Industri karet kini tak hanya lesu, tetapi terancam eksistensinya. Para pengusaha berharap pemerintah menyelamatkan industri yang menghidupi 10 juta orang tersebut.
09 Jul 2025 17:22 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS – Industri karet nasional perlu mendapatkan perhatian lebih. Di tengah menurunnya produksi karena berbagai faktor, Dewan Karet Indonesia menyurati Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan aspirasi mereka terhadap rencana kebijakan pemerintah.
Surat tersebut dibuat dan dikirim pada Kamis (3/7/2025) lalu dengan perihal permohonan penyelamatan dan pengembangan komoditas karet di Indonesia. Sayangnya, hingga kini surat tersebut belum direspons. Sekretaris Jenderal Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Uhendi mengungkapkan, sampai pada Rabu (9/7/2025) belum ada informasi terkait respons surat tersebut.
Surat dibuat Dekarindo untuk menanggapi situasi perkebunan karet nasional dan juga kebijakan pemerintah terhadap industri ini. Jika melihat data Analisis Kinerja Perdagangan Karet 2023 dari Kementerian Pertanian, produksi karet Indonesia pada 2023 diperkirakan sebanyak 3,19 juta ton atau naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 3,14 juta ton.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/11/26/f170c728-2f9a-4f63-b573-0ba9a1a873d7.jpg)
Jumlah itu kemudian turun pada 2024. Produksi karet nasional hanya 2,26 juta ton dengan volume ekspor 1,66 juta ton. Dari total itu, devisa negara yang dihasilkan mencapai 3,01 miliar dollar AS atau sekitar Rp 49 triliun (dengan kurs Rp 16.259 per dollar AS pada Rabu, 9/7/2025). Komoditas karet pun menempati posisi kedua untuk sumbangan devisa negara di sektor perkebunan setelah perkebunan kelapa sawit.
Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) A Aziz Pane menjelaskan, di tengah situasi itu ada rencana pemerintah untuk mengonversi perkebunan karet menjadi perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, rencana itu begitu melukai batin masyarakat yang hidup dari industri karet.
Aziz dalam pernyataan tertulisnya mengungkapkan, komoditas karet masih memiliki peran besar dalam pertumbuhan ekonomi negara, termasuk juga sumber devisa. Perkebunan karet dengan luas 3,15 juta hektar dikelola oleh lebih dari 2,1 juta keluarga petani dan menjadi sumber kehidupan 10 juta orang, termasuk pedagang, jasa angkutan, hingga karyawan di unit pengelolaan dari tingkat desa hingga perkotaan.
”Karet dihasilkan dari 10 provinsi sentra utama di Indonesia yang pengusahaannya 92 persen oleh petani kecil. Hal itu jadi pertimbangan karet harus dipertahankan eksistensinya dan terus dikembangkan, untuk memenuhi kebutuhan untuk ekspor maupun keperluan domestik,” kata Aziz.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/11/25/bb4bf77a-0746-4433-8607-dd7d6d362258_jpg.jpg)
Menurut Aziz, kinerja komoditas karet Indonesia pada 2025 menunjukkan peningkatan. Pada semester I-2025, volume ekspor karet meningkat lebih dari 12 persen dan nilai ekspor meningkat lebih dari 47 persen dari periode yang sama tahun lalu. Apalagi, Indonesia merupakan negara penghasil karet terbesar nomor dua setelah Thailand.
”Indonesia bergabung dengan negara produsen karet dunia lainnya dalam Forum International Tripartite Rubber Council (ITRC) dan Association Natural Rubber Producing Countries (ANRPC) yang salah satunya bertujuan meningkatkan produksi dan kualitas karet alam di negara anggota, serta menjaga stabilitas harga karet di pasar global,” ucap Aziz.
Dengan berkembangnya tanaman karet, kata Aziz, secara langsung akan meningkatkan produksi karet nasional. Industri hilir berbasis karet di dalam negeri akan berkembang dengan cepat. Berbagai pihak akan mendapatkan manfaat dengan berkembangnya produksi karet, yaitu devisa negara, ekonomi regional, serta kesejahteraan rakyat khususnya petani karet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/11/26/b3aa4d77-452a-439a-9cee-ff173685aa76_jpg.jpg)
Di Kalimantan Tengah, setidaknya 10 tahun terakhir harga getah karet tak pernah membaik. Sebagian petani karet pun beralih ke kelapa sawit atau komoditas lainnya.
Seperti yang dilakukan, Harpandi (59), warga Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Dirinya sudah dua kali mengganti kebun karet miliknya yang seluas 2 hektar. Pada 2019, ia mengganti karet menjadi pohon sengon. Apalagi saat itu ada program pemerintah yang mewajibkan masyarakat menanam sengon. Hanya berselang dua tahun, ia kemudian mengganti lagi tanaman sengon menjadi sawit lantaran sengonnya tak laku dijual.
Transmigran asal Purworejo itu kini nyaman dengan kebun sawit, apalagi harganya jauh lebih tinggi dibanding harga karet. ”Harga karet itu jatuh terus, dulu itu pernah hanya Rp 4.000 per kilogram (kg). Padahal saat bagusnya harganya bisa Rp 12.000 per kg. Itu, kan, jauh banget,” ungkapnya saat dihubungi pada Rabu siang.
Banyaknya petani yang beralih komoditas itu berdampak buruk pada industri. Di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, dari 17 perusahaan yang tergabung pada Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), setidaknya ada tiga perusahaan yang sudah tutup buku, tiga perusahaan lagi sudah tidak beroperasi, namun belum mendeklarasi penutupan. Belum diketahui berapa banyak orang yang dihentikan dari pekerjaannya karena penutupan itu.
Penulis:
Dionisius Reynaldo TriwibowoEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase