BULU TANGKIS

Semifinal, Hasil Maksimal Tim Uber Indonesia

Perjalanan tim bulu tangkis putri Indonesia terhenti di semifinal kejuaraan Piala Uber. Indonesia kalah 1-3 dari Korea Selatan.

02 Mei 2026 21:51 WIB · Olahraga

Humas PP PBSI

Oleh Yulia Sapthiani

HORSENS, SABTU — Tak bisa mengulang kemenangan pada semifinal 2024, tim bulu tangkis putri Indonesia kali ini kalah dari Korea Selatan pada semifinal kejuaraan Piala Uber. Meski demikian, bisa berdiri di podium dan mendapat kalungan medali perunggu pada hari terakhir kejuaraan nanti menjadi hasil baik bagi tim yang didominasi atlet muda.

Indonesia kalah dengan skor 1-3 dari Korea Selatan pada pertandingan yang berlangsung di Forum Horsens, Horsens, Denmark, Sabtu (2/5/2026). Pada semifinal lainnya, juara bertahan China menang atas Jepang 3-0.

Dengan demikian, Piala Uber, lambang supremasi kejuaraan dunia bulu tangkis beregu putri, akan diperebutkan China dan Korea Selatan pada Minggu. Kedua tim akan bertemu untuk ke-10 kali di final setelah yang terakhir kali di Bangkok 2022. Saat itu, Korea Selatan menang 3-2.

Semifinal Indonesia melawan Korea Selatan merupakan ulangan pertemuan kedua tim pada fase yang sama di Chengdu 2024 ketika Indonesia menang 3-2. Namun, hasil berbeda didapat di Horsens, salah satunya karena kali ini Korea Selatan diperkuat tunggal putri nomor satu dunia, An Se-young.

Putri Kusuma Wardani mengembalikan pukulan di dekat net pada partai pertama Indonesia melawan Korea Selatan dalam semifinal kejuaraan Piala Uber di Forum Horsens, Denmark, Sabtu (2/5/2026). Putri kalah dari An Se-young, Indonesia tertinggal 0-1.

An, yang absen pada semifinal dua tahun lalu karena cedera, menjalankan tugasnya dengan baik sebagai tunggal pertama. Dia membuka jalan bagi rekan-rekannya dengan mengalahkan Putri Kusuma Wardani, 21-19, 21-5. An pun tak terkalahkan dalam lima pertandingan Korea Selatan sejak babak penyisihan grup.

Putri sebenarnya bisa memberikan perlawanan baik pada gim pertama. Namun, atlet ranking keenam dunia ini berulang kali membuat kesalahan mudah, seperti saat servis. Kok dari servis pendeknya jatuh di luar lapangan.

Dia juga beberapa kali kesulitan menilai posisi kok yang diarahkan An ke belakang lapangan. Setelah kehilangan gim pertama, Putri semakin tenggelam pada gim kedua.

”Di gim pertama cukup puas dengan penampilan saya karena saya bisa mengimbangi permainan An. Dia tidak terlalu menyerang, hanya bola atasnya memang lebih menekan. Cukup disayangkan, di akhir saya kurang tahan,” tutur Putri.

Pada gim kedua, atlet berusia 23 tahun itu lebih kesulitan ketika An mempercepat tempo permainan. ”Dia pun membaca pola permainan saya dengan baik sejak bola pertama. Saya melupakan yang terjadi di gim pertama dan fokus ke gim kedua, tapi memang permainan dia cukup menyulitkan,” kata Putri yang kalah untuk ke-10 kali dari 10 pertemuan dengan An.

Amallia Cahaya Pratiwi mengembalikan pukulan saat tampil pada partai kedua Indonesia melawan Korea Selatan dalam semifinal kejuaraan Piala Uber di Forum Horsens, Denmark, Sabtu (2/5/2026). Amallia/ Febriana Dwipuji Kusuma kalah dari Lee So-hee/Baek Ha-na.

Mengantisipasi partai pembuka yang sulit dimenangkan, Indonesia menurunkan ganda putri formasi lama, Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pratiwi, sebagai ganda pertama. Apalagi, mereka pernah mengalahkan pasangan terbaik lawan berperingkat ketiga dunia, Lee So-hee/Baek Ha-na.

Kemenangan pada Kejuaraan Dunia 2025 berpeluang terulang, tetapi Febriana/Amallia kalah setelah bertanding selama 1 jam 28 menit. Mereka kalah dengan skor 16-21, 21-19, 15-21. Perebutan setiap poin dalam laga ini sering kali berlangsung lama, salah satunya ketika terjadi 133 pukulan pada gim kedua.

”Kami dan lawan sama-sama susah dapat poin. Maksudnya banyak terjadi reli, jadi sebenarnya pola yang diterapkan sudah benar. Tetapi, pada beberapa poin, fokus kami turun hingga pengembalian bolanya salah. Adapun pada akhir gim ketiga, mereka mempercepat permainan yang membuat kami terus tertekan,” tutur Febriana.

Thalita menang

Apresiasi patut diberikan kepada tunggal putri berusia 18 tahun, Thalita Ramadhani Wiryawan, yang diturunkan sebagai tunggal kedua. Dia bermain ketika Indonesia tertinggal 0-2, tetapi bisa menyumbangkan kemenangan. Atlet yang baru kali ini tampil di Piala Uber ini mengalahkan atlet yang lebih berpengalaman, Sim Yu-jin, 21-19, 21-19.

”Meskipun tadi tim sudah ketinggalan, saya mau coba main dulu saja, mengeluarkan yang saya punya. Pelatih juga mengingatkan untuk nothing to lose. Rasa gugup pasti ada, tapi saya mencoba mengatur napas dan berteriak menyemangati diri sendiri. Alhamdulillah bisa menang,” tutur Thalita.

Thalita Ramadhani Wiryawan bermain melawan  Sim Yu-jin saat Indonesia melawan Korea Selatan dalam semifinal kejuaraan Piala Uber di Forum Horsens, Denmark, Sabtu (2/5/2026). Thalita menang 21-19, 21-19.

Piala Uber 2026 ini menjadi yang pertama bagi Thalita. Dia dipercaya dua kali bermain pada penyisihan grup saat melawan Kanada dan Australia dengan hasil selalu menang. Setelah tidak diturunkan saat melawan Denmark pada perempat final, Thalita bermain di semifinal.

Kemenangan atlet peraih empat gelar juara dari turnamen international challenge/series pada 2025 itu membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membuat semifinal berjalan hingga partai kelima. Akan tetapi, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum kalah dari Jeong Na-eun/Kim Hye-jeong, 16-21, 18-21.

Setelah empat tim putri bertanding, semifinal Piala Thomas berlangsung Sabtu tengah malam waktu Indonesia. China berhadapan dengan Denmark, sementara India melawan Perancis. Ini menjadi Piala Thomas pertama ketika dua tim asal Eropa tampil di semifinal.

HASIL SEMIFINAL PIALA UBER INDONESIA – KOREA SELATAN

Putri Kusuma Wardani vs An Se-young 19-21 5-21 (0-1)

Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pratiwi vs Baek Ha-na/Lee So-hee 16-21, 21-19, 15-21 (0-2)

Thalita Ramadhani Wiryawan vs Sim Yu-jin 21-19, 21-19 (1-2)

Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum vs Jeong Na-eun/Kim Hye-jeong 16-21, 18-21 (1-3)

Ester Nurumi Tri Wardoyo vs Kim Ga-ram (tidak dimainkan)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul