Sekolah Kolong, Menyalakan Harapan Anak Miskin di India

Sekolah di kolong jalan memberikan akses pendidikan bagi warga kurang mampu di India.

15 Mei 2025 10:00 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Jalan-jalan sudah penuh sesak dengan penumpang. Suara mesin kendaraan dan bunyi klakson berebut ruang udara. Berisik dan bising. Begitulah sekilas suasana pagi di persimpangan lalu lintas Thane, kota di pinggiran Mumbai. Ibu kota India ini merupakan pusat keuangan dan perekonomian India dengan jumlah penghununinya sekitar 20 juta orang.

Sekitar selusin anak kecil membentuk percikan warna kecil di aspal abu-abu saat mereka menyeberang jalan yang ramai dibantu oleh dua laki-laki. Mereka tiba untuk menghadiri sekolah inovatif Signal Shala yang dioperasikan oleh LSM Samarth Bharat Vyaspeeth. Bangunan sekolah ini menggunakan kontainer yang ditempatkan di bawah jalan raya sebagai ruang kelas.

Anak-anak akan mandi, berganti seragam, dan menikmati sarapan. Pagi itu, teh dan bubur menjadi sarapan anak-anak sebelum masuk ke dalam kontainer ber-AC untuk mengikuti pelajaran. Mereka belajar membaca dan menulis dalam bahasa Marathi dan Inggris. Mereka juga berlatih mengoperasikan komputer dan melakukan percobaan sederhana di laboratorium sains. Di sela-sela pelajaran, mereka bermain sepak bola dan olahraga tradisional, seperti kabaddi.

Anak-anak membentuk antrean saat mereka melintasi jalan raya yang sibuk untuk mencapai sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 5 April 2025.
Guru Sunita Patil memeriksa buku catatan Vaishali Pawar yang berusia 10 tahun, tengah, di sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 3 April 2025.
Seorang siswa mempelajari alfabet Marathi di sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 3 April 2025.
Siswa bermain kabbadi, olahraga tradisional India, di sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 3 April 2025.
Medali dan sertifikat yang dimenangkan oleh siswa ditampilkan di dinding di sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 5 April 2025.

Sekolah tersebut merupakan tempat perlindungan pada siang hari. Sekolah ini menjanjikan lingkungan yang aman dan tiga kali makan bergizi bagi beberapa anak termiskin di kota tersebut. Pada malam hari, mereka akan kembali ke rumah-rumah masing-masing di pinggiran kota metropolitan. Banyak dari siswa ini yang tinggal di rumah-rumah seadanya. Bangunan rumah terdiri dari lembaran seng bergelombang, papan kayu lapis, dan terpal.

Vaishali Pawar, anak berusia 10 tahun, dan dua saudaranya bersekolah di Signal Shala. Nama sekolah ini didasarkan pada lokasinya di dekat rambu lalu lintas.

”Kakak laki-laki saya tidak pernah sekolah dan menjadi pengemudi mobil. Salah satu saudara perempuan saya telah menikah, tetapi saya ingin menjadi seniman,” kata Pawar. Orangtuanya enggan menyekolahkan anak-anak tersebut, tetapi sekolah membujuk mereka.

Seorang gadis yang mengenakan gelang kaki perak menghadiri kelas di sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 9 April 2025.

Sejak 2016, sekolah tersebut mempersiapkan anak-anak seperti Vaishali untuk mengikuti ujian formal yang diselenggarakan oleh dewan pendidikan negara bagian. Menurut laman di situs web-nya, ada 57 siswa yang terdaftar di sekolah ini.

Mereka berusaha membawa anak-anak tersebut ke masyarakat. Guru dan sekolah memperhatikan tidak hanya kebutuhan pendidikan mereka, tetapi juga kesehatan dan kesejahteraan emosional mereka. Salah satu siswa, Sonali Gautam Gayakwad (14 tahun), mengatakan, jika dia tidak bergabung dengan sekolah tersebut, dia pasti sudah menikah sekarang.

Siswa menghadiri kelas bahasa Marathi di sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 3 April 2025.
Tiga anak laki-laki melintasi jalan raya yang sibuk untuk mencapai sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 9 April 2025.
Neelam Krishan, 11 tahun, belajar di rumahnya di Thane dekat
Seorang siswa mandi di sekolah Signal Shala di Thane dekat Mumbai, India, 9 April 2025.

Visual dari gambaran sekolah kolong di India ini sangat mirip situasi di Indonesia, terutama di kota-kota besar, seperti Jakarta, dan daerah lainnya. Keterbatasan akses pendidikan bagi warga kurang mampu tidak menjadikan alasan mereka untuk tidak berusaha mendapatkan pendidikan layaknya warga yang mampu. 

Melihat seorang anak yang mandi di bawah pancuran, atau foto seorang anak yang belajar di sebuah lokasi dengan latar belakang suasana khas rumah di kolong jalan raya, seakan kita sedang berkaca pada suasana Jakarta, mungkin sepuluh tahun lalu, atau bahkan kini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari