”Sembilan Nyawa” Carlos Alcaraz

Carlos Alcaraz menjuarai turnamen tenis Perancis Terbuka. Dia bisa keluar dari tekanan yang hampir membuatnya kalah.

09 Jun 2025 14:12 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Seperti kucing yang punya sembilan nyawa, demikian halnya dengan Carlos Alcaraz. Petenis Spanyol itu bertahan dalam situasi yang membuatnya sangat dekat pada kekalahan, lalu selamat, dan menjadi juara Grand Slam Perancis Terbuka.

Alcaraz sering memperlihatkan kemampuannya bertahan dalam situasi sulit, meski dia juga bukan petenis yang tak bisa dikalahkan. Akan tetapi, final tunggal putra Perancis Terbuka 2025 menjadi momen yang paling epik dalam kariernya.

Final melawan Jannik Sinner di Lapangan Philippe Chatrier, Roland Garros, Paris, Minggu (8/6/2025), menjadi pertandingan yang paling menantang bagi keduanya. Pertandingan yang dimenangi Alcaraz dengan skor 4-6, 6-7 (4), 6-4, 7-6 (3), 7-6 (10-2) itu berjalan selama lima jam 29 menit dan menjadi final Perancis Terbuka terlama pada era Terbuka (sejak 1968). Final terlama sebelumnya terjadi saat Mats Wilander mengalahkan Guillermo Vilas pada 1982 dalam pertandingan empat jam 42 menit.

Gelar itu menjadi yang kelima bagi Alcaraz di ajang Grand Slam. Gelar pertamanya diraih di Amerika Serikat Terbuka 2022 dalam usia 19 tahun. Setelah itu, dia menjuarai Wimbledon 2023 yang dipertahankannya setahun kemudian. Trofi juara Perancis Terbuka 2025 juga didapat dengan statusnya sebagai juara bertahan.

Carlos Alcaraz tampil pada final tunggal putra turnamen Perancis Terbuka di Roland Garros, Paris, Minggu (8/6/2025). Alcaraz mengalahkan Jannik Sinner dalam lima set.

Dari kelimanya, trofi The Musketeers (lambang juara tunggal putra Perancis Terbuka) menjadi yang paling sulit didapat. Alcaraz harus bermain empat set dalam tiga babak dan tiga set hanya dalam dua babak. Di final, tantangannya jauh lebih sulit.

Bersaing lima set bukan hal yang asing bagi Sinner dan Alcaraz. Mereka mengalaminya dalam dua momen lain, yaitu semifinal Perancis Terbuka 2024 dan semifinal AS Terbuka 2022, tetapi tak ada yang sampai berlangsung hingga lima jam. Hasil pertandingan dan hasil akhir kedua turnamen itu sama seperti Perancis Terbuka 2025, dimenangi Alcaraz.

Dengan status sebagai dua petenis terbaik, setidaknya sejak 2024, mereka memperlihatkan semua unsur kemampuan atlet pada level tinggi. Dalam hal teknis, penonton dibuat terpukau berulang-ulang saat terjadi adu pukulan dari berbagai sudut.

Dari sudut pandang nonteknis, daya juang mereka tak surut sejak perebutan poin pertama hingga terakhir. Dua gim awal bahkan berlangsung selama 20 menit.

Ketika Alcaraz melancarkan forehand silang dengan sudut tajam, Sinner bisa mengembalikan dengan sudut lebih tajam. Tak jarang, keduanya melakukan sprint untuk mengejar bola yang jatuh di dekat net karena lawan melakukan dropshot. Pukulan itu bisa dikembalikan dengan dropshot silang yang jauh dari tempat lawan berdiri atau dilambungkan agar bola jatuh ke area belakang lapangan.

Carlos Alcaraz berusaha mengembalikan bola saat menjalani final tunggal putra turnamen tenis Perancis Terbuka 2025. Dia mengalahkan Jannik Sinner di Roland Garros, Paris, Minggu (8/6/2025).

Mereka pun berkali-kali melancarkan passing shot yang berbuah winner. Pukulan yang selalu memunculkan reaksi tepuk tangan dan teriakan ”wooww!” dari penonton ini dilakukan dalam posisi bertahan. Bola dari passing shot meluncur cepat, melewati lawan yang menyerang di dekat net.

Bola yang jatuh menyisir garis pinggir atau belakang lapangan biasanya menjadi momen yang sangat menarik. Mantan petenis nomor satu dunia, Andre Agassi, yang menyerahkan trofi The Musketeers pada sang juara, berulang kali menggelengkan kepala sambil mengatakan, ”I don’t believe it!”

Sinner sebenarnya berpeluang, bahkan sangat besar, untuk mematahkan analisis pelatih bernama besar Patrick Mouratoglou. Mantan pelatih Serena Williams yang saat ini mendampingi Naomi Osaka itu mengatakan, Alcaraz bisa dikalahkan petenis lain, tetapi menjadi satu-satunya petenis yang bisa mengalahkan Sinner sebagai atlet yang ditakuti banyak petenis lain.

Analisis itu hampir terpatahkan ketika Sinner memenangi dua set pembuka dan unggul dengan mematahkan servis Alcaraz pada awal set ketiga. Berbeda dengan performa sebelum musim kompetisi 2023, Sinner dalam hampir dua tahun terakhir adalah Sinner yang bisa bermain lebih agresif dari baseline.

Dia bisa konsisten menyerang dari belakang lapangan dengan pukulan lebih tajam. Sebelumnya, permainannya terbilang monoton, tanpa banyak variasi pukulan, sehingga terlihat seperti asal mengembalikan bola.

Alcaraz pun selalu berada dalam kondisi tertekan dengan cara bermain seperti itu. Sejak memenangi semifinal, Alcaraz memang mengatakan bahwa Sinner selalu membuatnya menderita dalam setiap pertandingan. Sebelum bertemu dalam final Perancis Terbuka, Minggu malam, mereka telah 11 kali bertemu dengan tujuh keunggulan bagi Alcaraz, termasuk dalam empat pertemuan terakhir.

French Open Tennis

”Jannik bisa menghancurkan setiap petenis. Saya selalu menderita saat melawan dia, termasuk jika saya menang,” kata Alcaraz.

Penderitaan itu dialami lagi dan kali ini dalam situasi lebih sulit. Alcaraz berada di ambang kekalahan saat skor 3-5 (0-40) pada set keempat dan dia dalam posisi melakukan servis. Momen itu membuat Alcaraz tak boleh melakukan kesalahan, minimal tiga kali, agar skor menjadi 3-5 (40-40). Namun, lebih dari itu, dia bisa mempertahankan servisnya dan membuat pertandingan berjalan hingga set kelima.

Lapangan Philippe Chatrier bergemuruh dengan teriakan penggemarnya. Tim pelatih yang dipimpin mantan petenis nomor satu dunia asal Spanyol, Juan Carlos Ferrero, mulai terlihat sedikit lega.

Emosi mereka, orangtua dan adik-adik Alcaraz, penonton, dan Alcaraz sendiri meledak saat poin terakhir pada set kelima didapat. Ferrero menggendong Alcaraz sambil memeluknya erat dan menangis saat Alacaraz menghampiri tim di tribune.

Sebelum momen itu, Alcaraz telentang di lapangan sambil menangis karena berhasil menyelamatkan diri dari bahaya. Kemampuannya itu seperti kucing yang disebut memiliki sembilan nyawa.

Spain's Carlos Alcaraz celebrates after winning the final match of the French Tennis Open against Italy's Jannik Sinner at the Roland-Garros stadium in Paris, Sunday, June 8, 2025. (AP Photo/Lindsey Wasson)

Meski kalimat itu hanya kiasan, kucing memang memiliki kemampuan beradaptasi serta refleks luar biasa untuk bertahan hidup dalam situasi bahaya. Dan, Alcaraz pun melakukan itu.

”Saya lebih memilih menang dalam tiga set. Tetapi, ketika situasi berlawanan dengan apa yang diinginkan, saya harus tetap berjuang. Ini adalah final Grand Slam, tidak ada waktu untuk lelah dan menyerah,” komentar Alcaraz yang baru pertama kali mendapat pengalaman tertinggal dua set sehingga harus memenangi tiga set berikutnya untuk menang.

Sebanding dengan laga legenda

Oleh pengamat tenis internasional, final Sinner melawan Alcaraz itu disejajarkan dengan pertandingan-pertandingan epik lain, salah satunya final Wimbledon 1980 ketika Bjorn Borg mengalahkan musuh bebuyutannya, John McEnroe.

Ada pula persaingan Roger Federer melawan Rafael Nadal dalam final Wimbledon 2008. Laga yang dimenangi Nadal dalam lima set itu mendapat penilaian sebagai pertandingan tenis terbaik sepanjang sejarah.

Federer, bahkan, memberi pujian pada pertandingan Sinner melawan Alcaraz. Dalam akun Instagram-nya, peraih 20 gelar Grand Slam itu mengunggah dua foto saat dia bersama Alcaraz dan dia bersama Sinner. Federer menuliskan ”Tiga juara di Paris hari ini: @carlitosalcarazz @janniksin dan pertandingan tenis yang indah. Pertandingan yang luar biasa”.

Alcaraz berterima kasih atas munculnya penilaian tersebut. ”Jika ada yang membandingkan seperti itu, saya merasa sangat terhormat. Pertandingan-pertandingan itu adalah sejarah dalam tenis. Saya tidak tahu apakah level pertandingan kami sama seperti itu. Saya akan menyerahkan penilaian ini pada orang lain,” kata Alcaraz.

APTOPIX French Open Tennis

Sinner pun senang bisa terlibat dalam final Grand Slam sedramatis itu, meski tentu saja tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Apalagi, dia berada dalam kondisi fisik yang begitu bugar. Maka, seperti dikatakannya saat konferensi pers, final melawan Alcaraz adalah pertarungan kekuatan mental.

”Pertandingan tadi berlangsung dalam level yang sangat tinggi dan panjang. Namun, saya akan menghapusnya dari ingatan, tetapi tetap mengambil sisi positifnya. Tak ada cara lain selain dari itu,” katanya.

Adapun bagi Alcaraz, situasi teramat berat pada final kelima di ajang Grand Slam ini adalah situasi yang hanya bisa dilewati oleh seseorang yang bermental juara. ”Juara sejati akan bisa melewati tekanan besar di sepanjang kariernya. Saya belajar melakukan itu, merasa nyaman dalam situasi tertekan dan tidak takut menghadapinya,” ujarnya.

(AP/AFP/Reuters)

Di balik gelar juara Perancis Terbuka 2025 bagi Alcaraz

- Kemenangan kelima dalam lima final Grand Slam setelah AS Terbuka 2022, Wimbledon 2023, Perancis Terbuka 2024, dan Wimbledon 2024.

- Meraih gelar kelima Grand Slam dalam usia 22 tahun satu bulan tiga hari, sama seperti ketika Rafael Nadal menjuarai Grand Slam untuk kelima kali, yaitu di Wimbledon 2008.

- Menyamai Roger Federer yang selalu menang dalam lima final Grand Slam pertama. Federer juara di Wimbledon 2003, Australia Terbuka 2004, Wimbledon 2004, AS Terbuka 2004, dan Wimbledon 2005.

- Tunggal putra kesembilan dalam era Terbuka yang memenangi final Grand Slam setelah kehilangan dua set pertama. Petenis terakhir yang melakukan itu adalah Sinner saat menjuarai Australia Terbuka ketika melawan Daniil Medvedev.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto