WASHINGTON DC, RABU — Senator Amerika Serikat, Christopher Scott Murphy, mengungkap, pemerintahan Donald Trump tak tahu cara membuka Selat Hormuz. Angkatan Laut menolak mengawal kapal yang mau melayari selat itu.
Murphy menyampaikan itu pada Selasa (10/3/2026) malam waktu Washington DC atau Rabu dini hari WIB. Ia menyampaikan itu selepas mengikuti pengarahan tertutup dari perwakilan pemerintah kepada Kongres AS.
”Di Selat Hormuz, mereka tidak punya rencana. Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang bagaimana Iran menyumbat selat tersebut, tetapi cukup dikatakan, saat ini, mereka (Pemerintah AS) tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman,” tulisnya di media sosial.
Ia juga menyebut, AS tak tahu cara menghentikan total produksi rudal dan pesawat nirawak Iran. Pemerintah hanya menawarkan opsi serangan terus-menerus. Hal itu tak bisa diterima.
Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengumumkan, tak boleh seliter pun minyak keluar melalui Selat Hormuz. Negara-negara sekitar Teluk Persia yang mau mengekspor lewat selat itu harus melakukan satu hal: usir duta besar AS dan Israel.
Lalu, Komando Operasi Tengah (CENTCOM) AS mengumumkan 16 kapal penebar ranjau Iran dihancurkan. Kapal-kapal itu sedang berlabuh kala dihancurkan AS.
Departemen Pertahanan AS sampai sekarang belum mengungkap cara berkelanjutan untuk membuka lagi Selat Hormuz. Pengawalan oleh kapal-kapal AL AS sulit dilakukan.
Simpang siur
Pada Selasa siang, Menteri Energi AS Chris Wright mengumumkan di media sosial bahwa kapal AL AS mulai mengawal tanker di Selat Hormuz. Beberapa saat kemudian, ia menghapus unggahan itu.
Gedung Putih juga membantah ada pengawalan itu. ”Saya bisa mengonfirmasi AL AS tak mengawal tanker atau kapal lain saat ini meski hal itu bisa menjadi pilihan,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Sementara IRGC menyebut, tak ada kapal perang AS yang berani mendekati Selat Hormuz. Sejak sebelum menyerang Iran, AL AS telah mengeluarkan seluruh kapal perang dan pendukung dari Teluk Persia.
Peneliti pada Center for Naval Analyses AS, Jonathan Schroden, menyebut bahwa pengawalan oleh kapal perang AS terlalu berbahaya. Ada risiko terkena ranjau atau diserang dengan rudal dan wahana nirawak laut serta udara.
Pengawalan kapal niaga akan membutuhkan frigat atau kapal perusak. Selain itu perlu pesawat dan helikopter. Berlayar di Selat Hormuz berarti membuat semua aset itu semakin terjangkau aneka perangkat serangan Iran.
Kini, kapal induk dan aneka kapal perang AS berjarak lebih dari 500 kilometer dari pesisir Iran. Sementara itu, lebar Selat Hormuz tak sampai 50 kilometer.
Schroden mengatakan, memang ada peluang pengawalan oleh AL AS menghasilkan efek gentar. Walakin, melihat daya tahan Iran setelah 12 hari diserang AS-Israel, efek gentar itu diragukan bisa hadir. IRGC dan militer reguler Iran, Artesh, malah merasa ada peluang menyerang kapal perang AS.
Sejak AS-Israel menyerang Iran, setidaknya terdapat 17 kapal terkait industri minyak dan gas bumi. Sebagian bermuatan penuh dan siap mengantar pesanan. Sebagian dalam pelayaran menuju pelabuhan untuk memuat minyak.
Schroden membenarkan, AL AS pernah mengawal kapal-kapal sipil melayari Selat Hormuz di tengah perang Irak-Iran 1980-1988. Walakin, kondisi dulu dan kini berbeda. Dulu, walau menolak dan menyanksi pemerintahan hasil Revolusi 1979, AS tak berhadapan dengan Iran.
Selain itu, persenjataan Iran belum seperti sekarang. Kini, Iran pemilik terbesar rudal dan wahana serang nirawak di kawasan. ”Dulu, kemampuan mereka tak seperti sekarang,” kata Schroden.
Peneliti Center for a New American Security, Daniel Schneiderman, menyebut serangan AS-Israel selama hampir dua pekan ini tak melemahkan Iran. ”Ancaman tetap nyata meski kemampuan militer AS amat besar,” katanya.
Pengawalan tanker dan kapal sipil lain, lanjutnya, membawa risiko besar, baik bagi kapal perang AS maupun kapal sipil yang dikawalnya. Belum lagi menimbang jumlah sumber daya yang harus dikerahkan untuk mewujudkan operasi itu.
Sebelum AS-Israel menyerang Iran, rata-rata 138 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini, paling banyak dua kapal dan diduga kuat memuat minyak atau gas tujuan China. (AP/REUTERS)
WASHINGTON DC, RABU — Senator Amerika Serikat, Christopher Scott Murphy, mengungkap, pemerintahan Donald Trump tak tahu cara membuka Selat Hormuz. Angkatan Laut menolak mengawal kapal yang mau melayari selat itu.
Murphy menyampaikan itu pada Selasa (10/3/2026) malam waktu Washington DC atau Rabu dini hari WIB. Ia menyampaikan itu selepas mengikuti pengarahan tertutup dari perwakilan pemerintah kepada Kongres AS.
”Di Selat Hormuz, mereka tidak punya rencana. Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang bagaimana Iran menyumbat selat tersebut, tetapi cukup dikatakan, saat ini, mereka (Pemerintah AS) tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman,” tulisnya di media sosial.
Serial Artikel
Harga Minyak Turun, Krisis Energi Tak Reda
Pergerakan harga yang liar itu justru menunjukkan ketidakpastian masih sangat tinggi.
Ia juga menyebut, AS tak tahu cara menghentikan total produksi rudal dan pesawat nirawak Iran. Pemerintah hanya menawarkan opsi serangan terus-menerus. Hal itu tak bisa diterima.
Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengumumkan, tak boleh seliter pun minyak keluar melalui Selat Hormuz. Negara-negara sekitar Teluk Persia yang mau mengekspor lewat selat itu harus melakukan satu hal: usir duta besar AS dan Israel.
Lalu, Komando Operasi Tengah (CENTCOM) AS mengumumkan 16 kapal penebar ranjau Iran dihancurkan. Kapal-kapal itu sedang berlabuh kala dihancurkan AS.
Departemen Pertahanan AS sampai sekarang belum mengungkap cara berkelanjutan untuk membuka lagi Selat Hormuz. Pengawalan oleh kapal-kapal AL AS sulit dilakukan.
Simpang siur
Pada Selasa siang, Menteri Energi AS Chris Wright mengumumkan di media sosial bahwa kapal AL AS mulai mengawal tanker di Selat Hormuz. Beberapa saat kemudian, ia menghapus unggahan itu.
Gedung Putih juga membantah ada pengawalan itu. ”Saya bisa mengonfirmasi AL AS tak mengawal tanker atau kapal lain saat ini meski hal itu bisa menjadi pilihan,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Sementara IRGC menyebut, tak ada kapal perang AS yang berani mendekati Selat Hormuz. Sejak sebelum menyerang Iran, AL AS telah mengeluarkan seluruh kapal perang dan pendukung dari Teluk Persia.
Serial Artikel
Dari Hormuz ke APBN: Harga Perang bagi Indonesia
Perang sudah berlangsung lebih dari sepekan, dan belum tampak tanda-tanda akan segera berakhir. Apa dampaknya bagi ekonomi dunia dan Indonesia?
Peneliti pada Center for Naval Analyses AS, Jonathan Schroden, menyebut bahwa pengawalan oleh kapal perang AS terlalu berbahaya. Ada risiko terkena ranjau atau diserang dengan rudal dan wahana nirawak laut serta udara.
Pengawalan kapal niaga akan membutuhkan frigat atau kapal perusak. Selain itu perlu pesawat dan helikopter. Berlayar di Selat Hormuz berarti membuat semua aset itu semakin terjangkau aneka perangkat serangan Iran.
Kini, kapal induk dan aneka kapal perang AS berjarak lebih dari 500 kilometer dari pesisir Iran. Sementara itu, lebar Selat Hormuz tak sampai 50 kilometer.
Schroden mengatakan, memang ada peluang pengawalan oleh AL AS menghasilkan efek gentar. Walakin, melihat daya tahan Iran setelah 12 hari diserang AS-Israel, efek gentar itu diragukan bisa hadir. IRGC dan militer reguler Iran, Artesh, malah merasa ada peluang menyerang kapal perang AS.
Sejak AS-Israel menyerang Iran, setidaknya terdapat 17 kapal terkait industri minyak dan gas bumi. Sebagian bermuatan penuh dan siap mengantar pesanan. Sebagian dalam pelayaran menuju pelabuhan untuk memuat minyak.
Schroden membenarkan, AL AS pernah mengawal kapal-kapal sipil melayari Selat Hormuz di tengah perang Irak-Iran 1980-1988. Walakin, kondisi dulu dan kini berbeda. Dulu, walau menolak dan menyanksi pemerintahan hasil Revolusi 1979, AS tak berhadapan dengan Iran.
Selain itu, persenjataan Iran belum seperti sekarang. Kini, Iran pemilik terbesar rudal dan wahana serang nirawak di kawasan. ”Dulu, kemampuan mereka tak seperti sekarang,” kata Schroden.
Serial Artikel
Pilihan Sulit Trump: Turunkan Harga Minyak atau Korbankan AL AS
Pejabat AS sadar Selat Hormuz adalah ”perairan kematian” yang dikendalikan Iran. Mengirim kapal perang mendekati selat itu amat berbahaya.
Peneliti Center for a New American Security, Daniel Schneiderman, menyebut serangan AS-Israel selama hampir dua pekan ini tak melemahkan Iran. ”Ancaman tetap nyata meski kemampuan militer AS amat besar,” katanya.
Pengawalan tanker dan kapal sipil lain, lanjutnya, membawa risiko besar, baik bagi kapal perang AS maupun kapal sipil yang dikawalnya. Belum lagi menimbang jumlah sumber daya yang harus dikerahkan untuk mewujudkan operasi itu.
Sebelum AS-Israel menyerang Iran, rata-rata 138 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini, paling banyak dua kapal dan diduga kuat memuat minyak atau gas tujuan China. (AP/REUTERS)