Penutupan Selat Hormuz sebagai dampak dari perang AS-Israel Melawan Iran berdampak pada ketidakpastian pasokan minyak dan gas dunia.
04 Mar 2026 17:22 WIB · Internasional
AP
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/6e6e01b5e780fa95415865454f1caecd-24022026_ANU_AFP_Selat_Hormuz_mumed.jpg)
DUBAI, RABU — Meluasnya perang di Iran telah menghentikan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz dan berdampak pada lojakan harga minyak mentah hingga lebih dari 6 persen pada Senin (2/3/2026), lalu seberapa penting jalur ini dalam pasokan energi global?
Selat Hormuz adalah jalur sempit Teluk Persia yang berbatasan dengan Iran di sisi utara dan dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Kapal tanker yang melewati selat ini membawa minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran. Sebagian besar minyak tersebut dikirim ke Asia. Selain minyak dan gas.
Gangguan apa pun terhadap lalu lintas melalui Selat Hormuz sangat mengganggu perdagangan minyak. Tidak terkecuali perang antara Iran dan Israel dengan sekutunya Amerika Serikat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/ef212f7c411ce508d7f5585d6b966e01-cropped_image.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/0219c6fd6f7b4f0d0bdec8d98086436f-000_98WM26B.jpg)
Hakan Kaya, manajer portofolio senior di perusahaan manajemen investasi Neuberger Berman mengatakan penutupan sementara yang berlangsung satu atau dua minggu dapat dipahami oleh perusahaan minyak. Namun, penutupan penuh yang berlangsung sebulan atau lebih akan mendorong harga minyak mentah meroket naik. Harga minyak dan gas menuju harga tertinggi seperti krisis yang terjadi pada tahun 2022.
Berikut yang perlu diketahui tentang selat tersebut dan meluasnya perang Iran:
Selat Hormuz adalah jalur air yang berkelok-kelok, dengan lebar sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Dari sana, kapal dapat berlayar ke seluruh dunia. Meskipun Iran dan Oman memiliki perairan teritorial mereka di selat tersebut, tetapi selat ini dianggap sebagai jalur air internasional yang dapat dilalui oleh semua kapal. Dubai yang dipenuhi gedung pencakar langit di Uni Emirat Arab (UEA), juga terletak di dekat jalur air ini.
Menurut sejarahnya, selat Hormuz menjadi jalur perdagangan yang cukup penting. Jalur ini menjadi jalur perdagangan keramik, gading, sutra, dan tekstil yang diangkut dari China melalui wilayah tersebut.
Di era modern, selat ini menjadi jalur bagi kapal tanker super yang membawa minyak dan gas alam dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran. Sebagian besar di antaranya menuju pasar di Asia, termasuk satu-satunya pelanggan minyak Iran yang tersisa, yaitu China.
Jalur ini juga dilintasi kapal-kapal niaga lainnya dengan tujuan pelabuhan-pelabuhan di negara teluk. Bisa dikatakan Selat Hormuz adalah salah satu urat nadi perdagangan dunia khususnya di kawasan Timur Tengah.
Tidak hanya jalur perdagangan, Selat Hormuz juga menawarkan pilihan berwisata dengan kapal-kapal pesiar mewah. Operator-operator kapal pesiar dunia berlomba-lomba menawarkan trip pesiar melintasi Selat Hormuz dengan kota tujuan, seperti UEA, Qatar, Bahrain, dan Oman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/01/6b7d0cdd-ee64-4df6-94eb-e168507b4729.jpg)
Badan Informasi Energi AS mengatakan bahwa terdapat jalur pipa di Arab Saudi dan UEA yang menjadi alternatif tanpa harus melalui selat Hormuz. Namun, itu hanya sebagian kecil, selat Hormuz tetap menjadi jalur utama.
Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan negara lain sangat bergantung pada kapal tanker untuk mengirimkan sebagian besar produksi minyaknya ke pasar global. Setiap Ancaman terhadap jalur tersebut telah menyebabkan lonjakan harga energi global, termasuk selama perang Israel-Iran pada bulan Juni 2025 lalu.
Iran telah menyerang beberapa kapal di Selat Hormuz dan mengancam kapal-kapal yang mencoba melewatinya, yang secara efektif menutupnya. Tetapi, langkah Trump pada hari Selasa untuk melindungi kapal tanker di selat tersebut membuat keadaan kembali normal.
”Selat Hormuz tertutup,” kata Brigadir Jenderal Iran Ebrahim Jabbari. Penasihat Garda Revolusi paramiliter itu bersumpah bahwa kapal-kapal yang melewatinya akan dibakar.
Sebelumnya, Iran menutup sementara sebagian selat tersebut pada pertengahan Februari untuk latihan militer. Penutupan sementara itu berdampak pada melonjaknya harga minyak sekitar 6 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/1f4f3f912a51a61972936f4d1a6d50d7-AP26047673523094.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/3f163782929d9522ab23ae21eda5154d-AP26047673687754.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/5ca4036e7bef30e9b90868262e8c190f-AP26047673728469.jpg)
Pada masa-masa ketegangan dan konflik sebelumnya, Iran terkadang mengganggu pelayaran melalui selat tersebut, dan selama perang Iran-Irak tahun 1980-an, kedua pihak menyerang kapal tanker dan kapal lainnya, menggunakan ranjau laut untuk sepenuhnya menghentikan lalu lintas di beberapa titik.
Namun, Iran belum pernah mengancam berkali-kali menutup jalur air tersebut sepenuhnya sejak tahun 1980-an. Bahkan, ancaman itu tidak dilakukan selama perang 12 hari tahun lalu ketika Israel dan AS membombardir situs nuklir dan militer utama Iran.
Pada hari Selasa, Presiden Donald Trump mengusulkan rencana agar bisa mengembalikan pergerakan minyak dan perdagangan melalui Selat tersebut. Di media sosial, Trump mengatakan bahwa ia telah memerintahkan lembaga pembiayaan pembangunan AS untuk menyediakan asuransi risiko politik bagi kapal tanker yang membawa minyak dan barang lainnya melalui Teluk Persia dengan harga yang sangat wajar.
Asuransi risiko politik adalah jenis pertanggungan yang dimaksudkan untuk melindungi perusahaan dari kerugian finansial yang disebabkan oleh kondisi politik yang tidak stabil, tindakan pemerintah, atau kekerasan. Perusahaan asuransi maritim telah membatalkan atau menaikkan tarif asuransi di wilayah tersebut.
Trump mengatakan bahwa, jika perlu, Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Angkatan Laut memiliki setidaknya delapan kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir yang lebih kecil di wilayah tersebut. Kapal-kapal ini sebelumnya telah digunakan untuk mengawal kapal dagang di wilayah tersebut dan di Laut Merah.
Perusahaan pelayaran global telah mengeluarkan peringatan layanan yang menyatakan bahwa mereka telah menangguhkan operasi di area tersebut. Pada Minggu (1/3/2026), perusahaan pelayaran Denmark, Maersk, yang merupakan perusahaan pelayaran terbesar di dunia, menangguhkan semua penyeberangan kapal di Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Operator pelayaran laut lainnya termasuk Hapag-Lloyd, CMA-CGM, dan MSC membuat pengumuman serupa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/1e867db5cb3ce3f3ecec55a77060bed6-000_98WG8TN.jpg)
”Kapal-kapal yang terjebak di Teluk Persia tidak akan ke mana-mana,” kata Tom Goldsby, ketua logistik di Departemen Manajemen Rantai Pasokan di Universitas Tennessee. ”Ada juga banyak kapal yang menuju Teluk Persia untuk menggantikan mereka, dan tentu saja mereka sekarang berlabuh atau menuju tempat lain.”
Menurut perkirakan Clarksons Research, sekitar 3.200 kapal atau sekitar 4 persen dari tonase kapal global menganggur di Teluk Persia. Angka itu termasuk sekitar 1.231 kapal yang kemungkinan hanya beroperasi di dalam Teluk. Sekitar 500 kapal, atau 1 persen dari tonase global, saat ini ”menunggu” di luar Teluk Persia di pelabuhan-pelabuhan di lepas pantai UEA dan Oman.
Penulis:
Priyombodo .Editor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase