Pertambangan nikel di Torobulu, Konawe Selatan, mengubah potensi wilayah. Kerusakan lingkungan membuat ikan di laut dan tambak hengkang.
14 Nov 2024 19:35 WIB · Lingkungan
Di atas perahu selebar satu meter, Basri (40) menarik pukat yang dipasang sejak subuh. Lebih dari sepuluh tarikan, tidak jua ada ikan yang ditangkap. Seperti masyarakat lainnya, baik nelayan maupun petani, ia merasakan dampak kian rusaknya lingkungan akibat pertambangan nikel di Torobulu dan wilayah pesisir Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
Pukat sepanjang 800 meter milik Basri hampir selesai ditarik. Namun, di lambung kapalnya hanya ada tidak lebih dari 40 ikan seukuran dua ruas jari. Lima ekor ikan putih seukuran jari orang dewasa begitu mencolok di antara ikan lainnya.
Semakin mendekat ke tepian, ikan yang tertangkap hampir tak ada lagi. Di belakangnya, pelabuhan tambang yang menjorok ratusan meter ke laut membentang. Air laut keruh dan kuning. Jaring miliknya juga kuning.
”Kalau hujan, lautnya kayak minuman coklat itu,” kata warga Torobulu itu, Rabu (16/10/2024). Matahari yang baru beranjak menerpa wajahnya yang penuh guratan diterpa angin laut dan gelombang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/a0daecc8-0f05-4ae1-8cf1-e027b6eda552_jpeg.jpg)
Basri mulai melaut sejak masih sekolah dasar. Ia rutin memancing, menjala ikan, atau memasang pukat. Hingga saat ini, beraktivitas di laut adalah kegiatan utamanya. Ia tidak tahu mencari penghidupan di tempat lain.
Sekali melaut, ikan 5 kilogram mudah didapatkan. Ia bisa menghasilkan Rp 300.000 per hari. Ikan putih hingga ikan karang berkembang dengan baik. Menjadi nelayan bisa menghidupi keluarga dan membesarkan anak semata wayangnya.
Hingga berkisar tiga tahun terakhir, mencari ikan di pesisir kampung sangatlah sulit. Ikan berkurang drastis. Penghasilan kian seret. Laut berubah dan berbalik arah tidak memihak nelayan. Air laut keruh dan coklat.
Sejak saat itu, penghasilan berkurang drastis. Sekali melaut, ikan yang terjaring kian sedikit. Hasil melaut bahkan sering tidak menutupi biaya untuk melaut. ”Kemarin terakhir turun dapat 2 kilogram yang dijual Rp 50.000. Sementara turun untuk beli bahan bakar itu sudah Rp 50.000,” ucapnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/de6f5f96-d02c-4b59-96bd-6bd8549860a9_jpeg.jpg)
Sejak turunnya hasil tangkapan, ia dan sejumlah nelayan di wilayah Desa Torobulu akhirnya memutuskan melaut lebih jauh. Mereka berlayar menggunakan perahu selama empat jam perjalanan menuju kawasan Buton. Di situ, mereka menginap di pulau dengan tempat seadanya untuk mencari ikan.
Sekali berangkat, Basri biasanya menghabiskan waktu sepekan. Ia telah menyiapkan bahan bakar sekitar 30 liter dan berbagai kebutuhan. Tidak lebih ia menyiapkan modal sebesar Rp 500.000. Hasil tangkapannya bisa mencapai Rp 2 juta sepekan.
Di salah satu sudut di perkampungan nelayan Torobulu, Sarwin (34) menurunkan jaring dari teras rumahnya. Nelayan ini lalu mengambil tali untuk dibuat menjadi jaring baru. ”Kalau menjaring di rumah hanya hiburan. Tangkap untuk yang bisa dimakan dan kalau waktu kosong,” katanya.
Sarwin, seperti warga pesisir lainnya, adalah nelayan yang rutin mencari ikan di pesisir. Namun, kondisi perairan yang berubah, utamanya setelah pertambangan nikel semakin masif, hasil tangkapannya turun drastis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/3b1ccf7e-db63-4b09-9458-d642ba4992a6_jpeg.jpg)
Bahkan, ia selalu rugi. Modal membeli bahan bakar dan keperluan melaut acap kali tidak tertutupi dengan hasil tangkapan. Setelah berkali-kali rugi melaut, ia tidak tahan. Ayah tiga anak ini memutuskan untuk menjadi seorang awak kapal untuk melaut lebih jauh.
Saat ini, ia melaut hingga ke Pulau Buru, Maluku. Sekali melaut, ia bisa menghabiskan waktu sekitar dua pekan untuk mencari ikan cakalang. Setiap pulang, ia bisa mengantongi Rp 2 juta. Nilai ini di luar dari hasil tangkapan pribadi yang bisa jauh lebih tinggi.
Kondisi ini, tambah Sarwin, mau tidak mau ia jalani. Mencari ikan adalah keahlian utamanya. Ia tidak memiliki kemampuan lain dan modal berlebih. Dua anaknya pun telah ikut melaut dan tidak menyelesaikan sekolah.
”Dulu di depan kami ini bukit semua. Sekarang sudah terbuka. Tentu kami khawatir untuk kehidupan anak-anak mendatang. Kalau sekarang belum begitu terasa,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/3703753c-3d8e-4d67-8af5-a77558d7784e_jpeg.jpg)
Wilayah Torobulu terletak di pesisir Laeya, Konawe Selatan. Selama puluhan tahun, wilayah ini terkenal dengan hasil laut yang melimpah. Warga lokal ataupun pendatang menggantungkan penghidupan dari laut. Kondisi berubah ketika pertambangan nikel masuk di wilayah ini.
Harjun Hamzah (43) telah karib dengan laut sejak remaja. Ia lalu ikut mengurus kapal milik orangtuanya yang rutin dipakai nelayan untuk melaut di pesisir kampung. Setiap bulan, ia bisa mengantongi hingga Rp 30 juta dari hasil penjualan tangkapan.
”Orang bilang daerah ini kawasan dollar karena banyak uang. Hingga akhirnya tambang masuk di 2007 dan semakin masif di 2017 sampai sekarang,” tuturnya.
Seiring berkurangnya hasil tangkapan, ia terpaksa pasrah pada keadaan. Satu per satu kapal dijual. Pada 2020, ia memutuskan untuk mengelola tambak milik keluarga. Ia berencana untuk mengembangkan udang.
Akan tetapi, usaha itu tidak jua mendatangkan untung. Sebanyak 50.000 bibit yang disebar gagal panen. Ia rugi sekitar Rp 30 juta. Situasi itu ditengarai akibat rusaknya air dan kian dekatnya lokasi perusahaan menambang nikel.
Orang bilang daerah ini kawasan dollar karena banyak uang. Hingga akhirnya tambang masuk di 2007 dan semakin masif di 2017 sampai sekarang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/31932a1b-403e-46c8-ba82-a52fbad7d197_jpeg.jpg)
Tambak milik Harjun memang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi penambangan aktif perusahaan. Suara alat berat yang beradu terdengar jelas, hanya terhalang bakau yang tersisa di beberapa bagian.
”Di tambak milik warga bahkan mereka menambang. Di sini bekasnya,” katanya menunjukkan tambak seukuran setengah hektar. Tepian tambak terlihat telah diuruk.
Kepala Desa Torobulu Nilham mengungkapkan, wilayah Torobulu memang memiliki sejumlah potensi dan kekayaan alam. Utamanya, terkait kelautan dan perikanan yang menjadi tumpuan penghidupan masyarakat. Sekitar 40 persen dari total 900 keluarga di wilayah ini menggantungkan hidup dari perikanan. Di satu sisi, di wilayah ini ada lokasi penambangan nikel milik PT Wijaya Inti Nusantara (WIN).
Terkait berubahnya kondisi perairan, ia tidak menampik bahwa hal tersebut ada andil dari pertambangan nikel yang beroperasi di wilayah ini selama beberapa tahun terakhir. Namun, dampak tersebut juga bisa disumbang oleh hal lain.
Meski begitu, ia menitikberatkan pada peningkatan ekonomi masyarakat setelah masuknya pertambangan. Ratusan warga masuk sebagai pekerja tambang dan ekonomi desa yang berputar cepat. Warga memiliki pendapatan lebih dari biasanya. Meski begitu, terkait ukuran perkembangan ekonomi, ia mengaku hanya melihat kondisi umum tanpa adanya ukuran atau riset tertentu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/cf4f726d-867a-4da4-b111-afc27ffdcc36_jpeg.jpg)
Terkait kondisi lingkungan yang berubah, ia memang melihat kondisi laut yang keruh dan sulitnya nelayan mencari ikan. Hal yang sama juga terjadi di pertanian dan perkebunan meski tidak menjadi mata pencaharian utama warga.
”Tentu ada dampaknya, tapi ekonomi juga berkembang. Sekarang yang perlu dikhawatirkan, ketika suatu saat tambang habis, warga mau mencari apa. Itu yang perlu dipersiapkan, apakah misalnya menjadi wirausaha, atau usaha kecil menengah,” katanya. Ia mengaku belum pernah melihat analisis mengenai dampak lingkungan perusahaan yang menambang di wilayahnya.
Kasman Ruddin dari Humas PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) yang dihubungi berulang kali tidak memberikan jawaban hingga Rabu (13/11/2024). Pertanyaan yang dikirimkan melalui pesan juga tidak dibalas.
Project Manager PT WIN M Nuriman Djalani yang dihubungi juga tidak berkomentar banyak terkait permintaan wawancara. Ia beralasan sedang ada kegiatan dan akan menghubungi kembali. Meski demikian, daftar pertanyaan yang dikirimkan tidak kunjung dijawab hingga Kamis (14/11/2024) petang.
Kini, kehidupan nelayan di Torobulu serasa sendu. Mereka hanya bisa pasrah saat penghasilan dari menangkap ikan tak lagi bisa diandalkan akibat rusaknya lingkungan. Entah kepada siapa warga di Torobulu mesti mengadu.
Penulis:
Saiful Rijal YunusEditor:
C. Wahyu Haryo P