Kasus ini harus dibuka secara terang benderang karena masyarakat menanti komitmen Polri dan TNI.
18 Mar 2025 20:26 WIB · Nusantara
Meninggalnya tiga anggota kepolisian saat menggerebek arena sabung ayam di Kampung Karang Manik, Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan, Lampung, pada Senin (17/3/2025) menyisakan duka mendalam baik bagi keluarga maupun Polri. Tewasnya tiga prajurit Bhayangkara saat menjalankan tugas menjadi gambaran betapa bahaya jika oknum bersenjata membekingi perjudian.
Mobil ambulans yang membawa tiga jenazah tiba di RS Bhayangkara Polda Lampung di Bandar Lampung, Selasa pukul 02.00 WIB. Petugas dari tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Lampung langsung membawa jenazah menuju kamar jenazah untuk diotopsi.
Proses otopsi berlangsung selama 10 jam, dimulai dari Selasa pukul 02.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Otopsi dilakukan secara maraton oleh dua dokter forensik.
Isak tangis istri dan keluarga besar Ajun Komisaris Anumerta Lusiyanto pun pecah saat mereka menunggu proses otopsi di instalasi forensik rumah sakit tersebut. Kepergian Lusiyanto yang begitu mendadak menjadi kepedihan bagi keluarganya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/e82e822d80557eaa2888e90038e597bb-DSC00589.JPG)
Lusiyanto (53) adalah Kepala Polsek Negara Batin yang menjadi korban penembakan saat penggerebekan terjadi. Selain Lusiyanto, anggota Polsek Negara Batin, Aipda Anumerta Petrus Apriyanto (40), dan anggota Satuan Reserse Kriminal Polres Way Kanan, Briptu Anumerta Ghalib Surya Ganta (23), juga menjadi korban.
Dasni (71), bibi almarhum, berkisah, Lusiyanto adalah bungsu dari 12 bersaudara. Ia adalah satu-satunya anak di keluarga yang berkarier sebagai polisi. Kakak dan adik Lusiyanto kebanyakan bekerja sebagai guru.
Selama ini, almarhum dikenal sebagai sosok yang baik dan pekerja keras. Selama bulan Ramadhan, Lusiyanto kerap mengajak anak buahnya berbagi takjil untuk warga.
Saat dia dilantik, keluarga sudah mendapat wejangan bahwa Lusiyanto ini bukan sepenuhnya milik keluarga karena sudah mengabdi pada negara.
Sehari sebelum insiden penembakan terjadi, Lusiyanto sebenarnya baru pulang menengok kakaknya di Sumatera Selatan. Sore itu, selepas pulang berdinas, Lusiyanto diminta sang istri untuk beristirahat di rumah agar tidak kelelahan.
Namun, Lusiyanto tetap ingin mendampingi anak buahnya melakukan penggerebekan judi sabung ayam. Ia pun berangkat dari rumah dengan mengendarai mobil. Keluarga tak pernah mengira bahwa hari itu adalah Senin terakhir Lusiyanto menjalankan tugas sebagai anggota kepolisian.
Selama ini, keluarga besar memaklumi jika Lusiyanto jarang bisa berkumpul dengan keluarga saat hari raya karena kesibukannya bekerja sebagai polisi. ”Saat dia dilantik, keluarga sudah mendapat wejangan bahwa Lusiyanto ini bukan sepenuhnya milik keluarga karena sudah mengabdi pada negara. Kalau kali ini dia enggak pulang, kami sudah ikhlas,” kata Dasni kepada Kompas.
Sementara itu, Sarkosa (41), kakak sepupu Petrus, mengatakan, Petrus selama ini dikenal sebagai sosok yang cenderung pendiam dan tangguh. Selama ini, ia jarang mengeluh ataupun bercerita tentang kesulitan hidup.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/d528dfbc15d55dd44da605c8649fb578-DSC00620.JPG)
Ia bercerita, Petrus sebenarnya berencana mudik ke kampung halamannya di Sumatera Selatan pada saat libur Idul Fitri tahun ini. Naas, keinginan mudik ke kampung halaman bersama istri dan anaknya yang berusia enam bulan pupus. Keluarga besar malah mengantarkannya pulang ke kampung halaman untuk dimakamkan.
Sarkosa berharap kasus yang menewaskan tiga polisi ini bisa diungkap secara tuntas dan transparan agar tidak menimbulkan pertanyaan di benak keluarga. Siapa pun pelakunya harus ditindak tegas.
”Keluarga kami banyak yang jadi polisi, banyak juga yang jadi anggota TNI. Semuanya tentu sama-sama mengabdi pada negara,” katanya.
Sementara penyelidikan kasus masih bergulir. Hasil otopsi ketiga jenazah menunjukkan, ditemukan lubang bekas tembakan senjata api di bagian kepala dan dada yang menyebabkan ketiga polisi itu meninggal. Pada jasad Lusiyanto ditemukan lubang bekas peluru yang meluncur dari arah depan pada dada bagian kanan. Dari hasil otopsi, proyektil peluru itu ditemukan menembus hingga ke rongga dada sebelah kiri.
Sementara pada jasad Petrus ditemukan lubang bekas peluru dari arah depan persis di sebelah mata kirinya. Saat dilakukan otopsi, proyektil peluru ditemukan di bagian tempurung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/f2ea3dc895bfb6f5a072000dab810652-DSC00640.JPG)
Adapun pada jasad Ghalib terdapat lubang bekas peluru pada sisi kiri bibir hingga menembus rongga mulut. Saat dilakukan otopsi, proyektil peluru berada di tempurung kepala belakang dan di tenggorokan.
”Ketiga hal tersebut yang menyebabkan kematian dari anggota terbaik kami yang gugur saat melaksanakan tugas,” kata Vice Commander DVI Polda Lampung Ajun Komisaris Besar Legowo saat memaparkan hasil otopsi di RS Bhayangkara Polda Lampung, Selasa siang.
Suara Legowo tercekat dan matanya berkaca-kaca ketika menyampaikan hasil otopsi. Ia sedih dengan insiden yang menewaskan tiga polisi itu.
Kepala Bidang Humas Polda Lampung Komisaris Besar Yuni Iswandari Yuyun menyampaikan duka mendalam atas gugurnya tiga personel Polres Way Kanan saat sedang menjalankan tugas. ”Polri berduka mendalam atas gugurnya tiga personel terbaik saat menjalani tugas sebagai abdi masyarakat,” kata Yuni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/7bfb04e19f09f6e64cf152c6c897332f-DSC00543.JPG)
Yuni mengatakan, Kapolri memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ketiga anggota itu dengan menaikkan pangkat ketiganya. Inspektur Satu Lusiyanto memperoleh kenaikan pangkat menjadi ajun komisaris anumerta, Brigadir Kepala Petrus Apriyanto menjadi aipda anumerta, dan Brigadir Dua Ghalib Surya Ganta menjadi briptu anumerta.
Rekan-rekan sesama polisi di Polda Jawa Barat juga melaksanakan shalat Gaib untuk mendoakan ketiga personel yang telah gugur dalam tugas.
Shalat Gaib dilaksanakan di Masjid Al-Aman Polda Jabar, sedangkan untuk polres jajaran dilaksanakan di wilayah masing-masing.
Kepala Polda Jabar Inspektur Jenderal Akhmad Wiyagus seusai shalat menyampaikan turut berbelasungkawa mendalam atas berpulangnya personel-personel terbaik yang telah mengabdikan diri kepada masyarakat sampai akhir hayat itu.
Seusai otopsi, ketiga jenazah dilepas secara kedinasan dan langsung diantar ke rumah duka. Lusiyanto dan Petrus dimakamkan di Sumsel, sementara Ghalib dimakamkan di Bandar Lampung.
Terkait kasus ini, Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Helmy Santika berkomitmen bakal mengusut kasus itu hingga tuntas dan transparan. Saat ini, tim dari Badan Reserse Polri dan Pomdam Sriwijaya telah bergabung untuk melakukan investigasi gabungan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/a5a254bca1b3489861ce15a312388b54-WhatsApp_Image_2025_03_18_at_1.04.47_PM.jpeg)
Helmy datang bersama Komandan Korem 043/Garuda Hitam Brigadir Rikas Hidayatullah. Mereka langsung bertolak kembali ke Way Kanan untuk melanjutkan olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan.
Secara terpisah, Kapendam II/Sriwijaya Kolonel Inf Eko Syah Putra Siregar ditemui di Markas Kodam II Sriwijaya, Palembang, mengatakan, dua anggota TNI yang diduga berada di lokasi saat kejadian sudah menyerahkan diri pada Senin malam.
Dua anggota TNI itu adalah Kopka Basar dan Peltu Lubis. Mereka adalah anggota Pos Ramil Negara Batin yang berada di wilayah Kodim Way Kanan. Saat ini, tim gabungan sedang melakukan investigasi mengenai dugaan keterlibatan kedua anggota TNI dalam kasus tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/962a6f4c09786050d6585348ec685dbd-20250318_020211.jpg)
Terkait kasus ini, dosen Hukum Pidana Universitas Lampung, Heni Siswanto berpendapat, publik menantikan hasil penyelidikan kasus ini. Apalagi, sudah banyak video yang beredar di media sosial dan menyebutkan dugaan keterlibatan anggota TNI.
Ia menilai, kasus ini menjadi gambaran betapa bahaya jika ada oknum bersenjata yang terlibat dalam tindak kriminalitas perjudian. ”Kondisi yang ada di lapangan, mereka berani melawan penegak hukum. Para pelaku juga menembak kepala, yang berarti memang untuk mematikan orang yang ditembak,” katanya.
Heni mendorong penyidik mendalami asal dan jenis senjata api yang digunakan pelaku. Kasus ini harus dibuka secara terang benderang. Masyarakat menanti komitmen Polri dan TNI dalam mengungkap tragedi sabung ayam yang menghilangkan nyawa tiga polisi itu.
Penulis:
Vina Oktavia, Adrian Fajriansyah, Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti