Relasi AS-China terus naik turun. Trump mengubah sikapnya dan akan membahas kesepakatan dengan Xi.
24 Okt 2025 10:45 WIB · Internasional
AP
WASHINGTON, JUMAT — Menyusul perselisihan soal ekspor logam tanah jarang, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan enggan bertemu Presiden China Xi Jinping. Namun, Trump mengubah sikapnya dan akan membahas kesepakatan dengan Xi.
Kantor berita Reuters, Jumat (24/10/2025), melaporkan, Gedung Putih mengumumkan pertemuan Trump-Xi akan berlangsung di Seoul, Korea Selatan. Mereka akan bersua di sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC).
”Pada Kamis (pekan depan), Presiden Trump akan berpartisipasi dalam pertemuan bilateral dengan Presiden China X sebelum kembali kemari,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Pada Jumat malam waktu setempat, Trump terbang menuju Asia. Sebelum ke KTT APEC, ia ke Malaysia untuk menghadiri KTT ASEAN. Pada Minggu, Trump dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan menghadiri jamuan makan malam bersama para pemimpin negara anggota ASEAN.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/d68dc763c16dd8c4f80b2b9ca5e3e833-000_36X478K.jpg)
Setelah itu, pada Rabu pekan depan, Trump akan terbang ke Korea Selatan. Ia akan bertemu dengan Presiden Korsel Lee Jae Myung lalu menghadiri sejumlah acara terkait KTT APEC.
Dalam perang dagang terkini, Trump geram dengan langkah Beijing mengetatkan aturan ekspor logam tanah jarang. Ia lekas membalas dengan ancaman tarif dan langkah-langkah keras lain terhadap China.
Namun, belakangan ia melunak dan menyatakan optimistis bisa mencapai kesepakatan dengan China soal logam tanah jarang. ”Saya pikir, ini akan berakhir dengan sangat baik dan semua orang akan sangat senang,” kata Trump tentang rencana pertemuannya dengan Xi.
Relasi AS-China naik turun karena saling balas tarif, yang diikuti negosiasi. Pada 19 September, ketenangan dan optimisme untuk meredakan perang dagang kedua negara mendadak runtuh.
Sebelumnya, AS mengumumkan akan memperluas sanksi pada perusahaan-perusahaan China. Beijing langsung membalas dengan memperluas persyaratan perizinan untuk ekspor logam tanah jarang (LTJ). Mineral itu diperlukan untuk berbagai teknologi mutakhir, mulai dari ponsel pintar hingga jet tempur.
Berang, Trump membalas akan mengenakan tarif tambahan 100 persen terhadap barang-barang China. Ancaman itu mengaburkan prospek kesepakatan dagang menjelang rencana pertemuan Trump-Xi di Korsel. Tak lama setelah itu, Trump pun mengatakan enggan bertemu Xi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/18/be4f702e4e584b2f5136865309665fc5-20250415_GKT_Perang_Tarif_AS_China2_mumed.png)
”Saya mengancam mereka dengan sesuatu yang saya kira jauh lebih kuat, yaitu tarif. Saya juga bisa mengancam mereka dengan banyak hal lain, seperti pesawat terbang,” ujar Trump. Ini mengisyaratkan AS dapat berhenti mengirimkan suku cadang pesawat ke China.
Beijing bertekad akan melawan setiap langkah AS. ”Ancaman tarif tinggi yang disengaja bukanlah cara yang tepat untuk berdamai dengan China. Posisi kami dalam perang ini konsisten: kami tidak menginginkannya, tetapi kami tidak takut,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan China.
Demikianlah permainan di antara dua perekonomian terbesar di dunia. Kedua belah pihak mencari keunggulan masing-masing dalam negosiasi perdagangan yang berjalan alot.
Mantan Duta Besar AS untuk China Nick Burns menilai, kedua negara telah mencoba menggunakan banyak pengaruh untuk menguntungkan posisi negosiasi mereka. ”Kedua belah pihak telah menggunakan isu-isu yang mereka miliki untuk menciptakan persaingan yang lebih adil. Saya pikir mereka sekarang berada di titik di mana mereka mencoba mendefinisikan apa arti kesuksesan,” ujar Burns.
Menurut Craig Singleton, Direktur Senior Program China di Foundation for Defense of Democracies, perlombaan AS-China lebih dari sekadar menghitung kartu dan membandingkan kartu siapa lebih kuat. Dengan kedua pihak belajar mempergunakan saling ketergantungan, mereka beropasi dalam ”keseimbangan yang rentan”. ”Dominasi bergantung pada siapa yang bisa mengendalikan ritme eskalasi, bukan siapa yang memiliki lebih banyak alat di atas kertas,” ujarnya.
Singleton menambahkan, meskipun AS punya kapasitas lebih besar untuk mengenakan tarif, China memiliki toleransi lebih tinggi terhadap ”rasa sakit”. Sejauh ini China telah menunjukkan kekuatannya dalam daya beli kedelai, memonopoli sebagian besar pemrosesan logam tanah jarang, dan punya perangkat untuk membalas AS dengan cara yang sama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/24/484c7869808eb793ef428c44cfb72488-wires_photo_26_.jpg)
Jonathan Czin, mantan Direktur China di Dewan Keamanan Nasional AS, mengatakan, AS boleh punya teknologi tercanggih dalam cip komputasi, mesin jet, dan dollar yang kuat. Namun, China sedang menyerang melalui aturan baru ekspor logam tanah jarang sebagai upaya ”menetapkan ketentuan dalam dinamika hubungan bilateral”.
”Pemimpin China bisa melakukan ini kemungkinan besar karena ia telah melihat upaya pemerintahan Trump untuk ’menenangkan’ Beijing dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Czin, yang kini peneliti di John L Thorton China Center di Brookings Institution. ”Saya pikir (Xi) melihatnya sebagai tanda ia berada di atas angin,” lanjutnya.
Sumber yang dekat dengan isu perdagangan AS kepada kantor berita Associated Press mengungkapkan, Washington tidak terkoordinasi dan terus-menerus terkejut dengan pembalasan China. Sumber yang berbicara dengan syarat anonim itu mengatakan, China merencanakan satu atau dua langkah ke depan. Gambarannya, katanya, China seperti bermain catur, sedangkan AS bermain tic-tac-toe.
Gabriel Wildau, direktur pelaksana perusahaan konsultan Teneo, mengatakan, AS dan China memiliki pengaruh yang dibutuhkan untuk mencapai beberapa versi tujuan mereka meski tidak akan meksimal. ”Jika kesepakatan tercapai, itu terjadi karena setiap pihak mendapatkan setidaknya sebagian dari yang mereka inginkan,” katanya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan