”Semm Cumasch” (Kami dari Como) semakin mantap diucapkan warga Como, Italia, menyusul performa solid klub Como 1907 di Serie A. Namun, Como bukan sekadar sepak bola.
31 Jan 2026 06:00 WIB · Olahraga
KOMPAS/AGUNG SETYAHADI
Semm Cumasch menjadi kosakata pertama yang diajarkan oleh Roberta, yang memandu menyusuri lorong-lorong sempit kota mungil bernuansa perdesaan, Como. Ungkapan ikonik yang bermakna Kami dari Como itu merupakan simbol kebanggaan masyarakat di sana atas semesta mungil di tepi Danau Como dengan sejarah yang terentang sejak abad pertengahan. Di era modern ini, Como kembali menjadi sorotan dunia sejak klub sepak bola Como 1907 melesat bak meteor dari kasta terendah Liga Italia, Serie D, ke kasta tertinggi Serie A.
Namun, Como bukan sekadar sepak bola karena kota kecil ini juga melahirkan tokoh besar Alessandro Volta, sang inventor baterai listrik. Como juga memiliki sejarah panjang sejak zaman besi dan berkembang menjadi simpul pertahanan dan perdagangan di bawah Kekaisaran Romawi. Jejak peradaban itu terkuak dari sisa kolam pemandian Romawi yang ditemukan saat penggalian.
Namun, daya tarik terkuat Como saat ini adalah sepak bola dan pesona alamnya. Como menjadi semakin ramai dikunjungi wisatawan seiring popularitas klub sepak bola Como 1907 yang melesat dari Serie D ke Serie A Liga Italia, hanya dalam lima tahun sejak klub itu dibeli oleh keluarga Hartono, pemilik bisnis Djarum dari Kudus, Jawa Tengah, pada April 2019.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/30/4a966b73-34f0-448c-8923-505c45e6fda6.jpg)
Promosi yang spektakuler itu diiringi dengan imaji Stadion Giuseppe Sinigaglia yang difoto menggunakan drone. Foto itu viral karena pemandangan spektakuler stadion dengan latar belakang Danau Como yang dikelilingi Pegunungan Alpen. Panorama itu mengusik rasa penasaran untuk berkunjung pada awal November 2025 setelah menghadiri pameran otomotif EICMA di Milan bersama Astra Honda Motor. Pada kunjungan ke Milan sebelumnya, di akhir 2019, Como sama sekali tidak muncul dalam rencana perjalanan, sesederhana karena Como belum viral saat itu.
Padahal, Como sangat dekat dengan Milan, hanya sekitar 60 menit perjalanan menggunakan mobil atau kereta. Para pemain Como 1907 kalau laga tandang ke Giuseppe Meazza melawan Inter Milan atau AC Milan juga menggunakan jalur darat.
Begitu menginjakkan kaki di Como, nuansa perdesaan lebih kental dibandingkan perkotaan, kontras dengan metropolitan Milano. Suasana lebih tenang, tanpa hirup pikuk kendaraan, serta menembus lini masa karena disuguhi kilasan masa lalu dari bangunan-bangunan bergaya gotik, renaisans, dan baroque.
Gereja bergaya Baroque La Chiesa di Santa Maria di Loreto yang mengesankan mengawali peelusuran lorong-lorong Como. Sekitar lima menit berjalan kaki dari gereja tua itu, atmosfer kota tua Como sangat kental. Di depan, ada alun-alun kecil dikelilingi tempat ngopi dan restoran, di bagian tengah berdiri patung sosok berjubah putih yang tangan kanannya memegang semacam tumpukan lempengan-lempengan bundar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/30/af565340-342e-432e-a161-838370410d43.jpg)
”Itu patung orang yang sangat terkenal dan dia lahir di Como. Saya yakin kalian tahu. Dia adalah Alessandro Volta, penemu baterai listrik pertama,” ujar Roberta dengan nada bangga.
Patung Alessandro Volta itu memegang baterai listrik pertama yang berupa tumpukan seng dan tembaga yang dipisahkan oleh material yang dibasahi dengan elektrolit. Itulah baterai pertama yang disebut voltaic pile.
Setelah menikmati suasana di alun-alun Volta itu, langkah kaki mulai menyusuri lorong-lorong sempit Como yang masih menyisakan bebrapa bangunan abad pertengahan, dengan jendela dan pilar-pilar kayu balok. Bangunan-banguna kuno itu direvitalisasi menjadi restoran, tempat ngopi, serta penginapan. Nuansa kuno itu membuat suasana ngopi semakin syahdu. Salah satu tempat nongkrong paling nyaman ada di depan Katedral Como yang nama lengkapnya Katedral Santa Maria Assunta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/30/1ebfcf1b-9200-4470-af60-b5f4446143aa.jpg)
Gereja dengan menara menjulang 75 meter serta fasad depan dari marmer dengan patung dan ukiran sosok-sosok santo itu menjadi etalase karya besar seniman-seniman kuno Italia. Katedral Como ini memiliki struktur utama bergaya gotik, tetapi ada unsur-unsur renaisans dan Baroque. Perpaduan gaya itu merupakan proses alamiah karena Duomo Como dibangun selama 400 tahun mulai 1396 hingga 1770.
Dari halaman katedral itu, Danau Como sudah bisa terlihat. Dermaga kecil di tepi danau glasial itu menjadi awal perjalanan menuju Desa Bellagio yang ikonik dengan pemandangan lepas ke Pegunungan Alpen yang diselimuti salju.
Namun, siang itu, jadwal penyeberangan dibatalkan karena kapal mengalami kerusakan. Kapal lain tersedia, tetapi tidak ke Bellagio sehingga rencana melihat pegunungan bersalju batal.
Kami bangga sekali Como kembali ke Serie A. Terima kasih kepada keluarga Hartono dan Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/30/a33bc7e0-d996-46c3-96ae-5f2e7cc525b9.jpg)
Langkah kaki langsung menuju ke Stadion Giuseppe Sinigaglia yang hanya 10 menit dari dermaga. Saat sampai di depan gerbang stadion, suasana begitu lengang dan pengunjung tidak bisa masuk karena sedang ada perawatan rutin. Saat celingak-celinguk di depan gerbang, ada yang menyapa dengan bahasa Indonesia dari belakang.
”Dari Indonesia ya, Mas?” kata orang berjaket tebal hitam dengan ramah.
Sapaan itu mengejutkan sekaligus menggembirakan karena pertemuan itu menjadi pembuka jalan memasuki stadion. Sosok itu adalah Fikha Hudi, fotografer Como 1907 yang meliput seluruh pertandingan Como sejak promosi ke Serie B Liga Italia pada musim 2023-2024. Setelah Hudi memberi tahu petugas keamanan stadion bahwa ada wisatawan dari Indonesia ingin melihat Stadion Giuseppe Sinigaglia, tur eksklusif pun dimulai.
”Kalau orang Indonesia di Como ini diajeni (dihormati), toplah pokoknya,” ujar Hudi diiringi senyum.
Itu bukan isapan jempol karena pemandu wisata Roberta yang berpisah setelah makan siang mengakui bahwa warga Como berterima kasih kepada Indonesia dan keluarga Hartono karena membawa Como 1907 ke Liga Serie A.
”Kami bangga sekali Como kembali ke Serie A. Terima kasih kepada keluarga Hartono dan Indonesia,” ujar Roberta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/30/9eaf0868-8fa7-45ef-83c7-118ad0b247c9.jpg)
Saat mengunjungi toko Como 1907 di pusat kota, Roberta juga dengan bersemangat mengenalkan kami kepada pada penjaga toko bahwa wisatawan yang dia pandu dari Indonesia. Senyum ramah dan salam hangat pun menyambut.
Para staf di stadion juga ramah dan memersilakan untuk melihat stadion dengan leluasa. Stadion yang selesai dibangun pada 1927 ini bukanlah stadion megah seperti Camp Nou dan San Siro yang beberapa hari sebelumnya kami kunjungi. Stadion ini mungil, mengingatkan pada Stadion Manahan di Solo, berkapasitas kecil tetapi hangat. Namun, rumput stadion terawat dengan sangat baik, juga dilengkapi pemanas dan sinar ultraviolet untuk menjaga rumput tetap sehat saat musim dingin.
Hudi memandu kami menaiki tribune utama yang beratap sehingga disebut Tribuna Coperta. Di tribune ini ada sektor khusus bagi keluarga pemain Como 1907. Adapun tribune bagi suporter militan Como 1907 ada di sayap kiri yang disebut Curva Como. Sementara tribune penonton klub tandang kursinya berwarna putih di sayap kanan. Tempak duduk di tribune Ospiti ini jumlahnya lebih sedikit. Bagi penonton umum dan keluarga rata-rata menempati tribune Distinti yang lebih rileks di seberang tribune utama. Pemandangan dari kursi paling atas Curva paling bagus karena bisa melihat stadion, danau, dan mercusuar di atas bukit pada latar belakang.
”Bisa dibilang ini stadion terindah di Italia walaupun kecil. Sekarang kapasitasnya hampir 11.000 tempat duduk, sedangkan persyaratan Serie A, kan, minimal 12.000 tempat duduk,” ujar Hudi pada awal November lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/30/bb48acb4-8f14-4d61-8c65-bedcee49f922_jpg.jpg)
Stadion Como 1907 memang terus meningkatkan kapasitas penonton, dari awalnya hanya sekitar 5.000 penonton pada awal 2000-an. Pengembangan terus dilakukan setelah keluarga Hartono membeli Como 1907 sehingga kapasitas meningkat menjadi 7.498 penonton saat di Serie B. Begitu promosi ke Serie A, stadion kembali mengalami pengembangan untuk memenuhi standar Serie A dan kapasitas penonton ditingkatkan menjadi 10.584 tempat duduk.
Tahun 2026, Como 1907 bekerja sama dengan pemerintah setempat, akan membangun Stadion Giuseppe Sinigaglia menjadi lebih modern, diyakini dengan kapasitas 15.000-20.000 tempat duduk.
Tahapan pembangunan dimulai dengan desain, studi kelayakan, dan proses pengesahan pada Mei 2026. Pembangunan tahap pertama direncanakan selesai pada Oktober 2027 dan tahap kedua pada Agustus 2028.
”Tujuan kami adalah untuk memastikan Stadion Giuseppe Sinigaglia tetap menjadi bagian penting dari komunitas. Proyek baru ini harus menghormati warisan Stadion Giuseppe Sinigaglia sekaligus menjadikannya ruang yang aktif dan mudah diakses bagi semua warga dan pengunjung—bukan hanya untuk sepak bola, melainkan untuk dinikmati semua orang, 365 hari setahun,” ujar Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso di laman resmi klub pada Februari 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/30/0a732df9-96e2-4ab9-b7bb-8400ad1dca38_jpg.jpg)
Seiring dengan proses pembangunan stadion, Como 1907 juga bertahap memperkuat skuad dengan investasi besar untuk merekrut pemain. Berdasarkan data yang diolah oleh Swiss Ramble, pada musim panas 2025, Como 1907 menggelontorkan 107 juta euro (Rp 2,1 triliun) untuk mendatangkan sejumlah pemain, termasuk Jesus Rodriguez dari Real Betis, Nicolas Khun dari Celtic, Martin Baturina dari Dinamo Zagreb, dan Jayen Addai dari AZ Alkmaar. Juga pemain pinjaman dari Manchester City, Maximo Perrone, dikontrak permanen. Adapun Alvaro Morata dipinjam dari AC Milan.
Investasi dari keluarga Hartono untuk memperkuat Como 1907 itu berdasarkan data Transfermarkt, berada di urutan kelima tertinggi di Serie A, hanya kalah dari AC Milan (157 juta euro/Rp 3,1 triliun), Juventus (137 juta euro/Rp 2,7 triliun), Atalanta (126 juta euro/Rp 2,5 triliun), dan Napoli (115 juta euro/Rp 2,3 triliun).
Adapun dalam perhitungan pengeluaran bersih, Como 1907 menempati posisi teratas musim panas lalu, dengan 94 juta euro—sekitar Rp 1,8 triliun—mengungguli Juventus dengan 53 juta euro (Rp 1 triliun) dan Inter Milan 42 juta euro (Rp 840 miliar).
Investasi besar ini berbuah manis, di mana Como pada musim ini menempati posisi keenam klasemen Serie A. Ini pencapaian membanggakan bagi masyarakat Como karena hanya dalam musim keduanya di kasta tertinggi. Pada musim pertama Como di Serie A setelah absen 21 tahun, tim asuhan Cesc Fabregas ini finis di posisi ke-10 klasemen akhir.
Performa Como 1907 di bawah kepemilikan keluarga Hartono dari Indonesia yang menjanjikan ini membuat warga Como semakin bangga saat mengucapkan mantra sakti mereka, Semm Cumasch, yang dilafalkan sem ko-mask, Kami dari Como.
Penulis:
Agung SetyahadiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan