam kebakaran berjaga di sekitar lokasi. Mereka menyemprotkan air dan menggunakan kipas untuk menyebarkan percikan air untuk mendinginkan masa di lokasi Misa Pemuda.
Suasana ingar bingar menjadi tenang setelah Paus naik ke panggung seraya membawa sebilah salib besar dari kayu.
Salah seorang peziarah asal Perancis, Julie Mortier (18), dengan suara serak setelah berjam-jam menyanyi mengaku sangat bahagia hadir malam itu. ”Kami sangat bahagia hadir di sini. Melihat Paus, kesempatan langka yang mungkin hanya sekali seumur hidup,” kata Mortier.
Sebagian dari pengunjung berdiri dan berkumpul di kejauhan dari panggung utara yang dihiasi lengkung kuning dan salib di tengah lapangan seluas 500.000 meter persegi atau setara 70 lapangan bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/fcbd7d67ffd724660700437a9cfb067f-Italy_Youths_Jubilee.jpg)
Penyelenggara acara mengatakan, pengunjung terus berdatangan di tengah misa dan penyalaan lilin. Diperkirakan 1 juta orang hadir malam itu di Tor Vergata.
Mereka mendirikan tenda dan bermalam di sana. Mereka menanti misa penutup Minggu pagi menandai akhir minggu peziarahan yang menjadi agenda besar Tahun Yubileum Pemuda dalam tradisi Gereja Katolik.
”Meski berdiri jauh dari panggung, saya bisa melihat Paus. Yang penting kami bisa berkumpul bersama,” kata Andy Hewellyn, seorang mahasiswa dari Inggris.
Samarei Semos (29), yang menempuh perjalanan tiga hari dari Belize (Amerika Tengah) untuk bisa datang ke Roma, berharap Paus Leo membawa pesan kuat untuk negara berkembang.
”Ini pengalaman spiritual yang hanya terjadi 25 tahun sekali. Kesempatan bertemu Paus adalah pengalaman untuk pertumbuhan iman,” kata Fransisco Michel, peziarah dari Meksiko.
Sebagian peziarah datang dari daerah konflik seperti Suriah dan Ukraina. Di Suriah terdapat gereja–gereja yang masih menggunakan bahasa Aramaik, bahasa yang digunakan Yesus Kristus dan para murid.
Dalam tayangan rekaman video, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyambut para peziarah ke kota Roma. ”Mereka berdoa, bernyanyi, bercengkerama, dan bertemu teman baru dalam kemeriahan yang luar biasa,” kata Meloni.
Sepanjang Jumat, terdapat 1.000 rohaniwan memberi pelayanan di 200 gerai darurat yang dibangun di Koloseum. Mereka menerima pengakuan dosa dari para peziarah muda tersebut.
”Agak kacau-balau tetapi menyenangkan. Inilah memang suasana yubileum,” kata Chloe Jobbour (19), seorang Katolik Lebanon yang hadir bersama 200 muda-mudi dari Tarekat Beautitudes, kelompok Katolik asal Perancis yang berkarya di Lebanon.
Bahkan, untuk makan di KFC setempat pun, dia harus antre dua jam. Tempat penginapan mereka di Sekolah Salesia pun harus ditempuh satu jam perjalan. Memang tidak nyaman, tetapi itu bagian dari pengalaman dan suka-duka ziarah kaum muda-mudi.
Panitia mengerahkan 4.300 sukarelawan dan 1.000 polisi untuk menjaga Pekan Yubileum Pemuda di kota Roma yang berakhir hari Minggu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan