Dua kartu merah tidak cukup menggetarkan nyali PSG saat berhadapan dengan Bayern yang merupakan ujian tersulit di sepanjang turnamen Piala Dunia Antarklub 2025.
06 Jul 2025 05:01 WIB · Olahraga
ATLANTA, SABTU — Kembali terbukti, Paris Saint-Germain adalah tim terkuat di dunia saat ini. Mereka masih mampu menang atas Bayern Muenchen walaupun menyudahi laga dengan sembilan pemain. Kualitas invididu di skuad PSG, seperti Desire Doue dan Ousmane Dembele, menjadi pembeda.
PSG menaklukkan Bayern 2-0 dalam perempat final Piala Dunia Antarklub di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, Minggu (6/7/2025) WIB. Kemenangan itu diraih susah payah dengan sembilan pemain setelah bek Willian Pacho dan pemain pengganti Lucas Hernandez diganjar kartu merah di pengujung laga.
PSG baru unggul selama empat menit, lewat gol pembuka dari Doue, saat Pacho dihukum kartu merah langsung oleh wasit asal Inggris, Anthony Taylor, pada menit ke-82. Tidak lama berselang, Hernandez yang baru bermain sepuluh menit menyusul keluar lapangan pada awal injury time.
Alih-alih kehilangan kontrol, tim asuhan Pelatih Luis Enrique itu justru menghukum Bayern dengan gol kedua lewat situasi transisi. Percobaan pertama Dembele membentur mistar gawang. Bola kembali dikuasai PSG. Beberapa detik berselang, Dembele sukses menebus rasa penasarannya pada menit ke-90+6.
PSG, berstatus juara Liga Champions, tidak bisa terkejar lagi dengan waktu yang tinggal sedikit. Mereka tidak hanya menang, tetapi juga lebih berbahaya dibandingkan Bayern saat hanya dengan sembilan pemain. ”Kami siap menghadapi siapa pun,” kata Doue saat diberikan pilihan calon lawan di semifinal antara Real Madrid atau Borussia Dortmund.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/06/e559d76d-14f7-4051-b9b1-4abdd4c70c3f_jpg.jpg)
Walaupun menang dengan skor meyakinkan, PSG sebenarnya baru saja berhasil melalui ujian tersulit sepanjang turnamen. Bayern bermain lebih baik secara tim. Namun, PSG unggul dari kualitas individu pemain. Banyak pemain yang bisa menjadi pembeda lewat aksi seorang diri.
Doue, misalnya, yang mencetak gol tiba-tiba dalam situasi tidak berbahaya. Kiper veteran Bayern, Manuel Neuer, saja tidak mengira bola akan ditembak. Penyerang 20 tahun itu seperti ingin mengumpan silang, tetapi justru menembak dengan kaki kiri. Bola meluncur ke arah tiang dekat. Neuer hanya terdiam.
Gol kedua dihasilkan berkat insting tajam Dembele yang masuk dari bangku cadangan. Namun, bek sayap Achraf Hakimi yang memberikan asis turut berperan besar dalam proses gol. Hakimi berhasil mengelabui tiga pemain Bayern sekaligus di area kanan sebelum melepaskan umpan silang ke kotak penalti.
”Ini adalah pertandingan dua tim besar. Pada akhirnya, laga seperti ini ditentukan oleh momen-momen kecil. Sayangnya, itu tidak berpihak kepada kami, seperti itulah kami kehilangan pertandingan ini,” kata gelandang Bayern, Konrad Laimer, yang memulai laga sebagai bek sayap kanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/06/563455a7-0cb2-48e0-9ccc-ba37473eab96_jpg.jpg)
Bayern tidak punya sosok pembeda seusai kehilangan gelandang berbakat, Jamal Musiala, akibat cedera engkel horor pada paruh pertama. Penyerang sayap Bayern, Michael Olise, sempat beberapa kali mengancam. Namun, kiper PSG, Gianluigi Donnarumma, tampil sangat apik dengan lima penyelamatan penting.
Hakimi berkata, pendekatan bermain Bayern sangat identik dengan timnya. Mereka sama-sama mengandalkan tekanan intens saat kehilangan penguasaan bola. Tujuannya, merebut bola secepat dan setinggi mungkin untuk bisa memulai serangan. ”Itu yang membuat laga sangat sulit. Kami bekerja keras untuk membuat perbedaan,” ujarnya.
Jebakan Bayern ternyata lebih efektif di laga tadi. Strategi Pelatih Vincent Kompany untuk memainkan skema man to man berhasil. Serangan PSG yang dimotori gelandang metronom Vitinha sering terputus di separuh lapangan sendiri. PSG tidak nyaman membangun serangan dari bawah seperti biasa.
Lihat saja di catatan statistik, PSG hanya mampu mencatatkan akurasi umpan sukses 76 persen. Angka itu jauh di bawah rerata mereka sepanjang turnamen, 91 persen. Bayern juga sukses membuat delapan kali high turnovers atau merebut bola di jarak 40 meter awal lapangan lawan. PSG hanya menghasilkan dua kali high turnovers.
Bayern benar-benar tidak beruntung. Setelah kehilangan sang bintang muda, dua gol mereka dianulir karena offside terlebih dulu. Harry Kane dan rekan-rekan sempat mendapatkan penalti di pengujung laga, tetapi dibatalkan oleh video asisten wasit (VAR).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/06/9114681c-2c5d-4dd4-9367-c47fe2b65326_jpg.jpg)
PSG dipastikan kehilangan Pacho akibat sanksi kartu merah di babak semifinal nanti. Mereka akan sangat dirugikan. Bek 23 tahun itu merupakan salah satu pemain terpenting di lini belakang PSG. Dia, bersama bek veteran Marquinhos, selalu dipasang oleh Enrique dalam laga penting.
Marquinhos berkata, mereka tidak boleh mengulangi kecerobohan serupa di babak berikutnya. ”Kartu merah selalu berasal dari kesalahan kecil. Kami harus memperbaiki itu. Detail seperti itu bisa menentukan pertandingan. Ketika kalah jumlah pemain, itu mengubah banyak hal,” jelasnya. (AP/AFP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan