Awan panas dan lontaran batu pijar menjadi dampak paling berbahaya saat letusan Semeru. Semua pihak diminta menaati rekomendasi jarak yang sudah ditetapkan.
19 Nov 2025 20:20 WIB · Lingkungan
badan geologi
BANDUNG, KOMPAS — Gunung Semeru di Jawa Timur kini berstatus Awas atau Level IV. Status ini menjadi yang tertinggi untuk menunjukkan aktivitas gunung api di Indonesia. Bahaya awan panas dan lontaran batu pijar menjadi hal paling penting diwaspadai warga di sekitarnya.
Sebelumnya, peningkatan aktivitas Semeru berlangsung begitu cepat. Pada Selasa (19/11/2025) pukul 16.00 WIB, setelah Gunung Semeru mengeluarkan awan panas pada pukul 14.13 WIB, Badan Geologi menaikkan status gunung dari Level II atau Waspada ke Level III atau Siaga.
Hanya berselang sejam, statusnya kembali naik, yakni dari Siaga ke Level IV atau Awas, pada pukul 17.00 WIB. Salah satu pertimbangannya, awan panas masih berlangsung dengan amplitudo maksimum 37 milimeter.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/5f5167f8d89a24f7220933edd1b81923-IMG_20251119_WA0107.jpg)
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan, aktivitas Semeru memperlihatkan bahwa erupsi dan guguran lava masih terjadi. Namun, secara visual belum teramati maksimal karena terkendala kondisi cuaca.
Dalam periode ini, jumlah gempa yang terekam menunjukkan aktivitas kegempaan di Semeru masih tinggi, terutama untuk gempa Letusan, Guguran, dan gempa Harmonik. Gempa-gempa yang terekam mengindikasikan masih ada aliran dari bawah permukaan Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan.
”Dari pengamatan visual, teramati kejadian guguran lava pijar semakin intensif ke arah Besuk Kobokan,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/c9a377bffdb7b7d2d73a258acf541916-acf42b05_d034_4365_a9af_49b1e70f8a22.jpeg)
Oleh kerena itu, seiring peningkatan aktivitas dan status itu, zona terlarang untuk aktivitas manusia di sekitar Semeru semakin luas. Baik masyarakat, pengunjung, maupun wisatawan diminta tidak beraktivitas di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 kilometer dari pusat erupsi.
Wafid juga mengatakan, masyarakat diminta tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Awan panas dan lahar rawan mengalir melalui Besuk Kobokan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/05/20e59bc9-4745-41d9-b832-51ee72628d04.jpg)
Selain itu, masyarakat di sektor lainnya juga agar tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah atau puncak Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Sementara itu, Rudi, anggota Taruna Siaga Bencana Lumajang, saat dihubungi Kompas mengatakan, di Kecamatan Candipuro, Lumajang, ada 22 keluarga yang mengungsi di kantor kecamatan. Saat ini Rudi berada di lokasi untuk membantu evakuasi warga.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase