Akses jalan ke sejumlah lokasi bencana di Sumatera terputus. Jaringan komunikasi terganggu. Pemulihan infrastruktur transportasi dan komunikasi perlu diprioritaskan
30 Nov 2025 17:38 WIB · Nasional
KOMPAS/NIKSON SINAGA
JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah akses jalan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih terputus akibat terdampak bencana banjir dan longsor. Selain mengevakuasi korban, pemerintah juga fokus memulihkan infrastruktur transportasi dan komunikasi untuk mempercepat penanganan tanggap darurat bencana tersebut.
Pemulihan infrastruktur sangat dibutuhkan untuk memperlancar mobilitas dan distribusi bantuan logistik. Akibat jalur darat yang terputus, bantuan logistik ke sejumlah lokasi terdampak bencana harus disalurkan lewat jalur laut dan udara.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan untuk mengerahkan seluruh kekuatan nasional fokus pada penanganan tanggap darurat bencana di Sumatera.
”Secepat-cepatnya melakukan evakuasi, mengerahkan logistik, mengerahkan tenaga kesehatan, memulihkan infrastruktur komunikasi dan transportasi, dan mengawal di lapangan,” ujarnya saat memimpin rapat koordinasi penanganan darurat bencana di Bandar Udara Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, yang disiarkan secara daring, Minggu (30/11/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/3cc14d71-4541-45c1-86a8-b109e388afa0.jpg)
Pratikno menjelaskan, pemerintah telah mempercepat evakuasi, pemulihan jalur transportasi dan komunikasi, serta berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak bencana. Selain di Sumatera Utara, pemerintah juga memperkuat penanganan dan menyalurkan bantuan bagi wilayah terdampak lainnya di Aceh dan Sumatera Barat.
”Pemberian logistik terus mengalir dari pemerintah maupun lembaga non-pemerintah. Di beberapa titik akan terus bertambah dan akan terus didistribusikan. Jadi, ini seluruh kekuatan nasional dikerahkan untuk mempercepat tanggap darurat dan segera memulihkan semuanya,” katanya.
Pratikno menambahkan, selain fokus pada penanganan darurat bencana, pemerintah juga menyiapkan skenario rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Selain itu, jaringan listrik juga perlu segera dipulihkan.
Pemulihan infrastruktur sangat dibutuhkan untuk memperlancar mobilitas dan distribusi bantuan logistik.
”Saya sudah diskusi dengan Menko Infrastruktur tentang bagaimana pemulihan secara cepat bisa dilakukan, termasuk untuk hunian sementara,” ucapnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto berharap pemulihan infrastruktur transportasi dapat diprioritaskan. Sebab, masih banyak akses jalan yang terputus.
”Mungkin dari Kementerian Pekerjaan Umum lebih masif lagi untuk masuk menormalisasi jalan-jalan yang putus. Listrik dan air relatif sudah mulai pulih, tetapi masih banyak yang padam,” ujarnya.
Suharyanto menuturkan, untuk pemulihan jaringan telekomunikasi, pihaknya memperbanyak bantuan jaringan telekomunikasi satelit. Kementerian Komunikasi dan Digital juga sedang berupaya menormalkan jaringan komunikasi dan internet.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/30/6d602455295d7c5d51e5167abcd8be94-2025_11_29_1740_Bencana_Sumbar_26_Nov_2025_ok1.jpg)
”Ini juga kami mohon, kalau ada bantuan dari mana pun, mungkin dititikberatkan kepada bantuan alat komunikasi yang bersifat portabel atau Starlink (internet satelit) untuk diperbanyak,” ujarnya.
Berdasarkan data BNPB hingga Minggu pukul 16.30, korban jiwa akibat bencana tersebut telah mencapai 378 orang. Sementara korban hilang berjumlah 325 orang dan korban luka 641 orang. Bencana ini juga merusak ribuan rumah dan lebih dari 100 jembatan.
Suharyanto menambahkan, posko bantuan logistik tersebar di sejumlah lokasi, baik di Aceh, Sumut, maupun Sumbar. Gudang logistik juga tersedia di beberapa kabupaten/kota sehingga diharapkan dapat mempercepat penyaluran bantuan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/e77254b02f79d472e1c37e7a9d39be95-20251129AGS_33.jpg)
”Kerja kami ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Kepada masyarakat, kami mohon waktu. Tentu saja seiring dengan waktu, kami pastikan dan kami berjanji ini akan menjadi semakin baik,” katanya.
Di sejumlah lokasi, bantuan logistik dan peralatan disalurkan lewat jalur laut. Di Aceh, misalnya, bantuan didistribusikan dari Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh menggunakan kapal Express Bahari. Bantuan itu akan menjangkau lima wilayah, yaitu Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan, bantuan seberat 27 ton ini akan berhenti di dua lokasi. Pertama, di Pelabuhan Krengkuku untuk menjangkau wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe. Kedua, di Pelabuhan Kuala Langsa untuk menjangkau Kota Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Bentuk bantuannya beragam, di antaranya tenda, genset, jaringan komunikasi satelit, kelambu, perlengkapan bayi, dan makanan.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra