Di ”Tanah Mataram”, sepak bola putri mekar sejak setengah abad lalu. Olahraga ini bertahan melintasi zaman.
27 Okt 2024 13:19 WIB · Olahraga
Oleh Rebiyyah Salasah - [email protected]
Sepak bola putri di Indonesia selalu berkaitan erat dengan Yogyakarta dan Surakarta. Di ”Tanah Mataram,” sepak bola putri bukan sekadar olahraga. Sepak bola putri adalah jejak zaman, mengakar sejak lebih dari lima dekade lalu dan bertahan hingga saat ini.
Dari Stadion Tridadi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (26/10/2024) sore, kehadiran sepak bola putri di Tanah Mataram itu kian terasa. Penonton di tribune menyorakkan semangat dan dukungan, sedangkan siswi-siswi sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di lapangan bertarung demi kemenangan.
Di salah satu lapangan, Ayla Dva Khala Ahisma (12) bersujud untuk menunjukkan rasa syukur selepas wasit meniup peluit panjang. Dengan delapan gol yang tercipta dari kakinya, Ayla mengantarkan SDN Nanggulan memenangi laga berformat tujuh versus tujuh melawan SDN Graulan, Kulon Progo.
Kemenangan 8-3 membawa SDN Nanggulan melaju ke perempat final turnamen sepak bola putri MilkLife Soccer Challenge seri kedua Yogyakarta. Langkah ini membanggakan bagi SDN Nanggulan yang baru pertama ikut turnamen kelompok umur 12 tahun (U-12) dan U-10 ini.
”Seri pertama enggak ikut karena belum ada timnya. Sama bapak guru di sekolah, aku ikut cari pemain, ajak teman-teman. Awalnya banyak yang enggak mau karena takut kena bola, lama-lama ada yang mau ikut sampai bisa turnamen,” ucap Ayla menceritakan pengalamannya membentuk tim.
Ayla belum pernah mencicipi turnamen sepak bola putri sebelumnya. MilkLife Soccer Challenge adalah turnamen sepak bola putri perdana yang diikuti siswi kelas 5 SD ini.
Namun, Ayla telah berlatih di sekolah sepak bola (SSB) Matra Sleman yang didominasi pemain putra selama setahun terakhir. Bersama SSB itu, Ayla juga mendapatkan pengalaman bertanding sepak bola, terutama melawan tim-tim yang dihuni pemain putra.
Pengalaman itu membuat kemampuan Ayla menonjol di antara rekan setimnya. Kendati langkahnya kemudian terhenti pada babak semifinal, Ayla mampu mencatatkan pencapaian individu gemilang dengan menjadi calon pencetak gol terbanyak. Dia memimpin daftar top scorer sementara dengan torehan 42 gol.
Sehari setelah laga yang mempertontonkan aksi Ayla, Minggu (27/10/2024), pemain putri lain berlatih sepak bola di Lapangan Nogotirto, Sleman. Sekitar 25 pemain dengan rentang usia 10 tahun sampai 23 tahun ini tergabung dalam klub Putri Mataram.
Lebih dari 50 tahun lalu, lewat Putri Mataram, sepak bola putri di Yogyakarta lahir dan berkembang. Putri Mataram sudah terbentuk sejak 1971. Menurut catatan Kompas, pada tahun itu juga Putri Mataram mulai bertanding dengan klub-klub sepak bola putri dari kota lain.
Pada 27 Februari sampai 1 Maret 1971, Putri Mataram mengikuti trofeo sepak bola putri yang diselenggarakan Badan Koordinasi dan Pengawasan Kegiatan Sosial di Stadion Menteng, Jakarta Pusat. Dalam ajang yang bekerja sama dengan Indonesia Artist Impressario dalam usaha mengumpulkan dana sosial tersebut, Putri Mataram bertanding melawan Putri Priangan Bandung dan Putri Jaya Jakarta.
Putri Mataram juga merupakan satu dari total sembilan tim yang mengikuti turnamen Invitasi Liga Sepak Bola Wanita. Turnamen ini juga dikenal sebagai Galanita edisi pertama yang digelar PSSI pada 20-31 Oktober 1982.
Turnamen yang memperebutkan Piala Ibu Tien Soharto ini diikuti sembilan tim yang terbagi dalam tiga grup. Putri Mataram tergabung ke dalam Grup B bersama Putri Priangan Bandung dan Putri Cendrawasih Papua.
Di Grup A ada Buana Putri Jakarta, Angin Mamiri Makassar, dan Putri Mojolaban Sukoharjo. Sementara itu, Grup C terdiri dari Putri Pagilaran Pekalongan, Putri Jaya Jakarta, dan Putri Setia Surabaya.
Di antara sembilan klub itu, hanya Putri Mataram yang masih ada sampai saat ini. Klub ini ialah cerminan lain bahwa sepak bola putri di Yogyakarta mampu bertahan hingga melintasi zaman.
”Pemain-pemainnya silih berganti, zaman juga berubah, tapi Putri Mataram tetap bertahan karena cinta. Kecintaan yang besar itu menjaga Putri Mataram tetap hidup sampai sekarang,” kata Sri Hastuti, pelatih yang juga mantan pemain Putri Mataram era 1980 sampai 2000-an.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/17/7d2a01bb-ef0b-4d18-a339-086dc33fdb92_png.png)
Menurut Sri Hastuti, selalu ada wajah-wajah baru yang muncul untuk bergabung dengan Putri Mataram. Itu termasuk para pemain belia yang masih duduk di bangku SD.
Sebagian besar pemain Putri Mataram pun, tutur Sri Hastuti, selalu mengawali perjalanannya di klub itu sejak usia belia. Itut, panggilannya, percaya, talenta sepak bola putri di Yogyakarta tak pernah habis.
Saat ini, Putri Mataram bukan satu-satunya klub sepak bola putri yang berdiri di Yogyakarta. Ada juga Putri Binangun, Srikandi Mataram, dan PS Mandala Putri. Selain itu, pernah ada Putri Bantul pada tahun 2000-an.
Anggar Kaswati, mantan pemain Putri Mataram yang menjadi salah satu pendiri Putri Bantul, mengatakan, tim-tim yang tumbuh subur itu menunjukkan bahwa sepak bola putri di Yogyakarta tidak pernah mati. Selain talenta yang terus muncul, ada pula orang-orang yang masih mau meluangkan waktu untuk melatih ataupun mengelola tim.
”Dan, semuanya punya konsep yang nyaris sama, yakni bukan berbentuk SSB yang berbayar. Sebagian besar swakelola, mulai dari administrasi hingga pembiayaan. Pemain tidak dipungut biaya, paling hanya membantu patungan lapangan,” tutur Anggar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/27/988412a18f9393cc5afc69d176587822-BW_19711008_IB_21_SUC012.JPG)
Pasang Budy All Shodiq, penulis buku Wanita dalam Sejarah Sepak Bola Indonesia 1969-1998, mengatakan, sepak bola putri yang masih bersemi di Tanah Mataram juga tak lepas dari sejarah panjang kedua entitas ini. Tanah Mataram yang terdiri dari wilayah Yogyakarta, Solo Raya, dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah setidaknya pernah memiliki tim sepak bola putri tahun 1970 sampai 1990-an.
Putri Mataram yang lahir di Yogyakarta menjadi pelopornya. Setelah Putri Mataram, bermunculan klub-klub lain di Yogyakarta, seperti Putri Mlati dan Putri Madukismo. Bersamaan dengan Putri Mataram, ada pula Putri Mojolaban di Sukoharjo dan Putri Pagilaran di Pekalongan.
”Ketokohan seseorang juga menjadi faktor yang turut memperkuat eksistensi sepak bola putri di Mataram. Di Yogyakarta, misalnya, ada dukungan dari Gusti Kanjeng Ratu Hemas (istri Sultan Hamengkubowono X) kepada Putri Mataram. Apalagi, saat itu stigma terhadap perempuan bermain bola masih cukup kental,” ucap Pasang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/27/fc4d0e26-16e7-4587-9e6e-e81b8766ed4a_png.png)
Kemunculan tim sepak bola putri di Tanah Mataram juga dipengaruhi ketertarikan pada olahraga yang ada jauh lebih lama. Menurut Pasang, olahraga telah populer di daerah-daerah itu sejak masa pendudukan Belanda.
”Di sekolah-sekolah bentukan Belanda, ada yang namanya class meeting. Ada waktu di mana tidak ada mata pelajaran, tapi adanya waktu untuk berkompetisi olahraga. Nah, dari situ berkembang olahraga di kalangan pemuda, kalangan putra-putri di sana,” tutur Pasang.
Pekan lalu, sepak bola putri juga terasa kehadirannya di Surakarta lewat anak-anak, seperti Ayla yang berlaga di lapangan. Sebanyak 830 siswi dari 76 SD dan MI se-Solo Raya bertanding dalam MilkLife Soccer Challenge seri kedua Surakarta.
Kaki-kaki mungil yang mengolah si kulit bulat itu menjadi bukti, sepak bola putri bukan sekadar olahraga di Tanah Mataram. Sepak bola putri adalah warisan yang hidup dari masa ke masa, menembus segala batasan untuk tetap bertahan.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko Prihananto