Awan panas menerjang Gladak Perak, jembatan utama penghubung Kabupaten Lumajang dan Malang di Jawa Timur.
19 Nov 2025 17:54 WIB · Lingkungan
PVMBG/Hadi Wijaya
JAKARTA, KOMPAS — Gunung Semeru di Jawa Timur meletus pada Rabu (19/11/2025) pukul 16.00 WIB. Status Gunung Semeru dinaikkan dari Level II (Waspada) ke Level IV (Awas) pada Rabu pukul 17.00 WIB atau hanya berselang sejam seusai letusan. Awan panas sudah terpantau menerjang Gladak Perak, jembatan utama penghubung Kabupaten Malang-Lumajang.
Tinggi kolom letusan Semeru mencapai 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 meter di atas permukaan laut. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan agar warga tak beraktivitas di radius 8 kilometer dari puncak serta menghindari kawasan selatan tenggara sejauh 20 km. PVMBG juga meminta warga menghindari tepi sungai Besuk Kobokan hingga 500 meter karena adanya awan panas dan aliran lahar.
Dalam tangkapan layar pemantauan yang dikirimkan Kepala PVMBG Hadi Wijaya, terlihat awan panas sudah menerjang Jembatan Gladak Perak. Jembatan itu berjarak 13 km dari puncak Semeru dan merupakan pusat lalu lintas warga sebagai penghubung dua kabupaten, yakni Lumajang dan Malang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/c9a377bffdb7b7d2d73a258acf541916-acf42b05_d034_4365_a9af_49b1e70f8a22.jpeg)
Rudi, anggota Taruna Siaga Bencana Lumajang, saat dihubungi Kompas mengatakan, di Kecamatan Candipuro, Lumajang, ada 22 keluarga yang mengungsi di kantor kecamatan. Ia saat ini berada di lokasi untuk membantu evakuasi warga.
Laman resmi PVMBG menyebutkan, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Saat laporan ini dibuat pada pukul 16.00 WIB, erupsi masih berlangsung.
Mukdas Sofian dalam laporannya menuliskan sejumlah rekomendasi, yakni tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 8 km dari puncak (pusat erupsi).
Besuk Kobokan adalah jalur lahar Semeru yang membentang di sisi tenggara. Jarak dari puncak ke hilir adalah 13 km. PVMBG merekomendasikan kepada warga untuk menjauhi jalur ini karena ada potensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar.
Warga juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu puncak Semeru, termasuk Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Semeru dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami erupsi. Pada November 2025, erupsi terjadi hampir setiap hari dengan tinggi kolom bervariasi, yakni 500-800 meter. Pada Rabu sore ini, kolom abu mencapai 2.000 meter dari puncak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/08cac602e75d3dab440585769c7f354b-VEN_SMR20250711063333.png)
Letusan Semeru terbesar dalam satu dasawarsa terakhir terjadi pada 4 Desember 2021. Saat itu, letusan mengakibatkan kematian 51 jiwa, 169 orang luka-luka, dan 22 jiwa dinyatakan hilang.
Dalam peristiwa itu, letusan juga merobohkan Jembatan Gladak Perak. Letusan memunculkan aliran piroklastik dan lahar yang merusak sekitar 6.000 bangunan. Sejumlah kampung dengan ribuan jiwa terpaksa direlokasi untuk mencegah dampak fatal dan massal saat Gunung Semeru kembali meletus.
Penulis:
Siwi Yunita Cahyaningrum, Dahlia IrawatiEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti