Sudah empat kali Indonesia menjamu Arab Saudi pada ajang resmi di Jakarta. Garuda selalu bisa mencuri satu gol. Namun, hasil positif belum pernah memihak Indonesia.
18 Nov 2024 09:14 WIB · Olahraga
Tim nasional sepak bola Indonesia pertama kali kedatangan Arab Saudi pada duel kandang perdana kualifikasi Olimpiade Los Angeles 1984 pada 6 Oktober 1983. Laga pertama menghadapi Saudi itu adalah satu-satunya peluang terbesar skuad ”Garuda” untuk menaklukkan raksasa sepak bola dari Jazirah Arab itu.
Indonesia tampil menyerang di hadapan sekitar 100.000 pendukung yang memadati Stadion Utama Senayan, Jakarta, kini Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Pelatih Indonesia M Basri mengandalkan trisula penyerang, yaitu Syamsul Arifin, Ricky Yakob, dan Dede Sulaeman, untuk mengalahkan Saudi.
Setelah bertubi-tubi serangan di babak pertama gagal, Indonesia membuat ratusan ribu pasang mata berteriak histeris berkat gol sundulan Dede pada menit ke-57.
Namun, kemenangan Indonesia di depan mata lenyap enam menit jelang waktu normal tamat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/0f3f576668e928b01b1c166ab8e73be4-BW_00016068_63_RNA054.JPG)
Pemain sayap Saudi, Khaled al-Mojed, membuat suporter Indonesia terdiam. Ia menaklukkan kiper Indonesia, Purwono, melalui sepakan keras dari dalam kotak penalti.
Bola sempat membentur tiang, tetapi akhirnya menggetarkan jala gawang Indonesia.
Peluang yang berbuah gol itu diawali umpan terobosan yang melewati tiga pemain Indonesia. Gelandang bertahan pengganti, Ristomoyo, gagal menjalankan perannya sebagai penyapu aliran bola Saudi di zona pertahanan Indonesia.
”Saya puas, seluruh pemain bisa menjalankan semua instruksi dengan baik. Namun, mau bilang apa, kita kecolongan,” kata Pelatih Indonesia saat itu, M Basri, dalam artikel Kompas bertajuk ”Sigit: Tak Perlu Disesalkan”, 7 Oktober 1983.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/29c6ab0745a25ec1717ebe299470a370-Screenshot_2024_11_18_at_7.29.20_AM.png)
Saudi pun datang dengan diasuh pelatih berkaliber dunia, yaitu Mario Zagalo. Juru taktik asal Brasil itu senang dengan membawa pulang hasil imbang dari Jakarta.
Tak ketinggalan, Zagalo juga menyebut penyebab utama anak asuhannya bisa meraih satu poin karena ”didukung” penurunan performa tim tuan rumah pada akhir babak kedua.
”Di babak kedua kami lebih bagus. Namun, sebetulnya, kami bisa lolos dari kekalahan, terutama juga karena kesebelasan Anda (Indonesia) jauh menurun di babak kedua,” kata Zagalo dalam artikel Kompas, ”Zagalo: Kami Lolos, karena Anda Menurun”, edisi 7 Oktober 1983.
Pernyataan Zagalo itu diakui oleh Dede yang masih mengingat dengan baik momen-momen pada satu-satunya laga Indonesia bisa menahan Saudi di Jakarta. Gol sundulan, yang jarang dilakukannya, tercipta berkat umpan Ricky.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/aa66c64f3733c3bd3f093d2b52750243-BW_00016068_63_RNA053.JPG)
Dede menyatakan, Indonesia membuat Saudi hanya fokus bertahan. Satu-satunya hal yang gagal dilakukan Indonesia, kata pencetak gol terbanyak Galatama edisi 1982-1983, itu adalah mencetak lebih dari satu gol.
”Pada pertandingan itu, kita sangat dominan menguasai pertandingan. Saya main di sayap dalam beberapa kali bisa melewati tiga-empat pemain Saudi. Hanya, kita agak lengah di masa-masa akhir itu,” kenang Dede dalam perbincangan, Minggu (17/11/2024).
Setelah pertarungan di kualifikasi Olimpiade 1984, Indonesia baru kedatangan Saudi lagi memasuki milenium baru. Namun, tiga pertandingan di abad ke-21 selalu berujung dengan kekalahan.
Meski kalah, Indonesia mampu menjaga tradisi dengan mencetak sebuah gol ke gawang tim berjuluk ”Green Falcons” itu. Tiga pemain yang bisa mengikuti jejak Dede adalah tiga penyerang terbaik Indonesia di era masing-masing.
Pada pertandingan itu, kita sangat dominan menguasai pertandingan. Hanya, kita agak lengah di masa-masa akhir itu.
Pertemuan kedua terjadi pada laga kualifikasi Piala Dunia 2006 yang berlangsung 12 Oktober 2004. Di hadapan 30.000 suporter di SUGBK, Indonesia tumbang 1-3. Itu adalah kekalahan paling telak yang dialami Indonesia di kandang.
Ilham Jayakesuma menjadi pencetak gol tunggal Indonesia pada menit ke-50. Ia sempat memperkecil ketertinggalan setelah kemasukan dua gol di babak pertama.
Alih-alih mengatasi ketertinggalan, tim asuhan Peter Withe itu kemasukan gol ketiga oleh Yasser al-Qahtani sepuluh menit sebelum peluit akhir ditiupkan.
Tiga tahun berselang, Indonesia kembali takluk dari Saudi pada laga kedua babak penyisihan Piala Dunia 2007. Meski begitu, Elie Aiboy sempat mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-17. Ia membalas gol Yasser yang kembali mencetak gol di SUGBK.
Sumbangan gol dari penyerang pengganti, Saad al-Harthi, membuyarkan kans Indonesia untuk meraih satu poin. Hingga akhirnya, impian Indonesia lolos ke fase gugur dikandaskan Korea Selatan pada laga pamungkas grup.
Kali terakhir, Indonesia menyambut Saudi tercipta babak kualifikasi Piala Asia 2015. Duel yang berlangsung pada 23 Maret 2013 itu kembali dimenangkan Saudi dengan skor 1-2.
Boaz Solossa sempat menghadirkan asa Indonesia untuk mengalahkan Saudi berkat gol di menit kelima. Sayangnya, harapan itu sirna berkat brace dari penyerang Saudi, Yousef al-Salem.
Sepasang gol di SUGBK itu adalah sumbangan gol terakhir Al-Salem untuk Saudi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/3f498f011552d2b39b7fc971a2fa0767-ELIE_AIBOY_01_03.JPG)
Setelah lebih dari satu dekade, Indonesia akan jumpa Saudi lagi di Jakarta, Selasa (19/11/2024), pada laga keenam Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026.
Semoga skuad Garuda asuhan Shin Tae-yong mampu menjaga tren selalu mencetak gol ke gawang Saudi, juga mengakhiri tiga kekalahan beruntun.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan