Sekolah Tangguh Iklim

Sekolah tangguh iklim tidak hanya menyelamatkan lingkungan semata, tetapi juga menyelamatkan sumber daya manusia berkelanjutan.

14 Nov 2025 14:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Supriyanto

Oleh Edwin Yulisar

Dunia semakin tua. Ancaman mulai terlihat ketika permukaan air laut naik dan gunung es yang mencair, menjadi pertanda bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Kenyataan pahit makin terasa ketika kulit tubuh kita merasakan sengatan panasnya matahari yang semakin membakar, ditambah lagi pola hujan yang tak teratur hingga musim kemarau yang kering. Malam hari tidak lagi terasa sejuk. Pagi harinya pun terasa pengap. Hal ini membuat tubuh alpa dalam perlindungan paparan panas yang menyengat.

Perubahan iklim drastis terus dibahas dan diperbincangkan di tingkat global. Akan tetapi, sudahkah perbincangan tersebut membahas dampak negatif dan berkepanjangan terhadap kemampuan kognitif siswa di sekolah?

Perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap kemampuan siswa di sekolah dikuatkan oleh temuan oleh Harvard University (Park et al, 2020) bahwa terjadi penurunan pada fungsi kognitif siswa pada hari-hari yang terasa terik. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2023) juga menegaskan bahwa peningkatan suhu global dan perubahan pola curah hujan berdampak langsung pada kesehatan dan produktivitas manusia, termasuk kemampuan kognitif anak-anak.

Dua studi di atas seharusnya menjadi perhatian bagi sivitas akademika, sekolah ataupun madrasah, apalagi jika kondisi ruangan kelas dan sekolah minim ventilasi, kemungkinan besar akan menghilangkan intensitas fokus siswa dalam mengolah dan menyerap informasi yang mereka dapatkan ketika belajar. Jangan sampai karena cuaca yang begitu panas, kegiatan belajar-mengajar tidak optimal karena kebanyakan siswa terkena dehidrasi serta kelelahan termal.

Unicef (2022) menunjukkan data bahwa daerah yang mengalami perubahan iklim tidak teratur cenderung mengalami learning loss mencapai 20 persen dibandingkan dengan daerah yang memiliki iklim stabil. Civitas sekolah harus mampu menyelesaikan masalah ini dengan merencanakan program perbaikan lingkungan sekitar.

Solusi dan konsistensi

Komunitas sekolah harus mampu merencanakan program yang tepat untuk memperbaiki ekosistem, dimulai dari lingkungan sekitar, agar bisa menciptakan iklim sejuk di lingkup terkecil. Sekolah tangguh iklim hadir sebagai usaha pengoptimalan paradigma dan pengimplementasian program pembelajaran berbasis lingkungan kepada civitas sekolah secara aktual dan fundamental.

Konsistensi dalam pengembangan program harus muncul dan berdampak pada lingkungan sekitar. Pertama, civitas sekolah harus mampu menyusun program rutin yang terelaborasi dalam proses pembelajaran untuk mengokohkan ketangguhan terhadap perubahan iklim. Misal, sekolah mengoptimalkan penanaman berkala pepohonan tiap minggu atau tiap bulan sebagai investasi awal penghijauan di lingkungan pendidikan. Program ini harus mampu terintegrasi dengan kurikulum kontekstual, serta bertujuan akhir menumbuhkan kesadaran kemampuan sekolah dalam menciptakan zona mikro yang lebih sejuk.

Kedua, civitas pendidikan harus memiliki kapabilitas dalam merangkul kerja sama yang sinergis dengan jajaran vertikal, pemerintah daerah, sektor swasta atau organisasi non-pemerintah (NGO) sebagai mitra menjalankan program sekolah tangguh iklim ini. Dengan kolaborasi sistemik ini, diharapkan banyak masukan serta investasi dalam membangun sekolah yang lebih hijau (eco-school), ramah iklim, serta berbasis mitigasi bencana.

Ilustrasi sulitnya mendapat akses sekolah

Jika program sekolah tangguh iklim berhasil menciptakan eco-school, maka kolaborasi yang dilakukan berjalan dengan efektif. Sesuai dengan tujuan kurikulum merdeka, siswa mendapatkan pembelajaran bukan hanya berkesadaran dan menggembirakan, melainkan juga bermakna. Hal ini akan terlihat ketika terciptanya ruang belajar yang aman, adaptif, serta terhubung dengan kurikulum lokal yang realistis.

Hasil akhirnya, para siswa mampu memahami bagaimana panas ekstrem memengaruhi hasil panen, bagaimana kekeringan menurunkan kualitas air sumur, bagaimana menghemat air, menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, dan kesiapsiagaan bencana sebagai keterampilan hidup (life skill).

Terlebih jika kegiatan ini dioptimalkan dengan bantuan media sosial sebagai media edukasi, maka seluruh elemen yang terlibat di dalamnya mulai dari siswa, guru, pemerintah, dan juga masyarakat turut andil sebagai motor penggerak dalam menyediakan sarana informasi interaktif memahami iklim.

Karena itu, sekolah harus mencetak siswa bukan hanya sebagai pembelajar, melainkan juga agen perubahan iklim yang progresif sebagai investasi fundamental di masa depan. Sekolah tangguh iklim tidak hanya menyelamatkan lingkungan semata, tetapi juga menyelamatkan sumber daya manusia berkelanjutan.

Mendidik anak bersahabat dengan alam adalah bentuk perlawanan yang bermartabat, walaupun tidak mampu menghentikan perubahan iklim sepenuhnya. Walakin, jika tidak dimulai dari sekarang, maka kita harus siap menerima konsekuensi dengan mengorbankan kapasitas intelektual generasi yang akan datang.

Edwin Yulisar, Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah


Kerabat Kerja

Penulis:

Edwin Yulisar
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto