Semua Menanggung Kerugian akibat Kerusuhan

Masyarakat yang berdaya akan menekan atau mengurangi berbagai potensi rusuh dalam setiap unjuk rasa.

03 Sep 2025 07:00 WIB · Tajuk Rencana

Oleh Redaksi

Kerusuhan dan kecemasan akibat pergolakan politik berdampak buruk baik jangka pendek maupun jangka panjang. Roda ekonomi berjalan lambat dan bisa terhenti.

Ekonomi sektor riil dan mobilitas masyarakat melambat di Jabodetabek dan sejumlah kota besar di Indonesia, Senin (1/9/2025). Pada saat yang sama, sentimen negatif menggelayuti pasar keuangan. Perputaran roda ekonomi di awal September yang melambat ini terjadi menyusul gejolak sosial-politik yang bereskalasi dan meluas sepanjang pekan terakhir Agustus. Sejauh ini, tujuh warga meninggal di tengah insiden yang diwarnai kerusuhan itu (Kompas, 2/9/2025).

Unjuk rasa, yang berujung pada kerusuhan sejak 15 Agustus, telah menelan korban jiwa. Keluarga, sejawat, dan masyarakat tentu mengalami kesedihan yang mendalam. Kita mengucapkan berdukacita untuk keluarga mereka dan handai tolan.

Dampak lainnya, pergerakan ekonomi langsung melambat. Sentra-sentra ekonomi langsung melakukan antisipasi dengan menutup operasi mereka. Proses produksi berbagai barang dan jasa tentu terganggu secara signifikan. Pergerakan orang juga berkurang. Pesanan-pesanan berbagai produk juga anjlok. Orang memilih untuk berada di rumah dan pergerakan menjadi terbatas. Industri pariwisata dan hiburan tentu terdampak mendalam karena orang melakukan pembatalan. Mereka menunggu perkembangan keadaan.

Koordinator aksi membagikan bunga mawar kepada para pengemudi ojek daring sebelum menggelar aksi damai di kawasan parkiran IRTI Monas, Jakarta Pusat, Selasa (2/9/2025). Para pengemudi ojek daring tersebut berjalan kaki dari depan Balai Kota Jakarta ke arah Patung Kuda sembari membagikan bunga mawar sebagai pesan perdamaian kepada aparat Kepolisian dan TNI. "Aksi ojol tebar sejuta mawar kebaikan aparat TNI, Polri dan masyarakat" tersebut diikuti oleh pengemudi ojek daring di kawasan Jakarta. Insiden yang merenggut nyawa pengemudi ojek Affan Kurniawan sempat menimbulkan gejolak massa yang tak kunjung usai diberbagai daerah. Kekecewaan yang berujung pembakaran, penjarahan hingga pelanggaran hukum yang tak terbendung lagi telah membuka mata hati para pengemudi ojek daring ini untuk segera bangkit dan memulihkan kembali NKRI. Perwakilan pengemudi ojek tersebut berkeinginan untuk memperbaiki situasi bangsa ini agar kembali normal. Mereka telah memaafkan segala peristiwa yang terjadi pada almarhum Affan dan menyerahkan segala proses hukumnya pada pemerintahan saat ini secara transparan.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Keadaan ini mempunyai dampak berantai. Industri logistik, transportasi, dan pengiriman barang tentu juga memilih mengamankan diri karena armada mereka bisa ikut menjadi korban bila berada di jalanan. Di ujung, para pemasok atau produsen yang biasanya lancar terpaksa harus menyimpan produk mereka. Penyimpanan berarti memunculkan ongkos baik berupa gudang, listrik, dan juga sarana pendukung lainnya. Dalam jangka lama, terutama produk pangan, akan mengalami kerusakan.

Keluarga mereka pun akan terdampak ketika roda ekonomi terganggu di berbagai sektor. Oleh karena itu, kerusuhan dan juga kecemasan karena pergolakan politik akan merugikan semua, baik pengusaha besar maupun kecil. Mereka yang tinggal di desa dan di kota sama saja. Anak-anak terpaksa tidak bisa bersekolah hingga harus belajar secara daring. Mereka yang dewasa juga harus bekerja dari rumah seperti saat pandemi.

Di tengah situasi seperti ini kita berharap masyarakat sipil makin kuat. Masyarakat yang berdaya akan menekan atau mengurangi berbagai potensi rusuh dalam setiap unjuk rasa karena sesama mereka bisa mencegah keinginan untuk rusuh. Upaya penyusupan pun tak akan mudah.

Unjuk rasa adalah hal yang diperbolehkan dalam negara demokrasi, tetapi tentu tidak disertai rusuh. Kita perlu belajar banyak dari Thailand. Unjuk rasa di negara itu berlangsung ramai, tetapi ekonomi tetap berjalan karena tidak sampai merusak. Kita terus berharap masyarakat sipil memiliki kekuatan dan menentukan nasib bangsa ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Marcellus Hernowo, Andreas Maryoto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase