Melawan atlet bintang dalam Kejuaraan Dunia menjadi kesempatan langka bagi beberapa peserta. Salah satunya dialami Thalita yang bertemu An Se-young.
19 Agt 2026 19:04 WIB · Olahraga
HUMAS PP PBSI
Momen langka dan berharga didapat pebulu tangkis muda Indonesia, Thalita Ramadhani Wiryawan. Dalam Kejuaraan Dunia pertamanya, tunggal putri berusia 18 tahun itu berhadapan dengan atlet nomor satu dunia asal Korea Selatan, An Se-young, meski akhirnya kalah.
Pertemuan tersebut terjadi pada babak kedua yang berlangsung di Stadion Indira Gandhi, New Delhi, India, Rabu (19/8/2026). Thalita kalah dengan skor 15-21, 11-21, tetapi dia mendapat pengalaman yang tak akan terlupakan.
”Saya dapat pelajaran berharga setelah melawan An Se-young. Ke depannya, saya harus belajar bermain lebih save (tak membuat banyak kesalahan) dan lebih ulet lagi. Berbagi lapangan dengan dia ada tegangnya, tetapi antusias dan saya berusaha menikmati,” tutur Thalita.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/19/6098afb2964e0eb2971e808346a1d041-India_Badminton_World_Championships_2_.jpeg)
Thalita tertinggal dalam perolehan skor pada hampir sepanjang pertandingan, tetapi pada beberapa momen bisa menyulitkan An. Setidaknya, dua kali Thalita mengecoh juara dunia 2023 dan peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 itu ketika mengembalikan servis. Thalita mengembalikan servis dengan pukulan pelan yang jatuh di dekat net dan gerakan ini tidak diduga An.
Namun, dengan level kemampuan dan pengalaman yang berbeda jauh, An mengontrol permainan. Langkahnya terlihat ringan ketika menjangkau kok ke mana pun diarahkan Thalita. Dia juga selalu jeli melihat area kosong di lapangan lawan.
Thalita baru mulai beranjak dari level yunior pada tahun ini ketika An sudah memiliki 38 gelar juara BWF World Tour. Pada ajang lebih tinggi, An menjadi semifinalis Kejuaraan Dunia 2022 dan 2025 serta menjadi juara pada 2023. Gelar tersebut dilengkapi dengan emas Olimpiade Paris 2024. Atlet berusia 24 tahun itu berada di puncak peringkat dunia sejak Agustus 2023.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/19/22b771a5ae47b569de5e371477746520-India_Badminton_World_Championships_3_.jpeg)
Sementara itu, Thalita baru menjalani turnamen BWF pada level rendah, yaitu BWF International Challenge/Series dan Super 100. Meski demikian, sebagai atlet muda potensial, Thalita diberi kepercayaan memperkuat Indonesia dalam ajang beregu level tinggi, seperti Kejuaraan Asia dan Piala Uber pada 2026.
”Bersyukur banget bisa main di Kejuaraan Dunia, banyak pelajaran yang saya dapatkan dari sisi fisik dan teknik, saya harus lebih matang lagi. Saya juga tidak menyangka tahun ini bisa ikut Piala Uber, Kejuaraan Asia, dan sekarang Kejuaraan Dunia. Pastinya saya bangga dengan diri saya,” katanya.
Debutan lain dari Indonesia di Kejuaraan Dunia, Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata, juga mendapat kesempatan bertemu salah satu ganda campuran top dunia pada babak kedua. Mereka bertemu pasangan ranking ketiga dunia, Mathias Christiansen/Alexandra Boeje (Denmark), bermain tiga gim, tetapi kalah 21-19, 9-21, 10-21. Christiansen/Boeje adalah pasangan yang memiliki 11 gelar juara turnamen BWF, salah satunya dari Indonesia Terbuka yang digelar pada Juni.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/19/10975756c576d8095967eb4ad9841554-India_Badminton_World_Championships.jpeg)
Atlet yang juga merasa beruntung bisa tampil di Kejuaraan Dunia dan melawan juara turnamen BWF adalah tunggal putra Amerika Serikat, Mark Shelley Alcala. Pemain keturunan Filipina ini bangga bisa mewujudkan cita-cita ayahnya yang tak tercapai karena cedera, yaitu bermain di Kejuaraan Dunia.
Atlet berusia 27 tahun ranking ke-80 dunia itu tersingkir pada babak kedua, tetapi bangga karena memiliki kesempatan bertanding melawan juara Indonesia Terbuka, Victor Lai (Kanada). Alcala kalah dari Lai dengan skor 7-21, 14-21. Satu babak sebelumnya, Alcala berhadapan dengan semifinalis Olimpiade Tokyo 2020, Kevin Cordon (Guatemala), dan dia menang 21-17, 21-13.
”Bisa tampil dalam Kejuaraan Dunia sangat berarti bagi saya. Saya mempersiapkan diri sebaik mungkin dan ini menjadi lebih berarti karena ayah saya tak pernah bisa bermain di Kejuaraan Dunia,” kata Alcala dalam laman resmi BWF.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar Alexey